#06
Untuk mempercepat perjalanan jika Duma berpergian,
orang tua Duma telah menyediakan beberapa alternatif alat transportasi yang
bisa Duma pilih sesukanya. Ada dua motor dan sebuah mobil. Motor pertama
matic, dan satunya bukan matic. Namun sehari-hari Duma lebih sering
menggunakan yang matic, soalnya tidak perlu capek-capek oper porseneling.
Untuk
mobil, Duma belum pernah menggunakannya. Dia belum punya SIM A. Selain tidak
ingin menambah jalanan macet kayak jomblo-jomblo liar disaat malam Minggu, dia
lebih memilih memakai motor. Lebih praktis pakai motor, takut dibilang pamer
harta orang tua, dan selain itu Duma memang tidak bisa menyetir mobil.
Meskipun
lebih suka memakai matic, bukan berarti motor yang satunya sama sekali
tidak dipakai. Sesekali Duma masih menggunakannya. Misalnya seperti sore ini,
Duma memilih motor yang bukan matic untuk membawanya ke rumah Tiur. Yang
sayangnya pilihannya kali ini benar-benar salah besar dan justru
menghantarkannya pada situasi sial. Saat masih dalam perjalanan, tiba-tiba
rantainya putus.
"Aduh... Ada-ada aja sih
motor ini. Padahal kalau pakai yang matic gak pernah putus rantai kayak
gini."
ratap Duma. Kepalanya bergerak ke kanan kiri mencari bengkel. Tapi jangankan
bengkel, gubuk derita saja tidak ada yang mangkal di sana sore itu.
Duma
mengeluarkan ponsel dari jok motor, menghubungi pacarnya meminta pertolongan
pertama.
"Gomos, kemari dong, aku
lagi di jalan, sepi, nih."
"Ngapain? Baru juga beberapa
jam pisahan, masa udah kangen lagi, sih?"
"Ini bukan soal
kangen-kangenan! Rantai motorku putus. Tolongin."
Tidak
ada jawaban.
"Mos? Gomos? Halo?"
"Iya. Halo juga."
"Kau denger aku ngomong gak,
sih?"
"Denger. Denger, kok. Tapi
aku sambil nonton DVD, ya? Emang di sekitar situ gak ada bengkel?"
"Kalau ada, aku gak akan
nelepon kau!"
"Kau juga sih, tadi diajak
jalan gak mau. Giliran kenapa-napa baru hubungin aku."
"Mau nolongin gak,
sih?"
"Iya, iya. Tapi
bentar."
"Bentarnya kapan?"
"Bentar lagi."
"Kau lagi dimana sih ini? Di
Jalur Gaza? Kok kayak ada suara-suara tembakan gitu?"
"Tadi 'kan aku udah bilang
lagi nonton DVD. Nih, lagi seru-serunya adegan perang. Tadi itu penjahatnya
kabur, terus polisinya dateng, tapi penjahatnya langsung nembak polisinya,
terus..."
"Gak penting, Mos! Gak
pentiiing!"
Duma berteriak fales.
"Mau nembak polisi kek,
paranormal, pengacara, dukun beranak, bodo amat! Yang penting kalau ditolak jangan
main dukun."
Duma gondok berat.
"Jadi kapan kau
kesininya?"
tanya Duma ngotot.
"Sabar. Bentar lagi."
"Dari tadi bentar lagi.
Bentar lagi kapan? Tunggu dukunnya datang?" cecar Duma makin kesal dengan
sikap Gomos yang lebih mementingkan DVDnya.
Tapi
tak ada tanggapan apapun dari Gomos. Sepertinya dia lebih konsen ke film yang
ditontonnya. Kekesalan Duma akhirnya mencapai puncak.
"Gomossshh!! Denger
baik-baik, aku mau ngomong penting samamu!"
"Ngomong deh. Aku sambil
nonton ya, Sayang?"
"Sekarang juga, kita
puuutus! Putuss!"
"Apa?"
"Putuss!!"
"Oh. Ya udah."
"Gomos sialaaan!"
Duma
mematikan telepon dengan sebuah pencetan kejam di ponselnya. Pengen rasanya
menangis sambil mencakar-cakar aspal. Sudah rantai motornya putus, sekarang pacarannya
juga putus. Tapi putus rantai ini yang paling menyedihkan. Mending tali
sandalnya saja yang putus, bisa langsung Duma buang ke tempat sampah. Kalau
rantai motor yang putus, Duma jelas tidak kuat mengangkat motornya ke tempat
sampah.
