#08
Hari ini di kelas, Duma
jadi sedikit pendiam dari biasanya. Dia yang sehari-hari suka bercanda dengan
Tiur, menjadi segan dan tidak enak hati. Dia masih syok menerima kenyataan
bahwa Sotul adalah abangnya Tiur. Bahkan ketika jam istirahat, dia memilih
bertahan di kelas, tidak ikut Tiur dan Rut ke kantin.
"Tumben
jam istirahat kerasan aja di dalam kelas? Tadi Tikko nyariin kau." lapor
Rut. Dia baru saja kembali dari kantin bersama Tiur.
"Biarin. Suruh dia nyari
di Google aja."
jawab Duma males-malesan dengan tampang tidak jelas.
Rut
memandang tiur tak mengerti. Dan Tiur membalas dengan menaikkan bahunya,
pertanda dia juga tidak mengerti.
"Selamat menempuh jomblo
baru!"
ucap Tikko yang tahu-tahu sudah berdiri di pintu kelas.
"Beritanya udah nyebar,
ya?"
tanya Duma memandang Tikko, Tiur, Rut kemudian papan tulis secara berurutan.
"Tiur yang ngasih tau tadi
pas aku nyariin kau ke kantin." jelas Tikko.
Duma
tak merespon dan terus menatap kosong ke arah papan tulis.
"Gak usah sedih gitu lah.
Masih banyak cowok lain, kok." kata Tikko memberi dukungan moril.
"Dih! Siapa yang
sedih?"
tepis Duma tidak terima kesedihannya ini dikait-kaitkan dengan putusnya dia
dari Gomos.
"Oh iya, nanti sore kita
jadi jalan, 'kan?"
tagih Tikko.
"Jalan?" Duma amnesia temporer.
"Iya. 'Kan kemarin kau udah
janji?"
"Eh, masa, sih? Duh, iya.
Emm... Tapi kayaknya gak bisa deh, Tikko. Soalnya nanti sore aku demam."
"Berarti nanti sore aku
jenguk kau aja ke rumah. Aku bawain gitar, ntar aku nyanyiin lagu biar kau
cepet sembuh."
"Udah ah, Tikko. Jangan
gangguin aku dulu. Aku lagi putus cinta!" pungkas Duma menatap Tikko
jutek.
Tikko
berusaha tersenyum. Dia sadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk mendekati
Duma. Emosinya sedang tidak bagus sehabis putus cinta. Akhirnya setelah minta
maaf, dia undur diri dan kembali ke kelasnya.
"Bukannya kau emang ngarep
bubaran dari Gomos? Kok ujungnya jadi galau gitu?" tanya Tiur sesaat
setelah kepergian Tikko.
"Bukan gara-gara itu." sahut Duma pelan.
"Aku sedih karena kemarin
udah ngomong yang gak-gak tentang Bang Sotul. Tiur aku bener-bener minta
maaf."
Tiur
tersenyum maklum.
"Biasa aja kali, Duma. Kayak
baru kenal aja. Aku udah paham kok, kau emang basic-nya gampang suka sama
cowok."
Duma
memandang Tiur dengan tatapan sedih.
"Tapi perjalananku dalam
menyukai Bang Sotul itu beda. Gak gampang, Tiur. Gak langsung suka seketika.
Aku harus lewati tahap kehilangan dompet dan putus rantai dulu."
Tiur
dan Rut serempak tertawa pelan. Sementara Duma kembali tertunduk. Melihat sepak
terjang Duma selama ini, serta track-record-nya dalam urusan kecepatan menyukai
cowok, wajar jika Tiur dan Rut menganggap ini cuma lelucon, hanya main-main
seperti biasanya.
Duma
sendiri juga bingung dengan perasaannya. Tapi yang pasti dia semakin tidak bisa
melupakan Sotul. Jika kemarin bertemu sampai tiga kali sehari, hari ini
sepertinya tidak akan bertemu sama sekali. Duma kangen.
Dan
ketika pulang sekolah siangnya, Duma menghampiri Tiur dan Rut di depan gerbang.
"Ntar sore ngumpul lagi yuk?
Di rumah Tiur lagi aja, di rumah Rut 'kan udah, di rumahku juga udah
sering."
"Loh, bukannya nanti sore
kau ada jadwal demam?"
Tiur mencoba mengingatkan.
Duma
garuk-garuk kepala.
"Gak jadi. Demamnya aku
undur 20 tahun lagi aja."
"Gak baik loh, Duma,
menunda-nunda sesuatu itu." nasehat Tiur.
"Kapan-kapan aja, nanti sore
aku banyak cucian."
tolak Rut.
Tiur
mengangguk-angguk setuju dengan ketidaksetujuan Rut. Sementara Duma tampak
sedikit kecewa.
"Ya udah. Kalau gitu salam
aja ya, Yur, buat Bang Sotul?"
Tiur
tersenyum sebal. Jaim dikit
kenapa sih jadi cewek? Dasar mentel! Maki
Tiur, tapi hanya dalam hati.
--~o0o~--
Sudah
lebih sejam Duma bertamu ke rumah Tiur. Tapi Tiur sedang tidur siang. Dia tak
bisa menyetujui keinginannya untuk tidak datang ke sana. Makanya saat Duma
datang, Tiur sedang tidur, itu karena mereka tidak membuat janji sebelumnya.
