#03
Di teras sebuah rumah
sederhana bercat putih, tampak seorang lelaki duduk lesu di kursi dengan kaki
kanan menyilang di dengkul kiri. Seperti duduknya Nazwa Shihab. Sikut tangan
kanannya bertumpu pada pegangan kursi, sementara lengannya tegak menyangga
kepalanya yang miring. Entah kenapa dia duduk dengan gaya seperti itu. Mungkin
kepalanya sedang berat akibat banyak pikiran. Atau mungkin tidak kuat
menanggung beban jelek di wajahnya, sehingga butuh bantuan tangan untuk
menopang wajahnya itu. Mungkin!
Tapi
sebenarnya jika diperhatikan secara seksama dan dalam tempo yang agak lama,
cowok itu tidak jelek-jelek amat, walau sesungguhnya memang tidak ganteng juga.
Ganteng pas-pasan, pas di dalam kegelapan, pas menghadap ke belakang atau pas
dilihat dari jarak minimal 500 meter pak pipet.
"Sotul?"
Seseorang
menyebut namanya. Dia menoleh, dan tampak olehnya seorang pria muda sedang
berjalan lancar ke arahnya. Kalau tidak salah namanya Putra, sahabat Sotul dari
zaman SMA hingga zaman now.
"Sori kali, tadi pagi lupa
bangunin kau."
kata Putra sambil menduduki kursi di sebelah Sotul.
Sotul
tersenyum alakadarnya.
"Tumben kau kemari?" tanya Sotul sesaat
setelah Putra mendaratkan pantatnya di kursi sebelahnya.
"Buat bikin alasan aja. Nanti
habis dari sini aku mau ke rumah Peni. Kalau dia nanya, nanti aku tinggal
jawab, 'tadi dari rumah Sotul, kesini mampir bentar buat ngasih ucapan selamat
samamu'. Kabarnya hari ini dia lulus seleksi PNS."
Sotul
kembali tersenyum, tapi kali ini dengan mimik lebih terpaksa, sekedar
menghormati Putra yang telah memberikan sebuah informasi yang tidak penting
untuknya. Sotul mengubah gaya duduknya menjadi bersandar. Menarik nafas
dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Membuat seekor lalat yang lalu-lalang
di depan mulutnya kehilangan keseimbangan.
"Kau kenapa?" tanya Putra curiga.
"Aku teringat sama Christine,
Put."
"Buset! Sampai kapan kau mau
gitu terus, Tul?"
Sotul
menggeleng lesu.
"Gara-gara barusan nonton TV."
"Pasti TV-nya pemberian Christine?" tuduh Putra. Sotul diam
saja.
"Makanya, biar gak keinget
terus, barang-barang dari mantan itu lebih baik disumbangkan kepada yang lebih
membutuhkan. Contohnya aku. Aku siap menampungnya."
"Bukan gitu. Tadi acara
TV-nya tentang alam Indonesia. Kebetulan lagi bahas sebuah hutan di Kalimantan.
Hutannya lebat kali, Put. Liar dan belum terjamah manusia, masih perawan.
Paru-paru dunia gitulah sebutannya."
"Bentar, bentar. Hutan lebat
bikin kau ingat Christine?" Putra melongo penasaran.
"Bukan lebatnya! Kata Kalimantan
itu yang langsung bikin aku ingat dia. Christine kabarnya udah di Kalimantan
sekarang."
balas Sotul sendu.
"Ooh.." sahut Putra sambil
membuang pandangannya ke bak sampah.
Tapi
Sotul memang terlihat sedang galau berat. Sorot matanya jauh menembus langit
tinggi, dengan tatapan penuh mimpi yang tak pasti.
"Sabar deh, Sotul. Akhir
dari sebuah pacaran emang selalu gitu. Kalau gak jadi manten, ya jadi mantan.
Jarang ada yang pacarannya bisa awet sampai 28 tahun." Putra mencoba memberi
wejangan singkat.
"Sekarang mending kau cari
pacar baru aja."
usulnya kemudian.
Pikiran
Sotul menerawang. Sejak bubaran dengan Christine tujuh bulan silam, dia memang
masih sendiri, memilih menyendiri, tidak ingin buru-buru mencari pengganti.
Sotul takut nantinya menjalani hanya dengan setengah hati. Takut jadi pelarian.
Malahan terkadang, Sotul berharap suatu saat dia dan Christine masih bisa reunian
lagi.
