#35

   Excel Coffee di malam Minggu ini ramai oleh pasangan muda-mudi tengah menghabiskan malam panjang. Tak terkecuali sepasang sejoli ini. Di salah satu meja, tampak Duma yang sebentar-sebentar menatap Sotul di depannya dengan tatapan pengen sekali segera diteraktir. Sementara Sotul, juga tidak mau kalah memberikan tatapan yang serupa, berharap juga diteraktir.

Sudah setengah jam mereka berdua di sana saling pasang mimik memelas, saling menunjukkan bahasa wajah yang saling ngotot agar diteraktir. Tapi belum satupun yang mau tergugah hatinya untuk memesan sesuatu. Sementara hampir seluruh pelayan kafe menatap jutek ke arah mereka. Kurang lebih makna tatapan itu adalah;

"Kalau pacarannya cuma duduk-duduk doang, ngapain gak pacaran di Tanggul atau Tribun Komplek Stadion sana aja!"

Tapi, baik Sotul maupun Duma, bukanlah ahli di bidang mengartikan bahasa tatapan para waitres kafe. Masing-masing terus bertahan menunggu siapa yang akan pesan hidangan duluan. Karena pada jalinan kisah kasih keduanya, terdapat peraturan perkencanan tak tertulis tapi musti dijunjung tinggi, yakni,
"Siapa yang pesan duluan, dialah yang bayar!"

"Kamu mau minum apa, Sayang?" tawar Sotul akhirnya dengan suara jentelemen. Dia menyerah dan tidak tahan karena akhirnya memahami arti pengusiran dari mata para pelayan di sana. Dia pikir tidak masalah dia yang pesan minuman, biar nanti Duma bagian pesan makanan.

"Aku jus alpukat aja, Bang." Duma langsung menyahut sumringah.

Begitu dong! Dimana-mana yang namanya lelaki harus menafkahi wanita, jadi kalau malam ini Sotul yang keluarin biaya lagi, itu memang sudah kodratnya laki-laki! Gumam Duma begitu dalam hati.

"Emm... Jangan deh, Sayang. Kamu lupa nih pasti, kalau buah alpukat itu tinggi banget lemaknya? Kamu gak mau 'kan jadi gemuk cuma gara-gara segelas jus alpukat?" jelas Sotul memberi impoh yang dia dapat dari menonton dr. Oz.

"Kalo gemuk nanti jadi gak muat lagi dong di hatiku." sambungnya lagi.

Duma tersenyum kecut. Harapannya menyeruput legitnya jus alpukat harus sirna.

"Udah pesen yang lain aja." serobot Sotul.

"Ya udah, jus mangga arumanis aja, siapa tau bisa bikin aku tambah harum dan manis."

Sotul menatap Duma, lantas mendengus pelan.
"Coba deh lihat bener-bener, itu tuh bukan mangga arumanis. Entah mangga apa, pokoknya gak enak banget, kemarin aku udah nyoba, habis itu tenggorokanku gatal-gatal. Susah digaruknya."

"Jus jeruk aja! Nah, iya, jus jeruk pasti seger malam-malam gini, Bang." Duma tak menyerah mengajukan berbagai pesanan, mengingat serta menimbang kalau Sotul ini bisa dihitung dengan jari intensitas neraktirnya. Ini kesempatan langka yang musti dia manfaatkan sejadi-jadinya.

"Sepertinya jeruk-jeruk itu udah pada gak seger deh Sayang, bukan dari Parmonangan jeruknya, jangan-jangan malah udah busuk. Ntar kalau kamu sakit gimana? Siapa dong yang akan nyakitin aku?" Sotul juga tak menyerah mencari celah menyelamatkan keutuhan isi dompetnya.

"Terus apaaa?! Kebanyakan alasan!" geram Duma melotot tajam ke arah Sotul. Setajam silit.

"Bosan tau gak sih jus-jus yang udah biasa itu. Pengennya yang beda, kayak misalnya jus buah simalakama, atau just kidding, atau apa aja deh yang penting beda. Tapi sayangnya di sini gak ada ya, Sayang?" Sotul dengan muka badak yang telah kendor urat-urat malunya mengatakan hal-hal yang tak lazim dikonsumsi manusia normal.