Duma
kembali menghubungi seseorang. Sambil berharap kali ini orang itu lebih peduli
dengan penderitaannya.
"Halo, Duma. Kau udah nyampe
mana?"
tanya Tiur lebih dulu menyapa.
"Masih di jalan. Rantai
motorku putus."
jelas Duma dengan suara sedih.
"Ya udah kau cepetan ngebut
aja. Cuma rantai putus, ntar sampai di rumahku kita sambung lagi."
"Tiuuuurr!!" pekik Duma geregetan,
pengen rasanya menyobek-nyobek mulut gadis itu, seandainya Tiur memang masih
gadis. Rantai putus bagaimana caranya mau ngebut? Ternyata Tiur sama tak
pedulinya dengan Gomos! Huh!
"Eh, iya, ya udah, Duma. Oke
oke, kau jangan kemana-mana. Tetap tenang, jangan membuat gerakan-gerakan
mencurigakan. Aku segera ke sana." seru Tiur dari seberang sana.
"Cepetan!" harap Duma mengakhiri
pembicaraan.
Bersamaan
dengan itu, muncul motor dengan kecepatan tinggi meraung-raung melewati Duma
begitu saja. Kekesalan Duma semakin tak terperi.
"Dasar gak tau sopan!
Mudah-mudahan kau juga putus rantai kayak gini biar tau rasa!"
Ciiitt...
Pengendara
motor Revo modifikasian itu menginjak rem. Bunyi gesekan antara ban dan aspal
sudah mirip jeritan 'tikus' kejepit resleting. Motor itu mengerem mendadak lalu
berbalik akrobatik berputar arah kayak di adegan film Vin Diesel, setelah itu
tancap gas menghampiri Duma.
Duma
deg-degan. Jangan-jangan sumpah serapahnya tadi terdengar orang itu dan orang
itu datang untuk bikin perhitungan. Deg-degan Duma kian menjadi manakala motor
itu berhenti tepat hanya dua meter di depannya. Meski masih memakai helm, Duma
sadar orang itu tengah mengamati dirinya di wajahnya.
Orang
itu mematikan mesin. Duma mundur beberapa langkah, siap siaga dengan segala
kemungkinan. Dilihat dari motornya, orang itu sepertinya bukan orang baik-baik.
"Kayak pernah lihat
kamu."
kata orang itu tiba-tiba sambil mengangkat kaca helmnya.
Duma
memperhatikan wajah orang itu baik-baik. Beberapa saat Duma tercengang, setelah
itu langsung berganti dengan senyuman yang merekah lega.
"Eh, iya, benar. Ini Duma.
Lengkapnya Dumaria Uli Hutapea. Yang tadi pagi neduh bareng di teras toko itu.
Nih, lihat aja namaku."
Seru Duma sambil membusungkan dada kanannya.
"Rantainya putus?" basa basi Sotul turun
dari motornya.
"Iya. Putus sendiri
tadi."
"Iyalah. Masa kamu yang
mutusin. Dia 'kan bukan pacar kamu."
"Ehehee..." duma tersenyum. Entah kenapa
kehadiran Sotul serta merta menghadirkan rasa aman dan membuat dirinya merasa
terlindungi.
Sotul
mendekat, lalu jongkok di sebelah motor Duma dan memperhatikan rantainya yang
berantakan.
"Mungkin kekencengan nih
tadi, makanya putus."
Duma
diam saja. Dia tidak mengerti seluk beluk dunia otomotif, apalagi rantai.
Jangankan rantai, sekedar mengatur posisi spion saja Duma sering kzl.
"Nyetel rantai itu harus
pas. Kalau terlalu kuat, ya putus."
"Berarti kayak pacaran dong,
kalau dikekang terlalu kuat malah jadinya putus, iya, 'kan?" tanya Duma. Di benaknya
langsung terbesit sosok Gomos.
Sotul
menoleh.
"Curhat ya kamu?"
"Gak, gak. Gak kok." Duma menggeleng.
Sotul
berdiri lalu melangkah ke motornya untuk mengambil kunci-kunci yang selalu
dibawanya di bawah jok. Setelah itu, dengan cekatan Sotul mulai membongkar
rantai motor Duma. Tangannya kotor menghitam ternoda oleh rantai. Duma hanya
menonton dengan tatapan kagum.
