#04

  Senin pagi yang sangat tidak cerah. Panas matahari yang aslinya mencapai 1 juta derajat Celcius dengan suhu permukaan sekitar 6000 derajat Celcius, tidak mampu menembus tebalnya awan hitam yang menggelayut di angkasa Tarutung. Memang mendung tak selamanya hujan, tapi kali ini ketika Duma baru separuh jalan menuju sekolah, mendung itu tiba-tiba berubah menjadi hujan yang serius. Buru-buru Duma membelokkan motor Varionya ke pelataran toko Ade Kartika, kemudian dia berteduh di terasnya. Dia sempat terkena hujan sedikit, sehingga di beberapa bagian baju seragamnya tercetak bulatan-bulatan basah air hujan.

Tapi Duma bersyukur bisa cepat menemukan titik tempat berteduh itu. Bahaya jika sampai basah kuyup, baju putihnya bisa tembus pandang, lalu menampilkan bekas koreng di punggungnya yang akan dilihat oleh banyak orang. Di deretan toko itu, agak jauhan, ada sebuah kafe kecil. Nama kafenya Excel Coffee. Tadinya Duma ingin ke sana, numpang teduh sekalian pesan teh hangat. Tapi karena masih pagi, kafe itu masih tutup. Duma tidak meneruskan keinginannya. Dia memutuskan hanya akan berdiri saja menunggu hingga hujan reda. Sambil memperhatikan rinai hujan yang menetes dari tepi atap di atas kepalanya, dia kemudian menciptakan lamunannya sendiri. Mengulas apa saja yang bisa dia ingat.

Hingga beberapa saat kemudian dia melihat seorang pemuda menghentikan motornya tepat di sebelah motor Duma, kemudian berlari kecil ikut berteduh di teras itu dan berdiri di sampingnya. Pemuda itu tersenyum kecil sambil mengangguk pelan ke arah Duma seraya mengusap-usap rambutnya yang sedikit kebasahan. Duma membalas seperlunya, lalu berpaling kembali menikmati hujan.

"Ehemphh..." terdengar cowok itu mengeluarkan suara batuk kering tak penting. Modus mau kenalan. Basi! Batin Duma tak peduli.

"Diem aja. Marah, ya, sama aku?"

Duma menoleh. Menatap lelaki itu tanpa minat. Sebelah sudut bibirnya melengkung ke atas, tersenyum geli atau entah jijik dengan sikap lelaki itu. Kepedean banget. Kenal juga tidak. Duma bergeser sedikit menjauh. Melipat kedua tangannya di dada, kemudian menyandarkan punggungnya ke pintu toko yang masih belum terbuka.

"Kok nyender di pintu?" cowok itu berkomentar sambil menatap Duma tanpa kedip.

"Dakkoto!" akhirnya Duma tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menanggapi lelaki sok akrab itu.

"Ya gak papa, sih. Kasian aja sama pintunya, kecolok-colok sayapnya kamu tuh."
Kening Duma menghernyit tidak paham. Siapa sih ini? Berani-beraninya ngatain aku bersayap. Emangnya aku soptek?

Cowok itu kemudian membuka tas-nya.

"Aku punya sesuatu buat kamu."

Duma tertegun semakin heran. Jangan-jangan lelaki ini mau ngasih bom.

"Nih!" cowok itu menyodorkan sesuatu.

Seketika mata Duma berbinar. Wajahnya cerah. Sesuatu yang sudah tiga hari ini membuatnya pusing tujuh trenggiling ada di tangan cowok dekil itu.

"Matre ih. Gitu diliatin dompet langsung semangat." ledek cowok itu yang tidak lain adalah Sotul.

"Eh, itu 'kan emang punyaku!" Duma langsung merebut dompet dari tangan Sotul.

"Udah beberapa hari ini aku kebingungan nyariin ini. Kenapa baru sekarang dibalikin? Tega!"

"Aku juga udah berhari-hari nyariin kamu buat balikin itu, tapi baru hari ini ketemunya."

Duma memeriksa seluruh ruang-ruang di dompetnya.

"Ah, lipgloss-nya masih ada, duitnya juga masih utuh." Duma mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar Duo Proklamator, masing-masing lembar dilipat menjadi empat bagian terkecil.

"Aku sengaja nyimpan di celah tersulit. Soalnya kalau kelihatan pasti aku abisin buat jajan. Ini buat jaga-jaga, kalau tiba-tiba terdesak butuh uang cash pas tersesat di pulau gak berpenghuni yang gak ada ATM-nya."