"Gak semudah itu, Put." kata Sotul pelan. Dia
tak bisa pungkiri, bahwa Christine telah menjadi bekas pacarnya yang paling
membekas.
Putra
berdecak geregetan.
"Coba kau buka lebar-lebar
hati dan pikiranmu. Jangan cuma berpikir bahwa hanya Christine wanita di dunia
ini. Indonesia ini luas kali, Sotul. Dari Sabang sampai Merauke, berjajar
pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Dan
berjuta-juta cewek hidup tentram di atasnya. Jadi kalau kau masih sering galau
gak jelas cuma gara-gara seorang Christine yang montok itu, bener-bener gak
ngerti aku."
"Ngomongmu kayak mamak-mamak
aja. Lagian aku gak separah itu. Ya biasalah ingat mantan, sesekali dalam
sejam, muehehee..."
Sotul nyengir onta membela diri.
Disaat
bersamaan, Peni yang tumben-tumbennya olahraga lari sore, melintas di depan
rumahnya Sotul. Putra langsung berdiri dari duduknya. Matanya terjatuh pada
Peni. Dia tidak berkedip mengikuti langkah-langkah lari Peni.
"Mantap kali
pangeolnya."
begitu kira-kira isi gumamnya. Kepalanya geleng-geleng menahan kagum.
Sotul
juga geleng-geleng, bukan pada penampilan Peni, tapi pada tatapan omes (otak
mesum) Putra.
"Kalau Peni aja
gimana?"
tanya Sotul ragu-ragu.
Putra
terhenyak.
"Eh, dia bagianku. Jangan
coba-coba kau, ya!" sentak Putra.
"Akh, kalian ‘kan belum
jadian-jadian juga."
"Sabar dong. Great thing
needs time. Cinta sejati itu butuh proses tahap demi tahap."
Sotul
melotot mendengar Putra nge-english.
Dia sebenarnya tahu, dari dulu Putra memang naksir berat sama Peni, namun yang
ditaksir sampai detik ini masih jinak-jinak merpati, dan Sotul suka
manas-manasin Putra.
"Cari yang lain gitu temen di
kampus. Atau kenalan-kenalan di sosial media. Pokoknya jangan Peni!" tegas Putra memberi
peringatan sambil kembali duduk.
"Iya, deh. Iya."
Tak
berselang berapa lama, Peni kembali melintas dari depan mereka. Putra langsung
berdiri lagi dari duduknya secepat kilat, seperti menyambut tamu kepresidenan.
Kali ini sambil berlari, Peni melempar senyum pada Putra. Putra menangkapnya
dan menyimpannya dalam hati terdalam. Sedangkan Sotul kembali geleng-geleng.
Namun kali ini karena melihat penampilan Peni yang mengenakan sepatu kets
putih, celana training SMA Negeri 1 Tarutung, sehelai handuk kecil melingkar di
leher kayak abang becak, dan baju berlengan panjang tebal berwarna
biru muda, di bagian belakangnya melekat nama dan lambang sebuah instansi pemerintah.
"Pamer kali. Mentang-mentang
baru lulus PNS, jogging aja pakai baju dinas!"
--~o0o~--
Malam
harinya Sotul terus kepikiran kata-kata Putra. Jutaan cewek di nusantara ini,
untuk apa terus berharap pada seorang Christine? Putra benar, dia harus mupon,
harus cari pacar baru kayak Charlie ST12. Iya. Lalu dari jutaan cewek di
seluruh nusantara itu, Sotul membayangkannya satu persatu. Lalu
mengerucutkannya menjadi beberapa orang saja yang kira-kira memungkinkan untuk
dia pacari. Dari beberapa orang itu, setelah dipilah-pilih dan pertimbangkan,
hasil akhirnya justru muncul nama Peni. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya Sotul
juga terpikat sama Peni. Di matanya, Peni nyaris sempurna sebagai wanita.
Cantik, montok, dewasa, anggun, ditambah sekarang sudah jadi PNS. Kekurangannya
cuma satu, Putra! Peni sudah ditandai sama Putra. Cap stempel milik Putra sudah
melekat pada Peni. Dan Sotul tak ingin rebutan gebetan dengan sahabat karibnya.
Dia takut menang.
