#07
Di atas motor sepanjang
lanjutan perjalanan menuju rumah Tiur, Duma terus kepikiran pada pertemuannya
dengan Sotul yang sehari ini sudah dua kali, dua-duanya secara tidak sengaja
dan dua-duanya juga Sotul datang memberikan pertolongan. Sungguh kebetulan yang
sangat aneh. Hingga tahu-tahu Duma sudah sampai di depan kediaman Tiur, yang
memang tidak susah menemukannya, karena hanya berjarak lima rumah saja dari
rumah Rut.
Setelah
parkir motor, Duma mendekati pintu rumah Tiur dan mengetuknya dari luar.
Ternyata Rut yang membukakan. Duma kemudian masuk sambil memperagakan wajah
berseri-seri penuh senyum.
"Habis putus rantai kok
malah bahagia?"
protes Tiur.
Duma
cuek dan langsung menghempaskan badannya di sofa di samping Tiur. Sementara di
meja sudah terhidang 3 gelas sirup jeruk dan 2 piring cemilan biji nangka
rebus. Tanpa menunggu dipersilahkan, Duma mengambil salah satu gelas yang
isinya masih penuh, diseruputnya hingga habis tiga perempat.
"Kalian percaya gak tentang
keberadaan malaikat-malaikat yang menyamar jadi pengemis?" tanya Duma sambil
meletakkan gelas.
"Dan kalau kita menolong
pengemis itu, pengemis yang sebenarnya malaikat itu akan balas menolong
kesusahan kita?"
tebak Tiur.
"Tepat!"
"Ah, itu 'kan cuma
dongeng!"
"Fiktif belaka." Rut yang duduk lesehan
di dekat pintu turut menimpali.
"Tapi aku udah ngalamin
sendiri. Beberapa hari lalu aku memberikan uang kembalian beli pulsa pada
seorang pengemis yang lusuh banget. Dan ternyata, pengemis itu adalah jelmaan
malaikat. Dialah penyelamatku. Dia yang mengembalikan dompetku pagi tadi. Dia
juga yang hadir ketika tadi rantai motorku putus."
"Masa, sih?" Rut sangat tidak
percaya.
"Buat apa aku bohong?"
"Yang kau bilang orangnya
ganteng tadi itu?"
Tiur penasaran.
Duma
menggeleng sambil menaikkan kedua alisnya.
"Kami udah kenalan. Tadi dia
nanyain obeng, tapi aku kasih nomer HP. Semoga setelah ini aku dan dia bisa
kenal lebih dekat. Rasanya jadi pengen kembali ke jaman Siti Nurbaya, terus dijodohin
sama lelaki malaikat itu. Hahaha..."
"Dasar! Terus Gomos gimana?
Tikko gimana?"
"Gomos udah aku putusin.
Kalau Tikko sih rencananya untuk pacar khusus di sekolah aja. Terus mahasiswa
itu untuk pacar cadangan. Hahahaa..." jawab Duma ngasal.
"Soalnya sulit kalau disuruh
milih salah satu."
"Padahal baru sebulan jadian
sama Gomos, udah putus aja!"
"Abis gimana, tadi dia gak
mau nolongin aku waktu rantai motorku putus, ya udah aku putusin juga sekalian.
Untung gak lama kemudian datang malaikat berkuda besi 110cc menolongku. Tanpa
aku minta dia langsung turun tangan benerin rantai motorku. Tangannya
hitam-hitam belepotan rantai. Badannya sampai keringetan. Laki banget!"
"Namanya siapa?" Tiur akhirnya penasaran.
"Namanya..." Duma urung meneruskan jawaban
pertanyaan Tiur, karena kemudian terdengar ada tamu mengetuk pintu depan, dan
perhatian Tiur pun langsung beralih ke sana.
"Tolong bukain dong,
Rut?"
titah Tiur, mengingat Rut yang keberadaannya memang paling dekat dengan pintu.
Rut
mendekati pintu dan memutar kuncinya. Kenop pintu diputar dari luar, kemudian
terbuka perlahan.
"Namanya siapa tadi?" Tiur kembali bertanya.
"Sotul." kata Duma dengan mimik
kaget memandang ke arah pintu.
"Siapa?" Tiur menoleh ke arah
Duma ingin lebih memastikan.
"Sotul Pardamean Nainggoo...." kalimat Duma terpotong
karena menyaksikan tamu yang datang itu.
"Duma?" Dari arah pintu, Sotul
terbengong menatap Duma.
Tiur
memandang Sotul yang mulai melangkah masuk, kemudian kembali memandang Duma
curiga.
"Jadi dia yang menggentayangi
kau seharian ini?"
Duma
mengangguk pelan dengan wajah super duper bingung. Ini sudah lebih dari aneh.
Dia benar-benar bertemu Sotul lagi!
"Maksudmu Bang Sotul? Abangku
ini?"
tanya Tiur.
"Hah? Abangmu?" wajah Duma langsung
memucat.
"Kau gak lagi ngaku-ngaku
'kan, Tiur? Kau becanda, 'kan?"
"Emang dari tadi kau gak
liat foto itu?"
jari telunjuk Rut menuding sebuah foto keluarga yang menggantung tampan di
dinding di belakang Duma.
Masih dalam posisi duduk, Duma berpaling memandang foto
yang dimaksud Rut. Di sana ada gambar Sotul dan Tiur tengah tersenyum bahagia
diapit kedua orang tuanya.
"Kalian berteman sama
Duma?"
tanya Sotul yang baru pulang kuliah berjalan kaki. Revo-nya yang boros BBM itu
kehabisan bensin di ujung gang, dan terpaksa Sotul titipkan di sana, di
rumahnya Lamhot.
"Iya, Bang. Kami bertiga
sekelas."
Rut yang memberi jawaban.
"Jadi, yang tadi kau bilang
pengemis lusuh banget itu Bang Sotul?" tanya Tiur memandang Duma serius
sambil mendekat.
Duma
tersenyum kecut. Wajahnya tampak grogi. Jari telunjuknya menggaruk-garuk paha
salah tingkah. Dan Duma benar-benar mati gaya saat kemudian Sotul memilih duduk
di sampingnya.
"Yang rencananya mau kau
jadiin pacar cadangan itu?" tanya Tiur menambahi sekali lagi.
Dengan
gugup tak menentu, Duma meraih sirup jeruk miliknya. Isinya yang tinggal
seperempat dihabiskan dalam sekali tenggak.
"Emm... Tadi tuh... Tadi tuh
cuma bercanda."
jelas Duma sedikit tergagap-gagap, kemudian meletakkan gelas yang telah kosong
dengan tangan sedikit gemetar.
Sotul
buru-buru meraih gelas itu. Dipandanginya sambil senyum-senyum.
"Ini pasti gelas cantik yang
tadi kamu bilang hadiah kalau dalam sehari kita bertemu tiga kali itu,
'kan?"
tanya Sotul kepada Duma. Kemudian dengan noraknya Sotul menyimpan gelas itu ke
dalam tas kuliahnya.
Duma
tertunduk membisu, malu, seperti daun putri malu yang tersenggol roda situmalas.
--~o0o~--
Next: #08
Comments