Sotul melongo.

"Puji Tuhan, kalungnya juga masih ada. Di sekolah kadang-kadang ada razia perhiasan. Makanya aku simpan di sini." Duma memperlihatkan sebuah kalung emas berliontin Salib perak.

Sotul semakin melongo dongo. Gatal kepalanya, tapi malu untuk menggaruknya. Dalam hatinya dia menyumpah-nyumpah dirinya sendiri atas kekurang-telitiannya kemarin. Dari beberapa lembar uang tadi, Duma membaginya, lalu menyisihkan selembar dan diberikan kepada Sotul.

"Buat kamu."

"Untuk apa?" Sotul menatap Duma dengan tampang pura-pura tak mengerti.

"Oh, kamu mau nyuap aku supaya aku tutup mulut gak bilang ke orang-orang bahwa hari ini aku ketemu bidadari? Gitu?"

"Hahahaa... bukanlah. Anggap aja ini sebagai ungkapan terima kasih karena udah balikin dompetku. Kenapa? Kurang banyak?"

"Eng... gak, gak. Gak usah. Aku tulus kok balikin itu. Gak ngarep imbalan." jawab Sotul munafik, meskipun dalam hati sebenarnya dia mau sekali. Gengsinya yang besar dia buat mengalahkan kemauannya. Dia sebenarnya berharap Duma akan memberinya dengan sedikit pemaksaan agar tidak malu menerima uang itu. Tapi sepertinya Duma tidak peka akan kelemahannya itu.

"Ya udah kalau gak mau." Duma memasukkan kembali uang itu ke dalam dompetnya. Lalu menyimpannya ke dalam tas.

Glek! Sotul menelan ludah. Pait!

"Tapi makasih banget, ya?" tutur Duma sambil tersenyum tipis. Raut wajahnya yang tadinya kurang suka dengan kehadiran Sotul, sekarang tampak lebih bersahabat.

Sotul menahan napas menyaksikan senyum itu. Manis sekali. Lesung pipi yang beberapa malam ini hanya ada di benaknya, kini tersedia memukau di hadapannya.

"Lain kali hati-hati." balas Sotul sedikit telat.

Duma tersenyum semakin lebar sambil memandang Sotul. Nafas Sotul seakan terhenti. Dia baru sadar, selain pesona yang berasal dari lesung pipi itu, gadis itu ternyata juga memiliki pesona dari sumber lain, yakni dari barisan gigi-gigi kelincinya yang lucu-lucu. Duhh.

"Kalau boleh tau nemuin dompetnya dimana?" tanya Duma.

"Emm... Di toko kecil di D.I. Panjaitan."

"Udah duga sih ketinggalan di sana, cuma kemarin pas dicek ke sana udah gak ada. Kirain diambil sama pemilik toko."

"Eh, gak boleh asal nuduh gitu."

Duma kembali menatap Sotul. Dalam hatinya bersyukur karena dompetnya ditemukan olehnya, seandainya orang lain yang nemu, belum tentu bisa dikembalikan utuh seperti ini.

"Kamu baik, ya?"

"Bukan!" Sotul menggeleng kuat.

"Kok bukan?"

"Aku bukan baik, aku Sotul. Kenalin, Sotul Pardamean Nainggolan." Sotul mengulurkan tangan.

Duma tertawa kecil. Untuk beberapa saat dia hanya mengamati uluran tangan itu. Setelah yakin tangan Sotul tidak mengandung listrik, Duma menyambutnya dan menjabatnya erat.

"Aku..."

"Udah tau kok. Kamu Duma, 'kan?" potong Sotul semena-mena.

"Lengkapnya Dumaria Uli Hutapea?" sambungnya lagi.

"Loh, kok tai? Eh, kok tau? Kamu taunya dari TV mana?" balas Duma sok ngartis.

"Baca di situ." dengan lirikan mata, Sotul melirik ke arah dada kanan Duma.

Hati Duma gamang. Dengan sedikit kikuk dia melirik dadanya sendiri. Di baju seragam sekolah yang dia pakai memang tertulis nama lengkapnya. Cepat-cepat Duma menarik tangannya dari genggaman Sotul, kemudian berpaling ke arah lain.

"Harus, ya, dari situ taunya? Huft!" Duma merengut. Dasar mata gak senonoh. Pasti belum pernah ngerasain kelilipan kunci Vario nih cowok! Batin Duma emosi.