Malam
itu lumayan dingin. Desa Hutapea memang salah satu desa yang masuk dalam 7 desa
terdingin versi Tarutung. Itu membuat Sotul sulit tidur malam itu. Sotul
merogoh sakunya mengeluarkan ponselnya, lalu iseng-iseng membuka akun Facebook-nya. Sejak putus dengan Christine,
dia memang sudah jarang bersosial media. Seingatnya dalam 2 bulan terakhir malah
tidak pernah sama sekali. Sotul tak menyangka, setelah sekian lama tidak log-in, hampir 2 bulan lamanya, ternyata
sudah ada yang meminta pertemanan padanya. Satu orang! Namanya Rouli, yang langsung Sotul
terima pertemanannya tanpa banyak prosedur dan persyaratan. Dilihatnya sebentar
akun itu, siapa tahu orangnya menarik dan bisa ditindaklanjuti lebih jauh. Tapi
sayang tidak banyak informasi yang Rouli
tampilkan di profilnya itu. Bahkan koleksi foto-fotonya saja hanya berisi
gambar-gambar meme motifasi Mario Teguh.
Sotul
mulai meneliti teman-teman Facebook-nya yang lain. Dia ingin coba mengikuti
saran Putra untuk mencari pacar baru lewat jejaring sosial. Matanya tertuju pada
sebuah akun berfoto profil wanita cakep dengan senyuman manis berbehel. Sotul
langsung naksir, tapi juga langsung kecewa disaat bersamaan. Status wanita itu
ternyata sudah menikah.
Sotul
kembali mencari-cari. Pencariannya kemudian terhenti pada sebuah akun lain
dengan foto profil yang juga cantik dan yang terpenting masih lajang! Tapi
alamatnya Gorontalo? Tarutung ke Gorontalo itu jauhnya selekedep! Sotul kecewa
lagi. Dia memang salah satu oknum yang menentang keras menjalin hubungan LDR.
Baginya LDR itu ibarat macarin HP. Tidak bisa bertatap muka kapanpun dia mau.
Bisanya cuma romantisan di HP, bercanda sama HP, ketawa-ketawa sama HP, bahkan
ciumannya juga sama HP. Macarin HP.
Kekecewaan
Sotul kemudian berlipat ganda setelah selanjutnya menemukan akun lain yang
tinggalnya sekota Tarutung dengan dia, masih lajang, dan tidak ada foto meme
Mario Teguh-nya. Tapi setelah dilihat baik-baik ternyata namanya Bambang
Hasintongan Lumbantobing. Huek!
Tapi
kemudian kekecewaan Sotul tidak berlangsung lama. Sekali lagi dia menemukan
teman Facebook yang kali ini lebih menarik dan cukup potensial untuk
didekati. Cantik, berjenis kelamin perempuan, lajang dan tinggalnya sama-sama
di kota Tarutung.
"Hmm... ini baru masuk
hitungan."
pikir Sotul sambil terus membaca data-data cewek itu. Dari info profilnya gadis
itu adalah lulusan Oxford University tahun 2012 dan saat ini tengah bekerja di
PT. Mencari Cinta Sejati.
Anjing!
Sotul
menepuk jidat. Ketertarikannya seketika kandas. Malah akhirnya hampir muntah lahar
panas setelah melihat nama Facebook cewek itu, 'EnniieEey MoetzSs
ChijemPolmania TaRoeToEngGg'.
Sotul
melempar smartphone-nya ke kasur. Tak berminat lagi mencari pacar lewat
Facebook. Kecewa batinnya. Tidak meyakinkan! Dia memilih menukar posisi
tidurnya saja. Kali ini dengan gaya miring, telapak tangannya menyangga kepala,
kakinya menjuntai lurus saling tindih, dengan sikut bertumpu pada bantal, mirip
putra duyung yang sedang berjemur. Di saat itu, tanpa sengaja matanya melihat
dompet di bawah meja belajar. Sotul bangkit lalu memungut dompet itu. Dipandanginya beberapa
lama. Pikirannya menerawang mencoba mengingat-ingat pemiliknya.
"Pulsa kiloan juga gak
apa-apa, Bang. Yang penting pulsa saya keisi. Butuh cepet, nih."
"Lucu juga gadis itu." gumam Sotul sambil senyum-senyum
sendiri terkenang sang empunya dompet.
Wajah
si gadis yang manis tiba-tiba tergambar jelas di benak Sotul, muncul lubang
kecil di kedua pipinya ketika dia tersenyum. Itu yang membuat Sotul mudah
mengulasnya. Bagi Sotul, lesung pipinya adalah cacat fisik miliknya yang indah.