"Tapi jus kulit durian kayaknya ada, deh. Pesen aja!" usul Duma mulai memanas. Pengen banget rasanya dia kasih jab kanan ke bibir Sotul yang dower itu.

Selanjutnya, dengan penuh gaya, Sotul menjentikkan jari memanggil pelayan kafe. Berlagak seperti sedang di bar.

"Itok, aqua dua botol. Gak usah pake pipet dan gak usah pake lama, ya?"

Belum sempat Duma memprotes pesanan yang kelewat hemat itu, Sotul langsung menyela membagikan ilmu pengetahuannya.

"Dengan banyak minum air putih, kulit kita akan terlihat lebih segar, sirkulasi darah lancar, membantu metabolisme tubuh, dan yang penting aman!"

"Aman dari Hongkong!"

"Bukan dari Hongkong, Sayang. Ini nih langsung diambil dari sumber mata airnya di Sibolga. Tanpa pewarna! Tanpa pengawet! Jadinya aman. Ada manis-manisnya gitu kayak aku. Yuk mari dinikmati. Tos dulu." padahal aman yang dimaksud Sotul adalah dompetnya.

Dan rasanya, kontras banget nuansa meja mereka dibanding meja-meja pengunjung lain yang di hadapan mereka terhidang makanan dan minuman berwarna-warni. Rupa-rupa warnanya, hijau kuning kelabu, merah muda dan biru. Merasa telah memesan minuman, kini Sotul berharap Duma-lah yang bertanggung jawab untuk urusan makanan.

Sedangkan Duma juga memikirkan hal yang sama. Sebagai cowok, Sotul-lah yang musti menanggung semuanya. Berhubung tak juga ada yang mengalah, terpaksa air putih mereka tenggak hingga tetes terakhir, bikin perut kembung. Ujung-ujungnya Sotul kebelet pipis.

"Kita pulang aja, yuk?" ajak Sotul mulai bete dengan suasana panas itu.

"Pulang?" Duma melotot tidak terima. Belum juga makan apa-apa? Kencan model apa ini?

"Aku kebelet pipis banget inih."

"Pipis di sini aja." ujar Duma sambil nyodorin botol air mineral kosong sangkin sebelnya.

Sotul buang muka.

"Itok, minta bill-nya?" Sotul kemudian memanggil salah satu pelayan.

"Cuma dua botol air tawar aja pake bill-bill-an, ngabisin kertas aja. Semuanya 12 rebu!" sahut sang pelayan sedikit tidak sopan, tidak menghiraukan pepatah klasik yang mengatakan 'pembeli adalah raja'. Sotul dianggapnya raja singa kali. Lagipula dimana ada raja yang teraktir kekasihnya air putih semata.

Sotul terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu. Seperti bisa mikir saja dia. Lalu dengan berat hati mengeluarkan sebuah dompet kulit dari saku celananya. Berat dan sulit sekali dompet itu dikeluarkan, seakan dompet itu terbuat dari besi seberat dua ton, padahal dibikinnya juga dari ekstrak kulit manggis.

Dari dalam dompet itu Sotul hanya rela menarik dua lembar lima ribuan, tidak sepadan dengan ukuran tebalnya yang menyaingi kamus bahasa Vietnam-Indonesia itu.

"Ini, Tok, kembaliannya buat Itok aja." Ito waitres menarik nafas dongkol.

"Itok! Kalau Ito merasa adalah cowok dari kaum dhuafa, jangan sekali-kali masuk ke kafe ini, deh. Nenek-nenek di Golden Memories juga tau, kalau duit Itok ini masih kurang dua rebu!" repet sang pelayan, hidungnya kembang kempis menahan kesal.

"Hehe, iya, yah?" Sotul garuk-garuk biji sambil cengar-cengir minta digampar.

"Sepuluh ribu aja ya, Itok?" Sotul mencoba bernegosiasi.

"Segitu doang pake ditawar?"

"Lah saya 'kan memang pesen air tawar, masa gak boleh ditawar?"

Si Ito pelayan diam menahan emosi. Sotul menoleh ke arah Duma, menatap Duma penuh cinta dan harapan, harapan membantu dua rebu.

