#01
Di perjalanan, di tengah konsentrasinya menyetir,
Sotul merasa mendadak ban belakang motornya berat dan sedikit oleng. Dengan
perasaan was-was Sotul menginjak rem dan melepas tarikan gas. Dan benar, saat
dia turun untuk memeriksa, dia menemukan sebuah paku tertancap tampan di ban belakang motornya.
Bugh!
Spontan
Sotul menendang ban motornya sangkin kesalnya. Motornya diam saja tak melawan,
justru ujung sepatunya yang sukses jebol menganga.
"Sial!"
Emosi
Sotul bertambah parah. Kali ini jok motor yang jadi sasaran. Ditamparnya keras
hingga meninggalkan bekas tangan.
"Huft!"
Sesaat
Sotul menghela napas panjang. Tiba-tiba dia merasa kasihan. Ini bukan salah
motornya. Ini resmi salahnya Putra!
"Kenapa dia ingkar sama
janjinya bangunin aku? Kenapa dia gak melarangku nginep di rumahnya semalam?
Kenapa?" oceh
Sotul mendongak ke langit.
Setelah
mengusap-usap bekas tamparan di jok, Sotul menuntun motor Revo merah 110cc
malang itu berjalan di sisi kanannya. Dia berharap ada tukang tambal ban yang
sudah buka praktek sepagi itu. Beruntung tidak terlalu jauh dari TKP, dia
menemukan apa yang diharapkannya.
"Gak! Gak boleh! Jelas-jelas
ban udah bocor gini masa masih merasa beruntung? Ini tetap sial! Apes!" Sotul terus mengomel
menyalahkan keadaan. Malah sempat berpikir buruk bahwa tukang tambal ban itu
yang sengaja menebar paku di jalanan.
Sambil
menanti ban motornya ditambal, Sotul pergi ke warung di sebelah bengkel.
Kondisi keuangannya yang sangat payah, membuatnya hanya mampu membeli sebiji
air minum kemasan gelas. Plastik penutupnya disobek lebar-lebar, menenggaknya
sedikit lalu memanfaatkan sebagian besar sisanya untuk cuci muka. Setelah itu
dia duduk di trotoar depan warung. Wadah air minum yang telah kosong diletakkannya di depan kakinya,
menghadap ke atas.
Kurang
tidur, gelisah diburu waktu, serta perasaan kecewa akibat kekalahan tim
jagoannya tadi malam, membuat tampang Sotul tetap berantakan meski sudah dicuci
dengan air mineral. Lusuh! Tampang
lusuh itu diperkuat dengan cara berpakaiannya yang sangat tidak manusiawi dipandang dengan mata, bahkan mata kaki.
Jaket kulit hitam kekuning-kuningan karena kusam, serta bawahan celana jeans
lecek yang pada bagian dengkulnya sengaja disobek. Sepatunya juga sudah usang
dan koyak hasil dari menyepak ban motor tadi. Dengan tampang dan penampilan
seperti itu, sebenarnya Sotul lebih terlihat seperti gelandangan kepagian
daripada seorang manusia normal pada umumnya.
Jalan
D.I. Panjaitan pagi itu
lumayan padat merayap. Mungkin karena hari Senin. Semua pengendara dari segala
penjuru kota Tarutung yang kecil itu tumpah ruah berlalu-lalang di depannya.
Semua tampak sibuk. Hanya Sotul seorang yang tampak kucel terduduk sendirian di
trotoar depan warung. Sebenarnya dia juga sibuk, sibuk mikirin nasibnya yang
pagi-pagi sudah sial.
Tak
lama berselang, Sotul melihat sebuah motor matic berhenti di depan warung.
Matanya yang sedang tidak punya kesibukan
digunakan secara sukarela memandangi pengendara itu. Pengendaranya seorang
cewek berpakaian SMA, turun mendatangi warung.
"Bang, ada pulsa?"
"Yang elektrik habis, neng.
Tinggal yang poceran."
"Gak masalah, Bang. Pulsa
kiloan juga gak apa-apa, yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet, nih." kata remaja bertubuh
mungil itu tersenyum begitu manis.
"Ckckck... cantik, sih, tapi
sayang, ada erornya."
tapi Sotul lumayan berdecak kagum dan bergumam tanpa sadar menyaksikan senyuman
barusan itu. Selain manis, senyum itu dilengkapi juga dengan lesung pipi yang
imut dan menggemaskan.