"Soriik... Kebetulan aja terteranya emang di situ, 'kan?" Sotul berusaha mencari pembenaran.

"Lain kali coba ditulisnya di kening aja, biar aku ngeliatnya ke wajah kamu terus."
Duma semakin berpaling agar wajahnya tak terlihat oleh Sotul, dia tertunduk, tak ingin Sotul melihat wajahnya yang sebenarnya sedang senyum-senyum sebal. Selain itu, Duma juga sedang merogoh tas untuk mengambil ponselnya yang baru saja berdering nada pesan.

"Sekolah gak?" sebuah pesan Whatsapp dari Tiur.

"Udah berangkat, sih. Tapi ini kejebak ujan. Kau?" balas Duma, juga melalui Whatsapp. Kemudian memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas.

"Maaf atas candaan bodohku tadi." Sotul yang merasa dirinya sedikit ditelantarkan buru-buru minta maaf.

"Gak apa-apa kok. Tapi jangan diulangi lagi."

Sotul tersenyum sambil mengangguk-angguk anggun.

"Tapi kelihatannya kamu masih kesel?" tanya Sotul.

"Kesel gegara hujan ini. Gak berhenti-berhenti. Padahal aku udah kangen banget sama upacara. Udah seminggu gak ikut upacara."

"Kan emang seminggu sekali? Gimana, sih?"

"I hate Monday!" desis Duma.

"I love you." Pengen sekali Sotul mengatakan itu. Tapi takut kalau candaannya membuat Duma keki lagi.

"Eh, jangan gitu dong. Sebenarnya Senin itu hari baik loh. Hari dimana kita memulai segala aktivitas dengan penuh semangat setelah hari minggunya libur."

"Ah, gaya aja kamu." Duma tersenyum, meledek ringan.

"Beneran! Kamu kenal Bill Gates sama Mark Zuckerberg gak? Mereka lahirnya hari Senin loh. Banyak juga tokoh besar lainnya yang lahirnya hari Senin."

Duma takjub, kemudian memandangi Sotul dari ujung rambut sampai ujung aspal. Sotul tersenyum, karena dalam benaknya dia hanya asal mengarang saja dua tokoh besar itu lahirnya hari Senin.

"Senin juga berarti bunga. Bunga biasanya disukai banyak orang karena keindahannya. Yang lahir di hari Senin, dimana pun dia berada, dia selalu tampil rapi dan prima. Jadi gak heran kalau banyak orang yang menyukainya. Kekurangannya hanya egois dan keras kepala, itu aja, tapi si bunga ini juga murah hati loh."

Duma semakin takjub. Meski tampangnya urakan, tapi cowok ini sepertinya pintar dan suka membaca, membaca keadaan.

"Dan di hari Senin ini pula kamu bisa kenal dengan aku. Kurang bagus apa lagi coba?" tambah Sotul memungkasi ceramah singkatnya.

Duma tertawa di dalam hati. Menurutnya yang terakhir itu maksa banget. Kemudian kembali menatap ke layar androidnya, ada balasan pesan dari Tiur.

"Sekolah. Aku sama Rut udah di kelas."

"Lagi Facebook-an, ya?" tanya Sotul pengen tahu.

"Iya, hehe..." jawab Duma singkat sambil tertawa garing.

"Pasti update status 'Lagi berteduh di teras toko Ade Kartika sama cowok ganteng'?" tuduh Sotul serampangan.

Duma sontak memandang Sotul, kemudian menutup mulut dengan ponselnya, menyembunyikan tawanya. Beruntung tadi di rumah Duma tidak sarapan banyak, sehingga tidak sampai muntah.

Setelah itu mereka sama-sama terdiam. Dalam diam, diam-diam Duma mencuri pandang ke arah Sotul, memandangi wajah cowok itu yang sebenarnya begitu sempurna. Dagu, bibir, pipi, sepasang mata, bulu mata, alis, jidat, hidung, komedo, sedikit upil, semuanya lengkap, tanpa kurang satu pun. Sempurna! Kurangnya paling hanya kurang genteng.

Sotul yang merasa curiga dan agak risih karena diperhatikan, diam-diam membalas melirik Duma untuk membuktikan kecurigaannya. Dan prikitiuw! Tatapan mereka bertabrakan. Beradu untuk beberapa saat. Duma gelagapan malu dan buru-buru mengalihkan matanya. Sambil senyum-senyum seadanya, Sotul juga kembali memandang ke hujan.