"Beb, bayarin dulu dong kurangannya. Kelak jika aku sudah kaya raya, aku janji akan kuganti plus bunganya sebesar 0,5%."

"Gak!" Duma menjawab ketus.

"Dua ribu rupiah aja gak mau bantu? Duh, ada-ada aja kamu, Sayang."

"Abang sendiri tuh yang ada-ada aja, bukannya neraktir, malah minta suntikan dana." sahut Duma bete.

"Kamu tuh, baru dua rebu perak aja susah amat! Gimana seterilyun? 'Kan kamu yang ngajakin kemari tadi, harusnya kamu dong yang keluarin duit!" Sotul agak mulai kelewatan.

Duma menatap Sotul tajam. Masih setajam silit.
"Perhitungan banget, sih! Abang cowok apa bukan, sih?"

Wajah Sotul langsung masam dikatain seperti itu. Dengan gerakan kasar dia kembali mengeluarkan dompet. Duma kira Sotul akan mengambil uang untuk menutupi kekurangan, tapi ternyata cuma mengeluarkan KTP.

"Nih, baca sendiri jenis kelamin gue! Cowok apa bukan?" sungut Sotul sedikit kesal karena telah diragukan jenis kelaminnya. Dia bersumpah, kalau Duma masih belum percaya juga kalau dia lelaki, dia janji akan keluarkan jenis kelaminnya di depan publik.

"Laki-laki KTP!" debat Duma.

"Woy! Berantemnya ntar diterusin di rumah. Sekarang cepet bayar sebelum aku panggil sekuriti!" ancam pelayan.

Akhirnya Duma mengalah, dia relakan dua helai uang bergambar Pattimura yang sudah karatan goloknya untuk menutupi kekurangan pembayaran.


                                  --~o0o~--


Pukul empat sore, Duma sudah anteng di kamar mendengarkan siaran radio Bonapit FM. Dia masih sebal oleh tragedi semalam. Seharian ini membuatnya malas kemana-mana. Jam satu sepulang ibadah tadi Tiur mengajaknya mancing, tapi Duma menolaknya.

Biasanya minggu sore begini ada program konsultasi cinta yang dipandu penyiar bernama Debie yang telah ahli di bidang itu. Duma berencana mengadukan pacar pelitnya ke wanita pembawa acara itu, siapa tahu bisa mendapat solusi jitu.

Acara sudah dimulai sejak sepuluh menit lalu dan line telepon juga telah dibuka. Duma berkali-kali menghubungi nomor yang disebut, tapi selalu keduluan penelepon lain. Ini acara memang cukup bagus ratingnya, peminatnya membludak, tidak heran kalau jempol Duma hampir terkilir menekan telepon yang tak kunjung tersambung.

"Bonapit Epem, selamat sore, dengan siapa dan dimana?" suara sang penyiar yang merdu menyapa.

"Halo?" jawab seseorang di seberang.

"Iya, haloh? Dengan siapa dimana?"

"Halo?" si penelepon sepertinya masih belum yakin kalau dia sudah tersambung.

"Iya, haloh?" jawab penyiar dengan tetap sabar. Sabar banget memang penyiar yang satu ini. Selain sabar, dia juga cakep. Itu yang membuat saya dulu pernah naksir dia. Hehee...

"Halo, Kak Debie? Ini Tigor di Hutapea." jawab si penelepon akhirnya setelah yakin bahwa suaranyalah yang dia dengar di frekuensi 90.1 Mhz tersebut.

"Oke Tigor, apa kamu punya masalah yang mau dicurhatin?"

"Iya, Kak. Gini. Saya tuh punya pacar yang pelitnya tiada tandingan dan tiada bandingan sealam semesta." ungkap si penelepon.

Duma, di seberang lain mempertajam daya tangkap telinganya, masih setajam silit tadi. Tangannya memutar volume suara radio ke posisi tertinggi. Dia tertarik, ada pendengar lain yang memiliki kasus yang mirip dengan dirinya.

"Tiap kali kita jalan, makan, belanja dan segala macemnya, cewek saya tuh cuma ngarepin saya mulu. Saya yang selalu ngeluarin biaya untuk kesenangan berdua. Lama-lama saya 'kan capek. Saya khawatir kalau begini terus, masa depan saya akan sukses menjadi fakir miskin. Gimana, nih? Apa perlu saya bunuh aja dia? Tolong, ya? Sebenernya saya sayang banget sama dia." curhat Tigor di telepon.