"Tapi sayangnya masih
SMA."
benak Sotul lagi-lagi kecewa. Dari dulu dia tidak pernah suka menjalin hubungan
dengan ABG, yang menurutnya mayoritas masih labil. Sotul kemudian memasukkan
dompet itu ke dalam tas kuliahnya.
Pernah
dalam rangka mencari jodoh, Sotul membuat skenario gombal paling tampan yang
sudah dia susun berhari-hari sedemikian rapi. Dia berencana akan mempraktekkan
skenario tersebut jika nanti dia mengajak berkenalan seorang gadis.
"Handphone-nya bagus ya, Ito?" Sotul berencana akan
menanyakan itu pertama kali sebagai pembukaan.
"Hehee... Iya. Harganya
mahal loh ini."
Sotul berandai-andai si gadis akan meresponnya begitu.
"Buat saya aja ya, Tok,
handphone-nya?"
Sotul kemudian akan menanyakan itu.
"Dih, jangan dong." si Ito kemudian akan
menjawabnya begitu, menurutnya.
"Umm.. Kalau handphone-nya
gak boleh, nomornya aja boleh 'kan, Tok?" Lantas Sotul mengutarakan inti
tujuannya.
Si
Ito akan langsung tersenyum dan enggan untuk menghindar. Dengan manisnya si Ito
akan memberikan nomor handphone-nya pada Sotul. Setelah itu mereka akan sering
Whatsapp-an, teleponan, ajak ketemuan, makin dekat, lalu pacaran, kemudian
menikah, malam pertama keperjakaan Sotul hilang dan Sotul sama Ito itu kemudian
hidup bahagia selamanya. Begitu!
Tapi...
Kenyataan
di lapangan sering melenceng sangat jauh dari rancangan.
"Handphone-nya bagus ya,
Ito?"
"Iya, dong. Ada senternya,
loh."
"Buat saya aja
handphone-nya, ya?"
"Jangan dong. Rumahku sering
mati lampu soalnya. Apalagi dapur kami gelap."
"Umm.. Kalo handphone-nya
gak boleh, nomornya aja boleh 'kan, Tok?"
"Oh, kalok cuma nomor
boleh-boleh aja sih, Tok."
Kemudian
si Ito membongkar handphone-nya.
"Nih!" si Ito ngasih SIMCARD.
"Bunuh saya sekalian, Itok.
Bunuh! Dasar si Itok tulalit, sama kayak handphone-nya! Kartu SIM buat apa? Di
rumah juga udah ada setoples!"
Di
hari yang lain dan di tempat yang berbeda, dengan modal percaya diri penuh,
nyaris tumpah, Sotul mendekati seorang Ito-ito lugu tak berdosa yang lagi
santai menyandar di tiang halte nungguin angkot kosongdua.
"Handphone-nya bagus ya,
Ito?"
"Handphone??"
"Iya. Handphone-nya ito
bagus. Buat saya aja boleh?"
"Oh, ini bukan handphone,
ini kalkulator, Tok."
"Hah??"
"Iya. Saya kerja di BRI
deket situ. Ini lagi nunggu suami jemput."
Dan
aksi Sotul selanjutnya adalah, nyengir kuda sekilas kemudian perlahan-lahan
melangkah nyamping seperti kepiting, menyetop angkot kosongdua dan meluncur ke
Air Panas. Merendamkan diri ngilangin rasa malu.
Satu
minggu kemudian, setelah yakin rasa malunya hilang dan moodnya sudah kembali ke
keadaan baik-baik saja, Sotul menghampiri lagi seorang Ito-ito sosialita pakai
baju PNS.
"Handphone-nya bagus ya,
Ito?"
"Ah, masa Iphone 15 Pro Max kayak
gini aja dibilang bagus? Ngarang kamu, Tok."
"Bagus kok, beneran, bagus
sumpah. Buat saya aja, ya?"
"Ya udah, nih ambil!"
"Arrgghh! Gila lu, Tok!
Mentang-mentang tajir!"
"Tuhan! Kenapa selalu gagal
melulu?"
teriak Sotul diantara dentuman petir dan hujan yang turun dengan lebatnya,
selebat Christine.
Tapi
bukan Sotul namanya kalau gampang menyerah begitu saja. Sasarannya berikutnya
adalah seorang Ito-ito yang dia temui di depan toko Ganefo.
"Handphone-nya bagus ya,
Ito?"
"Ya iyalah. Emang kayak
punyamu, handphone cina, udah gitu seken, selundupan dari Singapur pulak!"
"Hehee... Bisa aja si Itok.
