#10
"Aku jatuh cinta sama
Duma." kata Sotul tiba-tiba tanpa pembukaan Undang Undang Dasar.
Sore
itu, dia mendapati Tiur sedang duduk manghasoli
benang di teras samping rumah. Pelan-pelan Tiur menoleh ke arah Sotul, matanya
perlahan membola, mulutnya ternganga.
"Apa?"
"Aku
jatuh cinta sama Duma."
"Ini
aku yang salah denger apa Abang yang salah ngomong?"
"Gak
ada yang bersalah. Kau gak salah dengar. Aku juga gak salah ngomong. Aku jatuh cinta sama Duma,
teman sekelasmu itu." Sotul menegaskan sekali lagi.
Tiur
meletakkan peralatan hasolinya.
"Gak,
gak. Ini pasti cuma mimpi. Gak, Bang. Kau gak mungkin jatuh cinta sama
Duma!" ujarnya dengan nada tegas sambil berdiri mendekati Sotul.
"Gak
usah kayak sinetron gitu. Lebay!" Sotul mencubit pipi Tiur.
"Auw!
Apaan, sih? Sakit tau!" Tiur
melotot sambil mengelus pipinya.
"Nah,
kalau sakit berarti bukan mimpi. Ini kenyataan yang harus kau hadapi, bahwa
suatu saat kau akan memanggil Duma sebagai Eda." kata Sotul sambil
mengeluarkan minuman dingin dari dalam kulkas.
"Gombaaal!"
teriak Tiur.
Sotul
tertawa.
"Dia
cantik, ya? Lesung pipinya itu loh. Duh..."
"Tapi
'kan dia masih SMA, Bang. Dan kau juga bilang, kalo kau sukanya sama cewek
dewasa. Jangan lupa itu!" Tiur menyusulnya.
Sotul
terdiam. Sejujurnya dia tidak lupa, hanya saja kesupelan Duma, tingkahnya yang
unik dan menyenangkan, serta senyumnya dan gigi kelincinya itu, telah
menggoyahkan prinsip Sotul selama ini.
"Aku
sanggup, kok, nungguin Duma sampai dia dewasa dan lulus SMA, sambil macarin
dia." Sotul menjauh kemudian duduk di sofa.
Tangan
Tiur mengepal. Bibirnya terkatup. Dia benar-benar kesal.
"Lagian
kedewasaan seseorang bukan cuma dilihat dari umurnya. Menurutku, cara paling
akurat mengetahui seseorang sudah dewasa atau belum adalah melihatnya saat
pangkas rambut. Kayak aku, kalau bayarnya 15 ribu, berarti dewasa." jelas
Sotul. Pengetahuan tersebut didapatnya dari hasil pengamatan di tempat pangkas
rambut dekat rumah Lamhot.
"Huft!"
dengus Tiur sambil melangkah keluar ke tempat dia menyulam tadi.
Ternyata
Sotul dan Duma sama saja cara pandangnya tentang kedewasaan. Sama-sama tak
waras! Tiur bukan tidak suka abangnya punya hubungan spesial dengan Duma. Dia
justru bahagia banget, apalagi seandainya hubungan spesial itu bisa sampai ke
pernikahan. Kalau sekedar pacaran, Tiur tidak setuju. Tidak! Pokoknya tidak!
Kebanyakan
orang pacaran ujung-ujungnya putus, kemudian setelah putus jadi musuhan, dan
terkadang orang-orang di sekitar kedua belah pihak yang akan jadi korban. Tiur
ingat, dulu saat Sotul masih dengan Christine, dia sangat dekat dengan pacar
abangnya itu dan sudah seperti kakak sendiri. Tapi begitu hubungan mereka
berakhir, kedekatan Tiur dengan Christine juga berakhir. Dan Tiur tidak ingin
hal itu terulang lagi pada hubungan persahabatannya dengan Duma. Apalagi Duma
tergolong organisme yang rentan putus kalau punya pacar.
