#09

  Hari demi hari Sotul dan Duma semakin akrab dan semakin sering bertemu. Salah satunya pagi ini, Sotul yang ada jadwal kuliah pagi, sambil berangkat ke kampus sengaja membuntuti Duma yang sedang isi ulang pertalite. Akhirnya mereka nongkrong dulu di toilet SPBU.

"Beneran kamu kuliahnya ambil sastra mesin?" tanya Duma melirik Sotul.

"Gak benerlah. Jurusan itu mana ada." Sotul nyengir tidak penting.

"Sebenernya aku ambil komputer."

"Ambil komputer? Berarti...?"

"Bukan maling." penggal Sotul yang paham kemana arah pembicaraan Duma.

"Hahaa...!"

"Ambil komputer jurusan Tehnik Informatika."

"Emangnya gak capek naik motor dari Hutapea ke Silangit? Itu 'kan jauh? Belum lagi main bola, kuliah, juga jadi orang ganteng." tanya Duma yang sudah mulai berani ceplos pada Sotul.

"Malah terkadang aku ngemusik juga. Sebenarnya gak ngemusik sih, cuma komposer sekalian bikin beberapa lagu. Cek aja di sini: http:/www.reverbnation.com/saputranainggolan. Kelak aku ingin menjadi arranger lagu, programmer, pemain bola, musisi dan suaminya kamu, hehee..."

"Lebay!" tapi dalam hati Duma senang.

"Kayak kamu gak lebay aja." balas Sotul.

"Aku lebay apaan?"

"Itu, cantik kok sendirian, gak mau bagi-bagi. Gak kasian apa sama yang lain?"

"Ah, udah ah." Duma memukul lengan Sotul pelan. Sotul meringis pura-pura kesakitan sambil memegangi kakinya. Duma terpaksa tertawa. Dibuat-buat tertawanya karena Sotul sudah berusaha melawak, kasihan kalau tidak diapresiasi.

"Padahal gak lucu banget! Yang dipukul lengan, masa yang kesakitan kepala? Huh!" batin Duma mengkal.

Duma melihat jam tangannya sebentar, lalu beralih memandang Sotul.

"Bang?"

Sotul terhenyak sesaat setelah mendengarnya. Dia menatap dengan lembut dan cukup lama, memperhatikan wajah gadis di sebelahnya itu dengan seksama.

"Kenapa nengoknya gitu kali?" Duma salah tingkah.

"Barusan manggil apa?" tanya Sotul.

Duma tertunduk, tak berani menjawab tak berani juga menatap.

Sotul tersenyum nakal.

"Tau gak, Tiur manggil aku 'Bang'. Rut juga. Tapi saat kamu yang mengatakannya, rasanya tuh beda banget."

"Bedanya apa?"

"Emm... Ya beda aja." Sotul sulit menjelaskan.

"Tadi katanya beda banget. Kok sekarang beda aja?"

"Kalau kamu yang manggil, terdengar lebih manis dan istriable."

"Halah!"

"Beneran! Coba ulangi lagi?"

"Gak mau!"

"Kok gitu? Ulangi 10 kali lagi aja."

"Gak ah. Malu."

"Malu sama siapa? Cuma ada aku dan kamu di sini. Gak ada siapa-siapa juga."

Duma mencuri pandang malu-malu.

"Ada." katanya.

"Mana? Siapa?" Sotul menoleh mencari-cari.

"Emang Abang gak ngerasa, kalau di antara kita ada Cinta? Hahaha..." Duma menutup mulut dengan tali tas sekolahnya. Tidak mengira berani berkata selancang itu.

Sotul tertawa. Dia juga tidak mengira bisa terkena jebakan basi namun keren seperti itu.

"Tapi aku manggil kamu 'Bang' bukan karena ikut-ikutan Tiur sama Rut loh. Aku punya alasan sendiri. Bagiku, 'Bang' itu singkatan dari 'Banggaku kalau kamu jadi masa depankuh...'" lanjut Duma menatap Sotul sebentar, lalu tertunduk sambil tangannya meremas-remas tas.

"Ah, kamu bisa aja." Sotul tersipu sambil memukul lengannya sendiri, lalu dengan noraknya pura-pura kesakitan memegangi kakinya lagi.

"Hahaa... dasar ganteng!"

Tapi tak lama kemudian, seorang petugas SPBU datang dan tanpa basa basi mengusir Sotul dan Duma dari toilet itu. Akhirnya dengan berat hati, mereka bertiga berpisah memilih jalannya masing-masing. Sotul ke kampus, Duma ke RK, petugas SPBU terserah dia mau kemana.