Emm... Buat saya aja ya, Tok, handphone-nya? Bisa?"
"Apaan, sih! Sok ganteng
banget! Muka kayak jamban jongkok retak aja, belang-belang bopeng, flek
hitaman, belekan, jigongan, cungkring, lama-lama mata gue bisa katarak nonton
muka lo, ngerti gak? Ngaca sanah! Muka lo tuh udah kayak bencana tsunami! Gak
usah sok akrab deh deket-deketin gue! JIJIK!"
Cliingg!! Sotul menghilang.
Begitulah,
karir cinta Sotul setelah usai dari Christine memang tidak pernah lagi berjalan
mulus semulus pahanya. Pernah dulu waktu masih dalam nuansa
sakit-sakitnya ditinggalin Christine, Sotul mencoba membuka hati dan mendekati Mega,
seorang gadis di kampusnya yang baru dia kenal selama empat hari. Dan yang
namanya Sotul, karena sudah malas bertele-tele, langsung tudepoin mengutarakan isi hatinya.
"Mega, sini deh, duduk sini.
Ini serius, aku cinta samamu. Kau mau 'kan jadi pacarku? Udah pokoknya mau aja.
Oke? Okelasip!"
"Apaan, sih? Gak! Gak mau!
Aku gak mau jadi pacarmu!" jawab Mega dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh manusia.
"Ya udah, kalau kau gak mau
jadi pacarku, gimana kalau aku aja yang jadi pacarmu? Hm?"
Mega
menatap muka Sotul seperti sedang menatap Si Ombo-Ombo.
"Eh, kita ini baru kenal dan
masih kuliah, ini juga masih semester dua, gak boleh pacar-pacaran!"
"Ya pacarannya tiap hari
merah lah pas gak kuliah."
"Udahlah, Tul, kita temenan
aja."
"Gak mau, Meg. Aku tuh
butuhnya pacar, udah gak pengen nambah temen lagi. Temenku udah banyak. Ada
Lamhot, Putra, Dede, Tongam, Tigor, Pardangolan, Desi, Mersi, Nora, Gita, Bella,
Enjel, Tukk..."
"Sotul, kau itu salah milih
aku."
Mega memotong pembicaraan Sotul yang ingin memperkenalkan semua nama
teman-temannya. Padahal masih ada 216 nama lagi yang ingin dia sebutkan.
"Kok malah nyalahin aku? Ini
salah kau sendiri, Meg. Kenapa jadi cewek cantiknya semena-mena gitu!"
"Cukup! Pokoknya gak mau.
Titit! Udah ah."
Untuk
beberapa saat Sotul sempat terdiam hampir putus asa. Hatinya berasa sudah patah
jadi limabelas. Tapi, sebagai lelaki tampan, dia tak mau menyerah begitu saja.
Dia segera teringat pada perjuangan bangsa ini yang dulu pantang menyerah saat
melawan penjajah dan hanya memakai bambu runcing mampu sukses meraih
kemerdekaan.
"Ya udah, tunggu di sini
sebentar."
Sotul kemudian beranjak meninggalkan Mega, pulang ke rumah mengambil bambu
runcing, setelah itu kembali lagi menemui Mega.
"Tolong beri alasan masuk
akal kenapa kau nolak aku!" seru Sotul sambil menggenggam erat bambu itu di
tangan kanannya. Sementara tangan kirinya garuk-garuk biji.
"Dengar ya, Sotul. Aku
benar-benar gak bisa terima kau. Karena kau tuh terlalu baik buat aku. Paham,
'kan?"
"Sudah kuduga!"
PRAANNKK!!!
Sotul
langsung menggebuki motor Beat-nya Mega. Segala yang bisa dia hantam
dihantamnya dengan sepenuh hati. Spionnya dipatahin. Knalpotnya diinjak-injak,
lampunya dijual di Shopee, bensinnya dibungkus. Sementara yang Mega bisa lakukan
hanya mematung menyaksikan fenomena tak terduga itu. Dia terkejut sambil
mengelus dada, lantas menatap Sotul dengan mata berkaca-kaca nako.
"Jahat kali kau!" ucapnya parau.
"Mueheheee... berarti
sekarang kau udah gak ada alasan lagi menolak aku, sekarang aku udah jahat. Kita jadian, deh. Okesip?"
"Kau... SAKIT JIWA!" kata Mega ketus sambil
menangis lalu pergi meninggalkan Sotul di semak-semak itu.
--~o0o~--
Next: Episode #04
Comments