Tapi tidak apa, selama sejam lebih itu Sotul sudah menggantikan tugas Tiur
menemani Duma. Duma senang. Mereka mengobrol di teras samping dekat pohon
nangka. Sudah banyak topik yang mereka bahas dalam rentang waktu sejam
tersebut. Mulai dari laju inflasi ekonomi di Asia dan Afrika di tahun 2017
lalu, hasil akhir
Piala Dunia 2018, hingga cara merakit
pesawat jet aerodinamis bertenaga nuklir.
Duma
sebentar-sebentar tertawa, Sotul juga turut tertawa. Terkadang saat Duma
tertawa, Sotul sengaja ikut tertawa, berjaga-jaga jikalau ada orang lewat yang
melihat. Bahaya jika Duma dibiarkan tertawa sendirian, bisa menimbulkan fitnah.
Namun
sekarang sudah semenit mereka saling diam. Entah kehabisan bahan atau entah
masing-masing dari mereka sudah lelah tertawa. Dalam keheningan seperti itu,
detak-detak jarum jam di ruang tamu terdengar jelas. Sotul menengok kedalam dari
kaca jendela, sudah jam tiga-tiga puluh enam. Sotul beralih menatap Duma
serius. Kemudian memanggilnya hati-hati.
"Duma?"
"Iya?" Duma menyahut lembut.
Lembut sekali.
"Mm... Aku pengen ngomong
sesuatu, tapi kamu jangan marah, ya?"
Jantung
Duma tiba-tiba berdebar kencang. Sampai sulit berkata-kata. Bahkan pertanyaan
Sotul itu cuma dijawabnya dengan anggukan pelan.
"Em... Sesungguhnya..." Sotul menggantung
kalimatnya.
Duma
ketakutan. Jangan-jangan Sotul mau melamarnya. Duh, jangan secepat ini!
Aku 'kan masih sekolah. Batin Duma gelisah.
"Sesungguhnya..."
"Kemerdekaan itu ialah hak segala
bangsa?"
potong Duma tidak sabar.
"Hahaha... Kamu ini!"
"Mau ngomong apa, sih?"
"Sesungguhnya, jam segini
itu jadwalku main bola. Jadi gak apa-apa 'kan kalau kamu aku tinggal sendiri di
sini?"
"Oh, gak. Gak papa." sahut Duma lega
bercampur kesal. Kesal karena Sotul akan meninggalkannya.
"Aku suka main bola." jelas Sotul.
"Kalau aku sukanya
kamu." itu yang ingin Duma
katakan seandainya bisa. Tapi yang keluar dari mulutnya justru,
"Tiap hari kamu main bola,
ya?"
"Iya, tiap Selasa sama
Minggu. Aku pengen jadi pemain bola yang hebat. Doain, ya? Ntar kalau udah
terkenal, kamu aku kasih tanda tangan, deh."
"Tapi tanda tangannya di
atas cek?"
pinta Duma sambil tersenyum santun.
Sesaat
Sotul terpaku memandang senyum Duma.
"Memangnya pipi kamu gak
sakit, ya, kalau lagi senyum gitu?"
"Gak. Sakit kenapa?"
"Soalnya tiap senyum, pipi
kamu berlubang. Pipi kamu pasti punya kelainan."
"Bukan punya kelainan, tapi
punyanya aku, hehee..."
jawab Duma.
"Punyamu juga, Bang, kalau
Abang mau."
lanjut Duma dalam hati.
"Kalau bukan kelainan
berarti cacat. Tapi cacat yang indah."
"Hehee, iya."
Sotul
beranjak masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian sudah muncul kembali
menggendong tas berisi perlengkapan main berupa sepatu, kaos kaki, pelindung
tulang kering, ikat kepala, permen karet, balsem, asbak, dan ban dalam. Untuk
jaga-jaga kalau motornya bocor ban di tengah jalan. Dia terlihat seksi memakai
celana pendek kostum bola yang sesak oleh pahanya yang gempal.
"Aku udah bangunin Tiur,
mudah-mudahan dia bisa gantiin aku nemenin kamu di sini."
"Hehee... Makasih."
"Aku berangkat." pamit Sotul.
"Hati-hati, ya? Salam
olahraga! Jebret
jebret jebrett!"
Sotul
melangkah penuh percaya diri seolah hari ini pasti menang. Itu karena hatinya
senang. Ditungganginya Revo merahnya itu kemudian melaju setelah sebelumnya
meninggalkan klaksonan lembut untuk Duma. Duma melepas kepergian Sotul nyaris
tanpa kedip.
"Dumaa?"
Duma
terkejut singkat seperti tersengat knalpot. Tiur yang baru bangun tidur
tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan rambut yang acak-acakan kayak
singa.
"Hai, Tiur. Hehe. Barusan
aku kaget loh. Kalo bisa ngagetinnya sering-sering aja."
"Kau udah lama di
sini?"
"Lumayan."
"Ada apa kemari?"
"Pengen ketemu kau."
"Oh yah?" Tiur tak yakin.
"Iyah. Ya udah aku pulang
dulu, ya?"
"Loh, kok...?"
"Kan ketemu kau-nya
udah?"
"Jangan jadikan aku kambing
hitam, Duma. Kau ke sini sebenarnya mau ketemu Bang Sotul, 'kan? Ngaku!"
"Jangan berprasangka baik
dulu, Tiur. Udah, ya, aku pulang. Daahh!!" tangan Duma melambai-lambai
ala Miss Universe nyetop becak, lalu pergi meninggalkan Tiur yang
masih geleng-geleng bingung.
--~o0o~--
Next: Episode #09
Comments