#02

  Sesampainya di rumah, Sotul segera masuk ke kamar dan mengunci diri dari dalam. Dompet yang tadi diselipkan di jaket diambilnya dengan dada deg-degan. Diamati sebentar, lalu dengan tangannya mencoba menimbang-nimbang isinya.

"Lumayan berat. Pasti isinya jutaan." batin Sotul penuh harap dan tak sabar akan digunakan untuk membayar SPayLater.

Dengan uang itu, Sotul berencana membeli sepatu baru dan mengganti ban motornya. Kalau masih bersisa akan Sotul gunakan untuk beli helikopter.

"Jangan lakukan! Itu bukan milikmu!" sisi hati baiknya tiba-tiba mencegah.

"Buka aja. Kau 'kan nemu, berarti udah jadi milikmu, dong." setan memprovakasi.

Sotul terdiam bimbang.

"Balikin sama yang punya. Dosa loh." bisik malaikat di kuping kanan Sotul.

"Udah, buruan dibuka! Kalo gak sekarang kapan lagi? Kalo bukan kau siapa lagi?" di kuping kiri setan terus memanasi.

"Jangan dengerin dia. Anggap aja itu suara setan."

"Justru dia yang gak usah kau dengerin. Anggap aja itu suara malaikat. Buka!"

"Jangan!"

"Buka!"

"Bukan urusanku!" geram Sotul dalam benak.

Disaat setan dan malaikat sedang asik debat seperti debat terbuka presiden di tipi, Sotul tahu-tahu sudah membuka dompet itu lebar-lebar. Seketika matanya membollang. Mulutnya ternganga. Rambutnya gatal, bijinya juga. Ternyata isi dompet itu berbeda jauh dari harapannya. Sangat jauh. Tak ada uang sepeser pun di dalamnya. Dilihatnya sekali lagi lebih teliti hingga ke sudut-sudut dompet paling terpencil. Tapi tetap tak ada keertas bergambar pahlawan siapa pun di sana. Sotul tidak menyerah, ditutupnya dompet itu untuk beberapa saat, lalu memejamkan mata, menghela nafas, membaca sepenggal mantra kemudian kembali membukanya. Sama saja, masih tidak ada uang. Hanya terdapat secarik kertas bill Indomaret dan sebotol kecil lipgloss.

Karena masih belum percaya dompet semewah itu isinya cuma bill Indomaret sama lipgloss, Sotul membalikkan posisi dompet, menghadapkannya ke bawah, digerak-gerakkannya, dihutur-hutur, berharap ada rupiah atau pun benda berharga lain runtuh dari dalamnya. Tapi sama saja. Nihil.

"Anjing! Dompet PHP!" cela Sotul mencampakkan dompet itu ke dinding, lalu terpental mengenai sudut lemari, mendarat ke lantai, lalu akhirnya berhenti di bawah meja belajar.

"Mampus!" maki Sotul kepada dompet sekaligus pada dirinya sendiri, juga kepada jam dinding di kamarnya.

Jarum jam di dinding itu berada tepat di angka 07.48. Itu artinya dia hanya punya kesempatan 12 menit lagi untuk sampai ke kampus. Dengan panik tak menentu, Sotul berlari ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan cuci ketek.


                                  --~o0o~--


Ayah Tikko berasal dari pulau Timor. Dulu semasa Timor Timur masih dilanda perang saudara, dia diungsikan ke rumah Tulangnya di pulau Lombok. Beberapa bulan di sana, ayah Tikko yang pada masa itu masih pemuda kecil, nekat ikut orang-orang Sasak merantau ke Malaysia. Dan dia bekerja di negeri jiran tersebut hampir sepriode presiden lamanya. Namun karena datang tanpa dokumen resmi, suatu hari dia terjaring razia Polis Diraja Malaysia dan dideportasi ke Indonesia melalui kepulauan Riau. Di beberapa wilayah propinsi Riau memang kerap menjadi tempat pembuangan TKI ilegal. Makanya jika bertemu orang dari Lombok di sana, kemungkinan besar mereka adalah eks TKI deportasi dari Malaysia.

Selanjutnya karena tidak memiliki uang untuk kembali ke pulau Timor, ayah Tikko terpaksa bertahan di Pekanbaru. Pada akhirnya dia justru betah dan akhirnya bertemu jodoh di sana. Pun setelah Timor Timur cerai dengan NKRI dan berubah nama menjadi Timor Leste, ayah Tikko memilih menetap di Pekanbaru, walau sesekali jika punya rejeki dan waktu luang, dia akan pulang ke tanah leluhurnya.

"Tahun 2012 kemarin, ayah meninggalkan Indonesia. Pulang ke Dilly. Setahun kemudian aku disuruh nyusul ke sana." jelas Tikko. Dia sedang singgah ke kelas 3 IPS A, kelasnya Duma. Tikko sendiri ditempatkan di kelas 3 IPA B.

"Oh iya, aku ingat, tahun 2012 di Indonesia emang lagi ramai isu mau kiamat. Pasti keluargamu takut trus pindah ke luar negeri." tebak Duma.