                                  --~o0o~--


"Tumben telat?" komen Tiur melihat Duma tiba di kelas tidak sepagi biasanya.

"Tadi gak sengaja ketemuan dulu sama Bang Sotul."

Perasaan Tiur mulai curiga mendengar jawaban Duma. Jangan-jangan Duma benar-benar menyukai Sotul. Wah, gawat!

"Keseringan ketemu nanti naksir loh lama-lama." Rut mencoba menakut-nakuti.

Duma menoleh ke arah Rut.

"Gak perlu nanti, dari kemarin juga udah naksir kok, Rut. Hehe..."

"Pret!" cibir Tiur.

"Jangan pret dong, Tiur. Ini beneran." kata Duma kali ini gantian memandang Tiur.

"Hellouw? Apa kabar dengan Tikko?"

"Aku pilih Bang Sotul banget. Boleh 'kan, Tiur?" pinta Duma sedikit malu-malu.

"Aku janji akan berubah." lanjut Duma.

"Terserah! Tapi sebaiknya kau siap-siap patah hati aja. Soalnya kau bukan tipenya Bang Sotul." jelas Tiur.

Sebagai adik, dia hapal sekali kriteria abangnya. Kriteria cewek idaman Sotul adalah perempuan dewasa, yang umurnya di atas Sotul atau paling tidak seumuran.

"Gak papa gak masuk tipenya. Yang penting aku masuk cita-citanya." jawab Duma penuh percaya diri.

Tiur dan Rut saling memandangi Duma dengan mimik tidak percaya.

"Tadi dia bilang, kelak ingin menjadi arranger, programmer, pemain bola, musisi dan suaminya akuhh." jelas Duma polos dan mentel.

"Arghh!! Terus kau percaya? Haduh! Dia itu emang suka gombal kemana-mana! Baliho caleg aja digombalinya."

"Biarin dia cuma gombal. Yang penting aku seneng. Hehe..."

"Dia itu sukanya sama cewek yang keibuan." Tiur berusaha terus mengingatkan.

Duma melongo tak mengerti.

"Apa menurutmu aku berpotensi jadi kebapakan?"

"Maksudnya dia suka cewek-cewek dewasa!"

"Aku juga udah dewasa. Buktinya setiap kita masuk ke Salib Kasih, aku udah kena tarif karcis 10 ribu!"

Tiur berdiri berkacak pinggang.

"Duma, ntar pulang sekolah ada waktu luang, gak? Aku pengen kita berantem."

"Hahaa!"

"Susah emang ngomong sama rakyat jelanta!" semprot Tiur.

Tawa Duma bertambah kencang. Rut yang hanya menonton dua temannya itu berdebat, sesekali juga ikut tertawa jika dibutuhkan.

"Selain itu, Bang Sotul juga belum bisa mupon dari mantannya yang namanya Christine. Kalau lagi ngobrol sama aku, dia masih sering cerita tentang Kak Christine." lanjut Tiur setelah kembali duduk.

Kali ini Duma tak bisa tertawa. Dia terpukul. Justru jadi mematung. Tapi sejurus kemudian dia angkat bicara.

"Kau gak usah khawatir, Tiur. Itu tugasku. Akan kubuat Bang Sotul lupa sama perempuan yang namanya Christine itu!"

Kali ini Tiur mulai sedikit percaya kalau Duma benar-benar menyukai Sotul.

"Kok bisa, sih, kau naksir sama Bang Sotul? Aneh kau!" tanya Tiur heran.

"Anehnya sebelah mana? Aku cewek, dia cowok. Masuk akal, 'kan? Yang aneh itu kalau aku naksirnya ke kau."

"Biasanya 'kan kau sukanya sama yang ganteng-ganteng?" Tiur bergidik.

"Sotul ganteng, kok!" bela Duma. Baginya malah bukan ganteng biasa, tapi ganteng plus-plus, Ganteng-Ganteng Seringgombal.

"Bang Sotul ganteng?" kening Tiur serta merta mengernyit. Dia sendiri, biar ditodong begal, gak bakalan mau mengatakan abang semata wayangnya itu ganteng.

"Wajar kok kalau menurutmu dia gak ganteng, soalnya 'kan kau ngeliatnya bukan dengan mata hatiku."

"Muahahaaa..." Rut spontan tertawa.

Sampai di sini, Tiur sudah cukup yakin Duma memang menyukai Sotul. Tapi Tiur juga tetap yakin, cinta Duma akan bertepuk sebelah tangan. Duma yang masih remaja labil dan pecicilan ini, jelas jauh di luar kriteria Sotul. Jauh banget. Kayak Gorontalo ke Tarutung tadi.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #10

Comments