"Gini ya, bro. Kalau kamu memang bener sayang sama dia, ngapain juga permasalahin masalah duit? Kalau cuma jalan atau makan, paling kena berapa, sih? Gak nyampe jutaan, 'kan? Lagian gak tiap hari juga, 'kan?"

Sotul mengangguk-angguk seolah paham dengan saran kak penyiar.

"Lain cerita kalo pacar kamu minta dibeliin TV, kulkas, kapal pesiar atau pulau. Nah, itu baru matre dan pantas dilempar ke laut. Kalo cuma neraktir makan tapi kamu udah ngerasa dirugiin, berarti kamu sendiri dong yang pelit. Cinta butuh pengorbanan, bro! Termasuk ngorbanin uang. Masalah siapa yang ngeluarin anggaran itu gak enak banget diomonginnya. Yang pasti, kalo antara kamu dan dia udah bener-bener saling cinta, saling butuh, saling pengertian, dan saling tukeran ludah, aku yakin masalah beginian gak akan jadi masalah. Harusnya pihak yang neraktir ngerasa bangga dong karena bisa membahagiakan pasangannya. Itu sih kalo kata aku."

"Ough... makasih, Kak Debie. Pendapat Kakak emang oks begete!" pungkas si penelepon riang lalu menutup telepon kelupaan me-request lagu.

Di pihak lain, Duma juga ketularan riang terinspirasi oleh saran Kak Debie tadi. Dia gak perlu menelepon radio lagi karena persoalannya telah terjawab. Problem Solved! Bener juga kata Kak Debie, cinta memang butuh pengorbanan. Dan Duma mulai sadar kalau benar selama ini dia tidak mau berkorban biaya, cuma mengharapkan Sotul melulu. Palingan cuma ngeluarin duit buat beli molen di Tanggul.

"Saatnya berubah! Sekarang juga!" tekad Duma dalam hati. Kemudian dia kembali memainkan ponselnya menghubungi Sotul.

"Bang, cerah nih, keluar, yuk? Ke Air Soda kita. Gimana? Ntar mampir di Warung Hangat Iren kesukaan kita itu. Jemput, ya? Daa....” Duma menekan ikon segitiga di tampilan WAnya, mengirimkan pesan dengan rasa lega tak terlukiskan dengan kuas. Dia berjanji kali ini dia yang akan bayar segala pengeluaran.

Di tempat lain Sotul juga merasakan hal yang sama persis. Timbul kesadaran bahwa kebahagian kisah kasih tak akan sempurna tanpa melibatkan isi dompet. Pengen rasanya dia membentur-benturkan kepalanya saat terbayang bagaimana malunya dia dengan muka tembok cinanya yang pelit tidak meluluskan segala keinginan Duma yang cuma meminta segelas jus alpukat, justru hanya disuguhi sebotol air tawar. Dia betul-betul malu, kenapa harus terlalu berkalkulasi dalam masalah cinta. Dan mulai sekarang dia berjanji akan menebus segala dosanya.

Beruntung sore ini Duma mengajaknya kencan. Jadi, dia akan langsung mempraktekkan perubahan sebagai cowok murah hati. Jangankan cuma Warung Hangat Iren, Iren-nya pun kalau Duma mau akan Sotul beliin.

Tidak ada yang tahu, kecuali saya yang menulis cerita panjang banget ini, kalau sebenarnya penelepon bernama Tigor di Bonapit FM tadi tidak lain tidak bukan adalah Sotul sendiri. Dia malu kalau harus menyebutkan nama aslinya. Lagipula sudah lazim memalsukan nama di udara seperti itu. Nama penyiarnya saja sudah palsu. Nama penyiarnya Debie, tapi aslinya sesuai akte fesbuknya adalah Debora Sitohang. Foto profilnya berfoto bareng Pak Djarot, Cagub Sumut.


