#05
Hujan sudah berhenti
total. Menyisakan genangan-genangan kecil di halaman sekolah. Aroma alam juga
segar menyenangkan. Segar sehabis dibasahi hujan semalaman. Kedatangan para
guru dan murid yang tadi sempat terhambat cuaca, kini mulai kembali ramai
lancar. Berkumpul di sekolah dari segala penjuru Tarutung. Tapi berhubung
lapangan sekolah dalam kondisi basah, serta warga sekolah belum sepenuhnya
hadir, akhirnya yang seharusnya pagi ini dilaksanakan upacara bendera, terpaksa
diundur Senin depan. Itu pun jika tidak hujan lagi.
Di
kelas 3 IPS A, tampak Duma yang baru saja memasuki kelas langsung bergabung
dengan dua sahabatnya yang sudah lebih dulu sampai.
"Dor!" begitu cara Duma
menyapa.
Rut
yang tengah serius membaca novel Dilan, serta Tiur yang tengah asik menatap
gerimis sambil menggigiti ujung balpoin, serempak menoleh ke arah Duma.
"Seneng kali kayaknya. Dapat
kenalan ganteng lagi?"
tuduh Rut sambil menutup novel yang dibacanya.
"Sok tau!" bantah Duma sambil
tersenyum.
"Dompetku udah ketemu."
"Beneran ketemu?" tanya Tiur setengah tak
percaya.
Duma
lantas memamerkan dompet di tangannya.
"Isinya masih utuh. Uang sama
kalungnya gak diambil sama yang nemuin."
"Wah. Gimana
ceritanya?"
Duma
mendaratkan pantatnya di salah satu kursi, bersiap bercerita.
"Jadi gini. Kebiasaan aku
tuh 'kan tiap bangun tidur langsung cantik. Tiap pagi aku selalu begitu, selalu
cantik. Tapi tadi pagi beda, begitu bangun aku langsung sedih, teringat sama
dompetku yang belum ketemu-ketemu. Karena kita udah datengin toko itu dan
ternyata di sana gak ada, kupikir dompetku ketinggalan di rumah. Makanya
seluruh rumah kuubek-ubek. Bahkan aku sampai mengerahkan kekuatan seluruh
keluargaku buat nyariin. Tapi tetep aja gak ketemu. Sedih banget, 'kan?"
"Iya sedih bangetlah
pastinya. Terus?"
timpal Rut.
"Abis itu aku pipis, mandi,
cukuran dikit, terus luluran. Siap itu berdoa, memohon agar dompetku bisa
kembali dalam keadaan selamat. Soalnya kata pak Pendeta, kalau kita
menginginkan sesuatu, selain dengan usaha, sebaiknya juga diiringi dengan doa.
Iya, 'kan?"
"Iya, iya. Terus?" tanya Tiur semakin
penasaran.
"Habis berdoa aku
beres-beres kamar sebentar. Aku tuh ya, biar cantik begini, rajin beres kamar
sendiri tau gak? Gak melulu ngandelin pembantu. 'Kan kasian juga tugas Kak
Sabet di rumah udah banyak. Mulai dari masak, nyapu, ngepel, cuci piring, cuci
baju, cuci motor, cuci darah..."
"Terus?" potong Tiur tidak
sabaran.
"Kemudian setelah kamar rapi
aku buka lemari..."
"Dan ternyata dompet itu ada
di dalam lemari?"
potong Tiur sekali lagi, menebak.
"Bukan! Aku buka lemari mau
ngambil seragam sekolah."
"Terus ketemu dompetnya kapaaaaann...?" Tiur habis kesabaran.
"Tunggu dong! Jangan
dipotong-potong terus. Nah, selesai memakai seragam aku sarapan kayak biasanya.
Bagiku sarapan itu penting, buat menjaga stamina kita agar tahan sampai siang
hari. Dokter-dokter juga menganjurkan kita agar gak lupa sarapan. Tapi
gara-gara terus kepikiran sama dompet, aku sarapannya gak selera. Cuma dikit
langsung berangkat sekolah. Eh, di tengah jalan tiba-tiba hujan deras. Deras
kali. Karena di tengah jalan hujan, tentu aku minggir, 'kan? Aku belok terus
neduh di Ade Kartika. Tokonya masih tutup. Mungkin yang punya kecapean karena
liburan di hari Minggu kemarin."
Rut
mulai mengantuk.
"Tiur, aku mau lanjut baca
novel dulu, ya? Ntar kalau si Duma ini ceritanya udah sampe di dompet, tolong
kabarin."
"Okelasip!" jawab Tiur, yang dia
sendiri pun kemudian memilih menatap mendung dari balik kaca kelas.
Sementara
itu, Duma masih semangat bercerita.
"Pas aku di toko itu, ada
seorang mahasiswa datengin aku. Dan ternyata, dialah sang penemu
dompetku!"
Tiur
terkesiap. Rut yang tengah membaca novel di sebelahnya disikut tiga kali.
"Yur, Yur, Yur, udah sampai
di adegan ketemu dompet!"
"Terus gimana? Gimana?" tanya Rut yang merasa
ketinggalan cerita.
"Penemu dompet Duma ternyata
mahasiswa."
Tiur sedikit flashback.
"Mahasiswa yang baik." Rut tersenyum ikut
senang. Syukurlah, bahagianya Duma murni karena dompetnya ketemu, bukan karena
kegenitan kenalan dengan cowok ganteng baru.