"Gak gitu juga, Duma." bantah Tikko sedikit keki dengan tuduhan Duma.

"Kebetulan Ayah emang asli orang Dilly, Ibuku yang dari Dumai."

"Jadi selama ini kau blasteran?" Duma mendelik menatap Tikko tak percaya. Tiba-tiba dia merasa dirinya ibarat KD dan Tikko Raul Lemos-nya.

"Begitulah kira-kira." Tikko nyengir bangga sambil memperhatikan Duma dengan seksama. Dua tahun berpisah, ternyata tidak banyak perubahan pada Duma.

"Kau orangnya monoton ya, Dum? Dari dulu gitu-gitu aja. Gak jelek-jelek."

Duma mesam malu-malu.

"Daripada kau, gak konsisten! Perasaan dulu kau ganteng, tapi sekarang kok ganteng kali?"

Tikko tertawa. Duma turut tertawa. Tidak jauh dari mereka, Tiur dan Rut menahan muntah menyaksikan tingkah norak sepasang makhluk absurd itu.

Bayangan Duma segera mundur ke 2 tahun silam, saat awal-awal menjadi murid di SMA RK ini. Pertama kali melihat Tikko di MOS, dia langsung suka. Selain ganteng, Tikko adalah sosok pemuda pemberani. Berani membantah perintah kakak-kakak seniornya kala itu, bahkan Duma pernah menyaksikan dengan kepalanya sendiri Tikko berani menerobos lampu merah. Dan Duma adalah gadis unik. Keunikannya itu yang membuat Tikko juga menyukai Duma. Sayangnya, belum sempat hubungan mereka lebih dekat, Tikko keburu hengkang ke luar negeri.

"Gak nyangka bisa ketemu kau lagi." kata Duma. Suaranya terdengar begitu girang.

"Sama. Aku malah sempat ngira gak bakal kembali ke tanah air lagi."

"Terus sekarang apa yang akhirnya membuatmu kembali ke Indonesia?" tanya Duma.

Tikko diam sejenak.

"Tapi janji, ya, jangan bilang ke siapa-siapa?"

Duma mengangguk. Tikko mendekatkan mulutnya ke telinga Duma.

"Sebenarnya, aku pulang ke Indonesia demi kau, Duma." kata Tikko dengan suara berbisik.

"Ah, masa?" Duma senyum kege-eran. Tubuhnya seakan melayang menembus mega.

"Iya. Aku senang kali bisa ketemu kau lagi."

"Aku juga, Tik. Seneng kali."

Keduanya saling senyum.

"Hati-hati sama Duma. Dia udah punyanya Gomos." Tiur yang berada di deretan bangku belakang tertarik memprovokasi.

"Tiur, apaan, sih?" Duma menoleh sambil merengut.

"Ciee... Siapa Gomos? Pacarnya, ya?" Tikko penasaran bercampur sedikit cemburu.

"Calon mantan!" cetus Duma.


                                  --~o0o~--


Bel pertanda bubaran sekolah berbunyi, disambut dengan helaan nafas lega dan sorak-sorai teman sekelas mereka. Dari kejahuan bahkan terdengar ada kelas lain yang bersorak sangat kencang seperti marching band di stadion yang mendukung tim jagoannya bertanding. Tidak sampai semenit, para murid sudah berduyun-duyun keluar kelas lewat pintu-pintu darurat yang disediakan. Di parkiran sekolah, tampak Gomos berdiri mondar-mandir menanti pacarnya.

"Dumaria!" teriaknya.

Duma yang tengah berjalan bersebelahan dengan Tikko menoleh, menghadiahi Gomos dengan senyum berlesung pipi kebanggaannya. Tapi Gomos tak peduli. Dia lebih peduli dan fokus pada lelaki di sebelahnya. Tumbuh sedikit rasa cemburu di hatinya melihat Duma bersama lelaki itu. Dan karena menyadari ada gelagat tidak menyenangkan, Tikko buru-buru pamit menyingkir.

"Ganjen kali, sih, jalannya deket-deket sama dia?" Gomos tudepoin.

"Dia Tikko, murid baru. Sebagai murid lama, aku cuma membantunya beradaptasi."

"Murid baru dari Hongkong! Kau pikir aku gak tau dia dulu pernah sekolah di sini?" debat Gomos agak sengit.

"Dari Timor Leste, Mos, bukan dari Hongkong." balas Duma tidak mau kalah sengit.

Gomos membuang muka dengan perasaan dongkol.

"Tadi pagi kalian akrab kali. Pake senyum-senyum. Ngobrolin apa?"

"Saling tanya kabar."

"Cuma itu?"

"Iya."

"Bohong! Pasti bohong!"

"Ada sih yang lain. Aku nanya sama dia kenapa balik lagi, terus Tikko bilang gak boleh kasih tau kesiapa-siapa kalau sebenarnya dia balik ke sekolah ini lagi demi aku, Mos. Gitu." kata Duma sambil tersenyum tanpa dosa.