Hujan mulai mereda, tinggal tetes-tetes terakhirnya saja menghantam tanah. Jalanan di depan mereka juga mulai dipadati pengendara motor yang terlihat terburu-buru. Tapi Sotul tidak menyukai situasi itu. Karena dalam benaknya, begitu hujannya berhenti total, mereka akan berpisah, dan pertemuan berkualitas ini akan berakhir begitu saja. Sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi, Sotul harus memperoleh nomor HP Duma. Harus! Bagaimana pun caranya.

"Eh, kamu punya obeng gak?" Sotul mulai meracik konversasi ke arah ngemis nomor.

"Gak. Aku punyanya nomer HP. Mau?"

"Hmm... Boleh, boleh."

Dengan penuh semangat Sotul mengeluarkan anunya, ponselnya. Lalu mengetik angka-angka yang disebutkan Duma.

"Kosong lapan lima dua, sembilan tujuh lima kosong, lapan kosong kosong tiga."

"Coba di-misscall." perintah Duma.

Sotul berhenti menekan tombolnya di tombol panggilan, lalu mendekatkan handphone ke telinganya.

"Haloh? Emm... Iya, gak papa, saya maafin. Oh gitu? Ya udah. Makasih ya, Mbak?"

"Ngobrol sama siapa? Salah nomer pasti, gak masuk kok di sini." Duma bingung.

"Tau nih siapa. Suaranya sih kayak perempuan. Kamu ngasih nomer yang bener, gak?"

"Masa, sih? Dia ngomong apa?" Duma serius bingung.

"Pertamanya dia minta maaf. Ya aku maafin, dong. Siap itu dia bilang 'pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, segera lakukan pengisian..."

"Iiiih!" Duma geram tak tertahankan, lantas mendorong Sotul keluar teras. Sotul terlempar beberapa langkah sampai terkena gerimis, tapi dengan cepat Sotul meraih tangan Duma, menggenggamnya erat, sehingga gadis itu ikut tertarik bersamanya. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terguyur gerimis, seperti adegan di pilem India. Sotul tertawa, kemudian berlari menggandeng tangan Duma kembali masuk ke teras toko.

"Jahat." ucap Duma sambil mengibaskan air yang membasahi seragamnya. Wajahnya yang sedikit basah tampak merona.

Sotul belum bisa berhenti tertawa.

"Kan kamu yang berusaha mencelakaiku duluan. Muahahaa..."

Untuk beberapa saat, mereka berdua tampak langsung akrab seperti sudah saling mengenal lama. Tawa-tawa mereka sudah bisa lepas bebas begitu saja. Mereka juga mulai sibuk saling bersahutan tanpa rasa canggung lagi.

Dan akhirnya hujan benar-benar berhenti. Gerimis pun lenyap. Duma bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

"Kamu sendiri mau kemana?" tanya Duma.

"Ke kampus. Aku kuliah di Unita, jurusan sastra mesin." jelas Sotul tanpa diminta menjelaskan.

"Hahahaa.. emang ada sastra mesin?"

Mereka berdua masih asik saling tertawa dan menertawai.

"Nanti kalau ada telepon dari nomor baru yang awalnya +62 dan buntutnya 88, itu aku." pesan Sotul.

Duma tersenyum tipis sambil memasang helmnya.

"Sekali lagi, terima kasih udah balikin dompetku."

"Sama-sama."

Tapi tiba-tiba Duma teringat sesuatu. Buru-buru dia kembali melepas helm-nya.

"Eh, tapi gimana caranya kamu bisa tau kalau ini dompetku?"

"Eh, Mmm..." Sotul garuk-garuk kepala. Dia sama sekali tidak menyangka akan muncul pertanyaan seperti ini.

"Secara di dompetku gak ada kartu identitasnya. Terus perasaan, pagi itu di sana cuma ada dua orang. Pemilik toko sama... Ada sih seorang pengemis yang memprihatinkan banget. Sangkin kasihannya aku beri dia uang seribu. Kalau pemilik toko, pas aku datangin dia gak tau menahu. Jadi jangan-jangan..."

Sotul tidak berani melihat ke arah Duma. Dia pura-pura serius memandangi langit.

"Eh, coba deh lihat ke langit. Awan mendungnya keren, jalan sendiri."



                                  --~o0o~--

Next: Episode #05

Comments