"Selain baik, orangnya juga
lumayan ganteng, sih."
"What?" Rut melotot ke arah
Duma, lalu memukul pelan meja di depannya dengan novel.
"Ujung-ujungnya ke ganteng
juga!"
Duma
tertawa melihat reaksi rekan-rekannya.
"Ya udah, lupain soal
gantengnya. Yang jelas, pemuda itu pastilah orang yang baik. Buktinya dia mau
ngebalikin dompetku dalam keadaan utuh, udah gitu waktu aku kasih imbalan dia
nolak. Udah gitu, di dompetku 'kan gak ada kartu identitasnya, tapi dia rela
berusaha nyariin aku buat ngembaliin."
"Iya. Bener-bener baik
dia."
Rut setuju.
"Tapi ganteng juga,
sih."
lanjut Tiur menyindir.
Kemudian
hening. Tiur gantian membaca novel yang tadi dibaca Rut. Duma masih
senyum-senyum memandangi dompet yang telah kembali dalam genggamannya. Rut diam
karena tak tahu harus ngomong apa.
"Eh, ntar sore kita ngumpul,
yuk?"
akhirnya Rut mendapat bahan untuk diomongkan.
"Hayuk. Dimana?" tanya Duma.
"Di rumah Tiur,
gimana?"
usul Rut.
"Betul. Kali ini di rumahku
aja."
sahut Tiur tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran novel yang dibacanya.
"Di rumah Tiur ajalah. Di
rumah Rut udah pernah, di rumahku juga udah sering." Duma yang masih fokus ke
dompetnya ikut menyumbang saran.
Sesaat
kemudian dia menoleh menatap dua sahabatnya.
"Eh, tapi aku belum tau
rumahnya Tiur."
"Gampang! Dari rumah Rut ke
rumahku cuma berjarak lima rumah aja. Yang catnya putih." Tiur menerangkan.
Duma
coba mengingat-ingat.
"Oh itu, yang ada pintu sama
jendelanya itu, ya? Terus lima rumah dari rumahnya Rut, 'kan?"
"Yo'i." Tiur menempelkan
jempolnya di hidung Duma
Selain
di sekolah, mereka bertiga memang kerap berkumpul sedikitnya sekali seminggu. Berenang
di komplek Militer, mandi di Air Soda, makan, nongkrong, jalan-jalan ke luar
kota, buru harta karun, berburu hantu atau berkumpul di rumah salah satu dari
ketiganya. Sejauh ini yang paling sering adalah di rumah Duma. Di rumah Rut
baru digelar dua kali. Sedangkan Tiur, sore nanti baru mendapat kesempatan
pertama menjadi tuan rumah.
--~o0o~--
Jam
istirahat pertama. Seperti biasa, Duma beserta duo sahabatnya nongkrong di
kantin untuk isi ulang perut. Yang tidak biasa, beberapa menit kemudian Tikko
menyusul ke sana.
"Duma ntar sore jalan,
yuk?"
ajak Tikko.
"Kemana, Tik?" tanya Duma sambil tak
berkedip menatap betapa gantengnya Tikko.
"Kemana aja. Aku 'kan udah
lama gak di sini. Takut tersesat."
"Lebay kau, Tikko. Gak bisa.
Kami bertiga nanti sore udah ada acara." Tiur memotong tidak rela.
"Acara apaan? Gabung
dong?"
"Iya sekalian aja gabung. Di
rumah Tiur."
ajak Duma.
"Gak boleh. Ini acara khusus
cewek!"
si tuan rumah menolak.
"Yaah... Kenapa?" Tikko kecewa.
"Iya, kenapa?" Duma ikutan kecewa.
Padahal
kalau ada Tikko 'kan lebih seru. Ada pemandangan menyenangkan yang bisa
dilihat. Batin Duma begitu.
"Gak denger tadi, ini acara
hanya untuk kaum cewek? Tapi ini masih siang kok. Kau bisa operasi kelamin dulu
sana, biar ntar sore bisa ikutan." tegas Tiur.
"Dih. Kejam banget sih kau,
Tiur?"
sesal Duma.
"Biarin!" sahut Tiur cetus.
"Ya udah, gak apa-apa deh.
Besok aja."
Tikko mengalah.
"Iya, besok aja." Duma tersenyum senang
melihat Tikko yang tampan plus penyabar.
Tikko
kemudian buru-buru permisi pergi. Karena pada saat yang bersamaan, Gomos
memasuki kantin dengan tampang tidak ramah.
"Sengaja janjian sama dia di
sini, ya?"
tanya Gomos sinis.
"Gak!"
"Kalau gak, ngapain kau sama
dia ada di sini?"
"Gomos, apaan, sih? Ini bukan
kantin leluhurku. Gimana caranya aku ngelarang dia masuk kemari?"
Gomos
mendengus gusar.
"Ngobrol apaan tadi?"
"Dia ngajak jalan sore
nanti, tapi aku gak mau!"
"Bagus! Ntar jalan sama aku
aja."
"Gak! Nanti sore aku mau
ngumpul di rumah Tiur."
"Ya udah, aku ikut."
"Gak boleh. Ini tuh acara
khusus cewek. Kalau nekad pengen ikut, sana ke Thailand dulu operasi."
"Huh! Dasar egois!" seru Gomos ketus,
kemudian beranjak pergi meninggalkan ketiganya tanpa permisi.
Duma
mengambil sikap bodo amat atas sikap Gomos. Capek!
--~o0o~--
Next: Episode #06
Comments