Wajah Gomos bertambah masam. Kemudian tanpa sepatah kata, segera bergegas meninggalkan Duma dengan langkah-langkah menghentak kayak kapiten.

"Dasar jailangkung, semaunya aja datang dan pergi!" gerutu Duma mengiringi kepergian Gomos.

"Gomos kenapa? Kayaknya kesel kali?" tanya Tiur yang baru saja tiba di parkiran bersama Rut.

"Tau tuh. Cemburuan banget."

"Kaunya juga sih seharian deket-deket Tikko terus. Wajarlah dia cemburu."

"Itu tau, kenapa nanya?" Duma balik bertanya.

"Lagian emang jauh lebih nyaman sama Tikko." sambungnya lagi.

Tiur menggeleng-gelengkan kepala.

"Diputusin baru tau rasa kau, Duma!"

"Iya. Dan rasanya itu pasti plong kali diputusin manusia posesif kayak dia." sahut Duma enteng. Sebenarnya dia memang sudah tidak betah berpacaran dengan cowok yang galaknya nyaingin presiden Korea Utara itu.

"Khawatir aku, ini nanti ending-nya bakal kayak kejadian dua bulan kemarin. Kau diputusin Bang Tongam tukang antar galon air, gara-gara kau kecantol si Rikkot, tukang antar galon air baru."

"Ya ampun, Tiur, kau masih ingat aja sama mereka? Aku aja udah lupa. Mupon lah, mupon! Hahaa..." kata Duma sambil tertawa keras.

"Dasar!" semprot Tiur mencubit bahu Duma.

Kadang Tiur tidak habis pikir, sahabatnya yang satu ini bisa sebentar-sebentar ganti pacar. Mantan pacarnya banyak. Entah apa motivasinya dalam berpacaran. Padahal mantan banyak juga tidak akan dibawa mati.

"Eh, temenin aku ke onan, dong. Tadi pagi Mamak nitip beliin kue talam." Rut mengubah topik.

"Ke Ganevo ajalah. Kemarin aku shopping ke sana sama Kak Sabet, sumpah, tukang parkirnya ganteng kali!" sahut Duma penuh gairah.

Tiur menepok jidat, jidatnya Rut. Rut melirik Duma sebentar, kemudian menggeleng sambil tersenyum-senyum tipis.

"Tapi lipgloss-ku mana, nih?" Duma sibuk mengobok-obok isi tasnya.

"Kok gak ada?"

"Emang kau taro dimana tadi?" tanya Tiur.

"Di dompet."

"Kok nyarinya di tas?"

"Dompetnya di dalam tas. Beneran ilang nih lipglossku. Mamaak..." Duma mulai panik, tangannya terus mengobok-obok, matanya ikut melongok ke dalam tas.

"Gimana nanti ketemu abang tukang parkir kalau bibirku kering gini?"

"Kalau cuma bibir biar keliatan basah, gampanglah. Nanti di Tanggul kita makan gorengan molen dulu." kata Tiur memberikan solusi jitu.

"Tiuuurr!!" teriak Duma mengamuk. Sudah tahu situasi lagi genting masih saja cari gara-gara.

Tiur tertawa sebentar.

"Gini deh, Duma. Menurutku, kalau tadi kau naruh lipgloss-nya di dompet, sebaiknya nyarinya juga di dompet, jangan di tas."

"Dompetnya gak ada!"

"Berarti lipgloss-nya gak ilang, dompetmu yang ilang!"

"Hah!" Duma memandang Tiur kaget. Wajah Duma membesar dan mengecil berulang-ulang seperti efek zoom in-zoom out di kamera.

"Iya dompetku! Ya ampun, dompetku!" Duma kembali mengobok-obok isi tas dengan gerakan lebih gegabah. Tapi dompetnya memang tak ada.

"Nah, 'kan?"

"Aduh. Dompet itu berarti kali buatku loh, Tiur. Udah kuanggap kayak adik sendiri, kalau hilang pasti aku dimarahin Mamak karena dianggap gak bisa menjaga adik sendiri dengan baik."

"Tenang dulu, Duma, tenang. Gak usah drama. Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kau bersamanya?"

"Tadi pagi aku masih ketemu dia. Aku masukin baik-baik ke dalam tas ini."

"Terus?"

"Terus gak tau, kalau ingat ngapain aku sepanik gini!" kata Duma hampir menangis.

"Pantesan gampang kali lupain mantan, dompet sendiri aja bisa lupa." sesal Tiur melirik Duma. Kasihan, cantik, muda, anak horang kayah, tapi pikun!

"Di jalan tadi, gak mampir beli soptek atau apa gitu?" tanya Rut.

Duma termenung sejenak. Membentur-benturkan keningnya ke tembok. Berharap adegan tersebut bisa membantunya mengingat keberadaan dompetnya. Dan ternyata manjur!

"Ah, iya! Di toko depan sekolah. Tadi pagi beli pulsa, kayaknya belum aku masukkan."

"Ya udah, sekalian ke pasar, kita mampir ke sana dulu. Ayok berangkat sekarang, mumpung Duma masih ingat!" seru Tiur memberi komando.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #03

Comments