"Jangan
dia, Bang, jangan! Dia itu mantannya banyak. Suka gonta-ganti pacar. Pacar
terakhirnya aja yang namanya Gomos, baru beberapa hari pacaran langsung
diputusin. Udah gitu, sekarang dia lagi deket sama Tikko, murid baru di
sekolah!"
"Yang
bener?"
"Iya!
Tanya aja sama Rut kalau gak percaya."
Beberapa
detik Sotul termenung memikirkan sesuatu.
"Entah
kenapa aku justru semakin tertantang kalau seperti itu, bahkan aku semakin
menyukai Duma. Aku merasa terpanggil untuk merubah sifatnya, Yur."
"Argh
dasar gila! Kalian gila! Huh!" Tiur pening sendiri memikirkan dua orang
itu.
"Aku
memang gila. Tergila-gila dia. Tiap bersamanya aku seperti amnesia, bahagianya
sampai lupa diri."
"Terserah!
Dasar lebay! Yang penting sebagai adikmu aku udah ingetin. Jadi jangan nyesel
andai nanti Duma nyakitin Abang!"
"Siap!"
jawab Sotul sambil berdiri sempurna ala hansip.
"Sekarang
aku mau ke kamar mandi. Gosok gigi, biar nafas segar, mau teleponan sama
Duma." ujar Sotul sambil mengacak-acak rambut adik perempuannya itu.
Tiur
memandangi kepergian Sotul dengan perasaan super sebal.
--~o0o~--
Duma
tengah tergolek malas di dalam kamarnya yang lengang. Biasanya kamarnya tidak
pernah selengang itu. Pasti selalu ada suara musik, suara TV, atau paling jelek
suara letusan-letusan perut nyamuk yang terpanggang karena diperangi Duma dengan
raket listriknya. Tapi entah mengapa malam ini, Duma sedang tidak ingin
melakukan apapun selain bernapas dan mengulas Sotul.
Androidnya
berkedip. Duma berguling ke kiri dua kali di atas kasur mendekati benda itu
yang tergeletak di atas meja belajar. Ada pesan WhatsApp dari Tikko.
"Karaokean
yuk, Duma. Aku sekarang hobi banget nyanyi. Di Timor Leste kemarin malah sempet
jadi vokalis band. Ntar aku tunjukin suaraku."
Kepala
Duma menggeleng. Dia sama sekali tidak tertarik dengan dunia tarik suara.
"Aku
lagi pengen di rumah aja."
"Kalau
gitu aku aja yang ke sana, nemenin kau yang lagi pengen di rumah aja. Aku bawa
gitar, ya?"
"Iih,
gak usah."
"Ya
udah gak usah bawa gitar."
"Maksudku
kau! Gak usah ke sini."
"Kenapa, sih? Dulu aja waktu pertama kali aku
datang kau seneng kali. Tapi sekarang, tiap aku ajak jalan selalu gak
mau."
"Salah
sendiri, ngajaknya pas aku lagi gak mau."
"Tuh
'kan, malah jadi nyalahin aku."
Pesan
itu tak sempat Duma balas karena tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor baru
berawalan +62 berakhiran 88. Pasti ini Sotul Pardamean Nainggolan, pikir
Duma yang langsung menerima panggilan itu tanpa pikir dua kali.
"Halo?
Ini siapa?" tanya si penelepon.
"Ini
yang siapa?" Duma bingung dan balik bertanya.
"Oh,
yang siapa. Ya ampun, apa kabar yang siapa?"
"Hahaa..."
wajah Duma yang semula suntuk, berubah ceria mendengar suara si penelepon yang
dari gayanya sudah bisa Duma kenali.
"Lagi
apa makhluk bersayap?" tanya Sotul.
"Lagi
bosen."
"Coba
bikin variasi. Misalnya tidur pakai kostum ninja, pukulin nyamuk pakai helm,
atau kalau boleh cuci muka pakai rinso."
"Apaan, sih? Geje!"
"Itu
tips biar gak bosen. Coba hal baru."
"Aku
butuhnya tips biar gak kangen aja."
"Umur
kamu 'kan baru 18 tahun?" tanya Sotul agak ragu. Dia mengira-ngira usia Duma
pasti tidak jauh terpaut dari adiknya.