Si
cantik mengeluarkan dompet mewah dari dalam tas sekolah. Dompet pink itu
dibukanya tergesa dan matanya tampak mencari-cari sesuatu dari dalamnya.
Kemudian menggeleng. Sotul menduga mungkin isinya Poundsterling semua,
hingga tak bisa digunakan di warung kecil seperti itu. Dompet itu kembali
ditutup dan diletakkan begitu saja di antara tumpukan makanan ringan.
Cewek
itu kembali merogoh isi tasnya mengambil dompet cadangan. Kali ini lebih kecil
dan berwarna coklat. Mirip warna muka Sotul kala itu. Dari dompet kedua itu, si gadis berhasil mengambil selembar rupiah dan diserahkan ke pemilik warung.
Setelah
pulsanya terisi, gadis itu tampak langsung menghubungi seseorang. Berbicara,
tertawa-tawa, kemudian berlalu. Dan Sotul tidak
sudi lagi memperhatikannya. Bodo amat! Nasibnya sendiri saja masih belum jelas.
Jam kuliah tidak sampai setengah jam lagi, sementara dia masih bengong di
pinggir jalan di antah-barantah menanti ban bocornya ditambal.
"Arghhh!!"
Sotul
tertunduk lesu mengacak-acak kepalanya menumpahkan kekesalan plus ketombe.
Rambutnya semakin semrawut. Ada yang lurus ke langit, ada yang ambruk menutupi
keningnya, ada juga yang rontok ke permukaan tanah.
Cliingg!
Sotul
sedikit kaget. Menengok ke sumber suara. Mendadak dia merasa terhina,
tersinggung dan ingin marah. Gelas kosong bekas air minumnya tadi, baru saja
dijatuhi dua buah koin limaratusan oleh seseorang. Sotul mendongak, ingin tahu
siapa yang barusan telah dengan kejam menganggapnya pengemis. Terlihat cewek
yang tadi beli pulsa sudah berlalu membelakangi dirinya.
Sialan!
Belum
sempat Sotul berbuat sesuatu untuk mengembalikan nama baiknya, cewek itu sudah
melesat pergi dengan motor matic-nya.
Kampret!
Tanpa
sengaja mata Sotul melihat dompet pink cewek tadi masih tertinggal di antara
tumpukan makanan ringan. Sementara kang warung belum memperhatikannya. Sotul
deg-degan. Setelah celingak-celinguk memastikan tak ada orang melihat, Sotul
memungut koin santunan dari dalam gelas, kemudian dibawanya mendekati warung.
"Bang, beli garam sebungkus."
kata Sotul modus mengalihkan perhatian sang pemilik warung.
Si
Kang warung membelakanginya menuju rak tempat rempah-rempah. Disaat itulah,
dengan gesit Sotul menyambar dompet pink cewek tadi yang tertinggal. Lima detik
kemudian dompet tersebut telah aman berada di balik jaket leceknya.
"Nih, Bang." Sotul membayar pembelian garamnya lalu segera pergi.
"Tunggu!" Seru Kang warung
menghentikan langkah lelaki kucek itu.
Sotul
panik, deg-degan. Telapak tangannya keringatan. Dia memperkuat bekapannya pada
dompet di balik jaketnya.
"Ini kok mirip koin
kembalian saya untuk gadis SMA tadi, ya?"
Sotul
pura-pura tidak mendengar dan buru-buru pergi.
--~o0o~--
SMA
Swasta Santa Maria. Begitu yang tertulis di tembok papan nama di depan bangunan
sekolah itu. Sekolahnya besar. Bangunannya kokoh, atapnya tak ada yang bocor,
karena hujannya selalu dikirim ke tempat lain kayak iklan anti bocor di tipi.
Ada kantinnya. Muridnya banyak dan semuanya pakai sepatu. Keren. Seluruh
ruangan kelas dibangun sama, dari ukuran, warna, bentuk, jumlah jendela hingga
model pintu tidak ada yang dibeda-bedakan. Itu demi mencegah timbulnya
diskriminatif dan kecemburuan sosial antar kelas.
Yang
kelihatan berbeda hanya
bangunan kantor, aula, lab, dan perpustakaan. Ukuran mereka lebih besar
dibanding bangunan-bangunan kelas. Sedangkan yang paling berbeda hanya ruang
keamanan di depan gerbang masuk. Bentuknya kecil dan menyendiri. Mirip pos
satpam.
Di
koridor kelas pagi itu, tampak seorang siswi sedang berjalan ke depan, bukan ke
belakang, apalagi melakukan adegan moonwalk kayak Michael Jackson. Tidak.