                                  --~o0o~--


Malamnya, Sotul dan Duma menikmati malam masih di Excel Cofee. Nyaris satu jam mereka di sana. Bercerita banyak hal dengan hati ceria penuh warna. Dekat sekali mereka malam itu, tak sepanas semalam. Mulai dari batu akik, hingga prediksi juara Piala Dunia tahun 2018 mereka bahas sebebasnya.

Dua mug Hot Chocolatte yang isinya sudah tinggal separuh menemani mereka bercerita. Dua porsi Potatto Fry juga baru saja mereka tuntaskan. Tak ada lagi rasa tak nyaman seperti minggu silam.

"Cari tempat lain yuk, Bang? Boring lama-lama di sini." ajak Duma.

"Kemana lagi kita, Sayang?"

"Kemana aja, yang penting makan. Makan mie ayam di Simpang Empat belakang pos polisi aja yuk?"

Sotul mengangguk setuju. Lantas memanggil pelayan kafe.

"Itok, Itok, berapa semuanya?" pelayan yang malam minggu lalu memandang Sotul jijik, kali ini mendekat dengan mimik sangat bersahabat.

"Udah, gak usah senyum gitu mbak. Saya udah punya pacar. Berapa semuanya?"

"Semuanya 95 rebu, itok." jawab si pelayan masih tetap tersenyum.

"Biar Adek yang bayar, Bang." ujar Duma seraya membuka dompetnya.

"Gak usah, Sayang, Abang aja." tolak Sotul.

"Kan Adek yang ngajak makan Abang di sini tadi? Adek aja, ya? Adek mohon, pliss?"

"Jangan gitu dong. Giliran Adek nanti aja pas makan mie ayam." seru Sotul.

"Ntar di sana Adek juga yang bayar, di sini juga gak apa-apa kok kalo Adek juga yang bayar. Gak fair kalo gitu. Kemarin Abang udah traktir Pisang Coklat, trus waktu kita ke Balige tahun lalu Abang juga yang bayarin ongkosnya."

"Gak usah dingomongin lagilah masalah itu, dekku. Pokoknya biarin malam ini Abang yang bayar semuanya. Okesip?"

"Gak, gak bisa!" Duma menghardik tangan Sotul.

"Kalau Abang terus, ntar tabungan Abang habis, loh."

"Demi cinta kita, Abang rela, kok. Berapa tadi, Ito?"

"Iiih! Egois banget, sih? Nih Kak duitnya, kembaliannya untuk Kakak." potong Duma menyerahkan du lembar limapuluh ribuan.

"Jangan diterima, Tok! Ini aja! Sisanya untuk Itok, dan ini sekalian tip untuk Itok." Sotul tidak mau kalah, sambil menghalangi tangan pelayan menerima uang dari Duma, dia menyerahkan selembar uang limapuluh ribuan dan tiga lembar duapuluh ribuan. Tapi dengan gesit Duma menepis tangan Sotul.

"Mau lo tuh apa, sih?" hardik Sotul tiba-tiba, bahasanya berubah 'lo gue', pertanda kalau emosinya mulai jelek, sejelek mukanya.

"Adek 'kan mau bayar makanan kita, kenapa Abang marah?"

"Ya iyalaaah! Elu mau menang sendiri. Elu sok ngeboss! Elu anggap gue ini apaa? Hah?"

Duma melotot menatap Sotul, lalu menggeleng tak mengerti.
"Harusnya Abang bahagia aku rela ngeluarin biaya buat kencan kita."

"Gimana gue bisa bahagia kalau sikap lu kayak gini. Ini sama aja lu ngerendahin gue. Mau lu apaaa?"

"Lu sendiri maunya apa? Hah?" tantang Duma akhirnya sambil berdiri tiba-tiba dan berkacak pinggang.

Pelayan kafe hanya bisa diam melongo melihat konfrontasi dua sejoli eror itu. Minggu lalu berantem gara-gara bersikukuh mempertahankan isi dompet, malam minggu ini kembali geger tapi dengan sebab yang sebaliknya. Satu hal yang bisa di lakukan si Itok pelayan adalah, meletakan jari telunjuk di atas dahinya dengan posisi miring.

"Saraapp!"



Bersambung.....

Iya, bersambung!
Maaf, ya?
Ditungguin ya sambungannya?

Muehehee...



                                  --~o0o~--

Comments