#16
Pagi Minggu yang berbeda
bagi Sotul. Biasanya di hari Minggu, beliau bebas mau mandi jam berapa saja,
namun hari Minggu pagi kali ini, biarpun baru jam 7 dia sudah terlihat sangat
rapi.
"Gantengnya."
sanjung Tiur.
"Thanks!"
sahut Sotul dingin tak mempan pujian.
"Mau
kemana, Bang?"
"Jalan."
"Jalan
sama Duma?"
"Gak!"
"Jutek
kali?" sungut Tiur.
"Ditolak,
ya, sama dia tadi malam?"
"Iya."
Tiur
memandang wajah bete Sotul, ingin tertawa tapi tak tega.
"Terus
ini mau jalan sama siapa?"
"Peni!"
"Kak
Peni? Kak Peni yang rumahnya dekat rumahnya si Lamhot itu?"
"Yups."
"Jalan
kemana?"
"Ke
depan. Masa ke belakang?"
"Huh!
Singkat kali jawabnya? Kalau marah karena ditolak Duma, keselnya jangan
dilampiaskan ke orang lain!" Tiur merengut protes.
Sotul
berbalik, sesaat memandang Tiur tanpa ekspresi. Tiur balas dengan menjulurkan
lidah.
"Tapi
bukannya Kak Peni gebetannya Bang Putra?" Tiur kembali bertanya.
Sotul
menghirup napas panjang.
"Mau
gimana lagi, beginilah resikonya jadi mahluk tampan. Habis Duma terbitlah Peni.
Baru aja Duma nolak, Peni udah datang ngajak jalan." sahut Sotul sambil
mengacungkan kerah kemejanya.
"Iya,
memang Putra naksir sama Peni udah dari jamannya Andika masih vokalisnya Kangen
Band, tapi kalau Peni naksirnya ke aku, dia bisa apa? Mau gak mau Putra memang
harus merelakan. Bener, gak?"
"Udah
bilang bener aja kalau pengen selamat! Ada hikmahnya juga Duma nolak aku. Aku
jadi bisa dekat sama Peni. Dia jauh lebih baik. Yang kayak Peni gini yang
idamanku banget. Dewasa, anggun, udah gitu cantiknya gak ada obat, mapan pula.
Dia sekarang udah jadi PNS! Kau tau gak PNS itu apa? Pegawai Negeri Sipil. Iya,
itu. Dan sampai saat ini, PNS masih menjadi pekerjaan dambaan bagi banyak orang
dari Sabang sampai balik ke Sabang lagi. Padahal kalau dipikir-pikir lebih
bagus jadi pengusaha, biarpun cuma pengusaha kecil-kecilan. Jadi pengusaha itu
bisa membuka lapangan pekerjaan, sehingga mengurangi orang nganggur yang makin
hari jumlahnya bukan makin berkurang, malah kian banyak. Kadang aku kasihan
ngeliat pengangguran kayak Lamhot gitu, tiap hari kluntang-klantung gak jelas.
Kemarin ngelamar kerja jadi satpam toilet SPBU di si Rapi tapi gak keterima.
Udah gitu beberapa kali ikut bisnis MLM juga bangkrut. Lagian Lamhot juga aneh,
gampang banget percaya sama iming-iming penghasilan ratusan juta, hadiah mobil
mewah, kapal pesiar, tank pribadi. Buktinya sekarang mana? Mana? Boro-boro
kapal pesiar, rakit bambu aja gak dapat-dapat. Coba kau pikir lah, Tiur? Jaman
sekarang ini, kalau..."
"Udah,
Bang. Cukup! Hentikan!" potong Tiur menutup telinga.
"Maumu
apa, sih? Tadi kau bilang jangan
jawab singkat-singkat. Giliran aku udah jawab gak singkat, kau malah tutup
telinga. Aku itu gak bisa diginiin, Tiur. Jangan egois bikin aku serba salah
gitulah. Satu hal yang harus kau tau ya, presiden Zimbabwe periode..."
Tiur
sudah tidak tahan lagi. Dia segera bangkit dan berlari flash masuk
kamar.
"Dasar,
adik yang aneh." kata Sotul geleng-geleng kepala.
Disaat
yang bersamaan HP-nya berdering, terpaksa Sotul menghentikan geleng-geleng
kepalanya. Nama Putra muncul di layar.
"Semua
personil komunitas nanti ngumpul di tempatku."
"Dede
juga?"
"Semuanya.
Ini 'kan hari minggu, Dede libur. Lamhot yang pengangguran juga nganggurnya
libur. Aku juga meliburkan kerjaanku. Kau juga harus datang."