"Lucu juga, ya, gak sengaja
ketemu kamu sehari sampai dua kali kayak gini?" tutur Duma yang kemudian ikut
jongkok di samping Sotul.
Duma
mengeluarkan selembar tisu, kemudian menyapukan tisu itu ke wajahnya sendiri,
bukan ke wajah Sotul. Ini dunia nyata bung, bukan adegan romantis di FTV.
"Kalau sehari tiga kali itu
namanya minum obat."
sambung Sotul kemudian.
"Kalau ketemunya sehari tiga
kali juga bisa dapat gelas cantik." balas Duma ikutan melucu.
"Gelas cantik? Kayak undian
kupon aja."
Sotul menoleh.
"He'emph!" Duma mengangguk-angguk
sambil tersenyum centil memamerkan lesung pipinya.
Sotul
kembali fokus pada lesung pipi itu. Matanya ditarik lagi jatuh ke pesona itu.
Dia menatapinya sampai lesung itu memudar.
"Berarti payung yang habis
dipegang kamu, dong."
seru Sotul mengalihkan kagumnya.
"Ah, apaan sih, baru kenal
udah gombal."
"Ah, aku masih mending.
Daripada keong racun?"
"Kenapa keong racun?"
"Baru kenal udah ngajak
tidur."
"Hahaha..." Duma pecah ketawanya,
lesung pipi itu muncul lagi. Sotul kembali fokus pada lesung pipi itu. Entah
kenapa setiap kali lesung pipi itu muncul, mata Sotul tak bisa menghindarinya.
Sotul
segera menepis kagumnya pada pesona itu. Dia mengambil batu, kemudian
digunakannya untuk memukul-mukul potongan pin yang tertancap di sambungan
rantai. Gerakannya sudah begitu terlatih. Duma tetap hanya menonton. Ingin
turut membantu tapi tidak tahu harus berbuat apa.
"Motor kamu motor apaan,
sih? Berisik banget. Udah gitu kayak motor-motor penjahat di sinetron Indosiar.
Tadi aku sempat takut."
kata Duma sengaja mengajak Sotul ngobrol sambil menunjuk motor merah milik
Sotul.
Sotul
tertawa mendengar penuturan Duma.
"Itu cuma Revo 110cc, tapi
udah kumodifikasi ke pengaturan pabrik. Wajar kalo kamu takut, soalnya memang
banyak yang bilang kalo motor modifan itu motornya jambret."
Duma
manggut-manggut berusaha mengerti.
Meski
sering diledek sebagai motornya para penjahat, Sotul bangga dengan motor yang
sudah setia bersamanya sejak dari tahun 2006 itu. Motor itu juga yang sudah
menghantarkannya meraih ijazah SMP dan SMA. Dan sekarang juga masih setia
menemaninya untuk mengejar gelar S.Kom.
Tiba-tiba Handphone Duma
berdering. Tiur menelepon.
"Halo, Duma. Ini aku udah
berangkat mau nyelametin kau. Tapi tadi lupa nanya posisimu dimana."
Duma
memandang sekeliling.
"Gak tau ini dimana. Entah
jalan apa ini namanya."
"Bisa jelasin
ciri-cirinya?"
"Emm... Bisa, bisa. Aspalnya
hitam, keras, trus di pinggir jalan banyak tiang listriknya,
tinggi-tinggi."
"Duma, andaikata kau dibunuh
orang di sana jangan hantui aku, ya?"
Duma
tertawa terbahak-bahak. Rasanya puas sekali berhasil membalas perbuatan Tiur
yang tadi sudah membuatnya kesal.
"Gaklah, mana mungkin hantu
menghantui hantu. Udah ya, kau gak usah ke sini. Basi. Udah ada yang
nolongin."
"Serius?"
"Banget!! Kau tunggu di
rumaha aja."
"Siapa yang nolongin? Dari
nada ngomongmu yang gintal, kayaknya cowok. Ganteng gak?"
"Hahaha... Ada deh. Nanti
aku ceritain."
Duma menutup telepon tanpa pamit.
Selesai
Duma berteleponan, ternyata Sotul juga sudah selesai menyambung rantai motor
Duma.
--~o0o~--
Next: Episode #07
Comments