Langkah kakinya teratur dari kaki kanan kemudian kaki kiri dengan kaki menapak
ke tanah. Tidak melayang.
"Duma!"
Langkah
siswi cantik yang ternyata bernama Duma itu terhenti. Meski sudah hapal siapa
yang memanggilnya barusan, dia tetap menoleh hingga kemudian melihat dua
sahabatnya berlari kecil menyusulnya. Dua sahabat yang selama ini menemaninya
di sekolah. Dua sahabatnya itu adalah, yang di sebelah kirinya Tiur bernama
Rut, sementara yang di sebelah kanannya Rut bernama Tiur. Mereka berdua merupakan
sahabat baik Duma, baik di sekolah maupun dimana pun.
Mereka
bertiga telah berteman sejak saling kenal. Karena bertetangga, Tiur dan Rut
sudah saling kenal sejak kecil. Sedangkan
Duma, baru di kelas 3 ini kenal dekat dengan Tiur dan Rut. Dulu saat di kelas 1
dan 2 ketiganya tidak sekelas. Tiur dan Rut di kelas ringan, sementara Duma di kelas
berat.
Diantara
mereka bertiga, Duma pulalah yang paling cantik. Tampangnya semi amoy dan
memikat banget. Berambut panjang hitam dan halus, cocok banget jadi duta sampo
lain. Kalau tersenyum, wajahnya yang sudah cantik itu akan semakin cantik
dengan munculnya lesung pipi di jidatnya. Tapi walaupun yang paling cantik,
Duma adalah yang paling tajir dari ketiganya. Punya orang tua kaya raya.
Bapaknya seorang pengusaha sukses, sementara Ibunya adalah istri seorang
pengusaha sukses. Mobilnya 3. Pinahannya banyak. Lampu terasnya 2. Asbaknya 4.
"Denger-denger ada murid
baru, ya?"
tanya Duma begitu Tiur dan Rut berhasil menyusulnya.
"Emang banyak! Itu anak-anak
kelas 1 murid baru semua." jawab Tiur berdasarkan fakta bahwa saat ini baru saja memasuki
tahun ajaran baru.
"Serius kenapa, sih? Masih
pagi gini jugak."
sungut Duma atas sikap Tiur yang pagi-pagi sudah memancing keributan.
"Kabarnya sih iya, pindahan
dari luar negeri."
celetuk Rut, menatap dua temannya itu sebentar.
Tiur
dan Duma saling pandang antusias.
"Dari Timor Leste." lanjut Rut.
Duma
mendengus, Tiur tertawa entah kenapa.
Dan
selain baru, murid yang tengah mereka perbincangkan itu sepertinya akan berumur
panjang. Karena sosoknya tiba-tiba muncul dari dalam kantor kepala sekolah. Dia
tampak menoleh ke sana kemari mengamati keadaan sekitar, sebelum kemudian
berjalan menyeberangi lapangan. Di tengah lapangan, mendadak perjalanannya
terhenti, tatapannya jatuh ke arah Duma dan kedua rekannya. Duma memperhatikan
lelaki itu baik-baik. Kening mulusnya berkerut, tapi tetap mulus kerutannya,
seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Dia kayak Tikko, yang dulu
kelas satunya di sini? Iya, Tikko! Ah, itu sih bukan murid baru!" seru Duma gembira.
"Iya, bener. Pasti masih ada
plastiknya kalau seandainya masih baru." jelas Tiur masih pengen nyari
keributan.
Tapi
tak ada yang memperdulikan candaan garingnya. Terutama Duma. Perhatiannya masih
tertuju sepenuhnya ke arah murid baru tersebut, yang untuk beberapa saat masih
berdiri mematung di tengah lapangan mirip orang-orangan sekolah, sebelum
akhirnya kembali meneruskan perjalanan mengarah ke mereka bertiga. Dari
kejauhan, dia sudah tersenyum lebar seraya melambaikan tangan. Duma langsung
membalasnya. Rut menoleh ke kanan kiri dan belakang, khawatir lambaian itu
bukan dipersembahkan untuk mereka.
"Duma!" seru Tikko sesampainya
di hadapan Duma.
"Tikko? Kau sekolah di sini
lagi?"
sambut Duma dengan wajah sukacita.
Tikko
mengangguk sambil mengulum senyum. Dipandangnya Tiur dan Rut sebentar,
menganggukkan kepala memberi salam. Tiur dan Rut hanya kebingungan.
--~o0o~--
Next: Episode #02
Comments