Beberapa
saat Sotul terdiam dalam kebimbangan.
"Gimana,
ya? Tadi malam aku udah bilang 'kan hari ini mau jalan sama Peni?"
"Dibatalin
'kan bisa? Emangnya kau udah lebih mentingin cewek daripada sahabat-sahabatmu
sendiri?" tanya Putra menyudutkan.
Belum
sempat Sotul menjawab, sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
Mobil itu membunyikan klakson dua kali. Lalu ketika kaca belakangnya terbuka,
nongol wajah Peni memberikan senyuman ramah.
"Yuk,
berangkat?"
Sotul
berdiri dengan raut muka terpana. Dia memang sedang menunggu Peni, tapi sedikit
pun tidak terpikir olehnya Peni akan menjemputnya dengan mobil mewah.
"Sori,
Put, Peni udah datang jemput. Ntar deh,
pulangnya aku langsung ke sana." Sotul buru-buru menutup telepon, kemudian
melangkah keluar mendatangi Peni.
"Kita
naik mobil?" tanya Sotul.
"Iya.
Biar gak kena razia helm." jawab Peni sambil membukakan pintu mobil.
"Hahahaa...
Padahal lebih romantis naik elang."
Sotul
masuk dan duduk di sebelah Peni. Sotul juga menunduk ramah pada sopir yang akan
membawa mereka.
"Kita
mau kemana, sih?"
"Ntar
juga tau, kok."
"Eh,
foto-foto dulu, yuk?" Sotul mengaktifkan kamera di ponselnya.
"Buat
apa?"
"Ntar
aku upload di Facebook, biar orang-orang mengira aku lagi week end di
surga, soalnya fotonya bareng bidadari, hehe..."
Peni
tersenyum setuju.
Padahal
tujuan utama Sotul ingin memposting foto berdua dengan Peni adalah demi membela
harga dirinya. Supaya nanti Duma stalking Facebook-nya, dan melihat bahwa
dia mampu menggaet cewek cantik hanya dalam waktu singkat. Sotul ingin Duma
menyesal sampai jelek karena telah berani menolaknya.
Kemudian
berfoto-foto lah mereka di dalam mobil. Berbagai pose dari yang alay sampai
yang paling alay sekali. Dari ribuan kali jepret hanya satu yang hasilnya tidak
malu-maluin, dan itu yang langsung Sotul unggah ke Facebooknya.
Sedang
Sotul asik mengurusi Facebook-nya, mobil berhenti. Ada seorang Ibu naik
dan duduk di kursi depan di samping sopir. Kemudian mobil melaju lagi. Ibu itu
berbasa-basi sebentar dengan Peni. Sotul tak begitu mempedulikannya. Barangkali
itu Ibunya si sopir.
Mobil
memasuki jalan-jalan kecil di komplek perumahan, yang Sotul sendiri selama
tinggal di Kota Rohani ini rasa-rasanya belum pernah menjajakinya. Kemudian
tembus ke Sait Nihuta. Sotul yakin pengarang nama desa itu pasti sedang diare
waktu mengarangnya, kalau sedang patah hati kayak dirinya, pasti nama yang
tercetus adalah Sahit Ni Pusu-Pusu.
Tak
berapa lama mobil berhenti lagi. Kali ini ada dua pemuda masuk dan menempati
kursi paling belakang. Ketidakpedulian Sotul mulai terusik dengan hadirnya
penumpang-penumpang asing itu.
"Mereka
siapa?" tanya Sotul lirih.
"Temen-temen
aku." jawab Peni seadanya. Jawaban yang tidak cukup memuaskan kepenasaran
Sotul. Dia melirik sekilas ke arah dua penumpang di belakang. Muka-muka lugu
dan hitam akibat panas matahari. Mungkin pekerja bangunan atau mungkin
keseringan main layangan, pikir Sotul.
Mobil
berbelok ke gedung yang di halamannya terparkir puluhan mobil mewah lain. Sotul
melihat sudah banyak orang di sana. Beberapa orang memakai jas dan berdasi
dengan wajah cerah bersemangat. Tapi yang paling banyak hanya berpakaian kemeja
biasa, dengan wajah bingung, heran, bertanya-tanya, ada juga yang wajahnya
tidak kelihatan karena berdirinya membelakangi Sotul. Tak berapa lama, semua
orang digiring masuk ke sebuah ruangan besar. Lalu terdengar teriakan yel-yel
dari orang-orang berjas dan berdasi.
"Panen duit!
Hora umum! Hora umum!"
--~o0o~--
Next: Episode #17
Comments