"Iya.
Tapi masih terlihat kayak remaja 17-an ‘kan, Bang?"
"Iya sih. Cuma yang aku gagal paham, padahal
masih 18 tahun jadi orang cantik tapi kok kamu udah bosen."
"Arghh!"
Duma meremas-remas seprei.
"Malam
Minggu besok gak kemana-mana, 'kan?" Sotul bertanya lagi.
"Gak."
"Gak
apaan?"
"Gak
kemana-mana!"
"Aku
juga gak kemana-mana."
"Terus
kalo sama-sama gak kemana-mana berarti jodoh. Mau ngomong gitu, ‘kan? Keprediksi tau gak!"
"Emang
gitu, 'kan? Banyak yang bilang kalau jodoh gak akan kemana-mana."
"Kenapa
baru sekarang neleponnya, Bang?" Duma buru-buru gantian bertanya sebelum
didahului dengan topik Sotul lain yang lebih ngawur.
"Dulu
waktu jaman masih SD sebenarnya aku udah pengen banget nelepon kamu. Sayangnya
pas itu HP belum diciptakan."
Duma
berusaha tidak tertawa.
"Kita
terlambat kenal, Bang."
"Iya,
bener. Begitulah kebiasaan orang Indonesia. Suka gak tepat waktu. Jam karet!
Gimana kalau kita jadian aja?" Sotul kepleset sengaja.
"Heh?
Apa hubungannya?"
"Gak
ada. Biar gak ikutan ngaret juga. Tapi intinya aku cinta sama kamu."
"Wih
hebat. Ngigaunya disiarin langsung lewat telepon."
"Aku
ingin kamu jadi pacar aku. Sekarang tinggal kamu, ingin gak kalau aku jadi
pacarnya kamu?"
"Bangun,
Bang. Gak bagus bobo sore-sore gini."
"Kalau
kamu mau jadi pacarku, tahun depan aku beliin helikopter." mulai garing.
"Kalau
begitu, tahun depan aja aku jadi pacarnya Abang."
"Hahaha...
Aku maunya mulai sekarang."
"Males
ah. Abang gak serius."
"Ini
serius, dengan syarat kamu nerima aku. Kalau ditolak, berarti ini becanda,
hehe..."
Tak
ada tanggapan lagi dari Duma. Dia memilih bungkam, walau di dalam hatinya
menggumam, "Serius gak sih ini
orang? Ngungkapin cinta kok ngeplong banget. Sekata-katanya aja. Lancar kayak
air ngalir."
"Ngomong 'iya'nya kok lama banget? Apa
perlu aku wakilin?" desak Sotul.
"Kayaknya
udah gak musim deh, Bang, ungkapin
cinta lewat telepon."
"Lah,
sekarang 'kan jaman udah canggih, masa harus masih pakai kaleng yang dikasih
benang itu? Kamu kok gak kekinian banget,
sih?"
"Secara
langsung woey! Haduh! Payah nih ulat pote!"
"Duma,
aku boleh nanyak?"
"Itu
'kan udah nanyak. Dari tadi juga udah nanyak-nanyak. Pakai nanyak!"
"Nanya
hal lain, Duma!"
"Hehee.
Iya. Tentu boleh, Bang." Duma mereda.
"Tapi
harus jawab jujur, ya? Bohong dosa loh!"
Sejenak
Duma termenung penasaran.
"Mau
nanya apaan, sih?"
"Mmm...
Aku, aku mau nanya... Kamu udah makan?"
"Kaaann!
Kirain serius?"
"Makan
'kan juga urusan serius?"
"Belum!"
"Ya
udah, kamu makan dulu gih sana. Jangan suka telat makan, kasian tau
cacing-cacing dalam perutmu. Nanti mereka kena maag."
"Wah,
sembarangan aja kalau ngomong!"
Duma tidak terima dituduh cacingan.
"Nanti
setelah kamu selesai makan aku telepon lagi boleh?"
"Emm...
Boleh gak, ya?"
"Makasiiih.
Ya udah, met maem, ya? Ntar 20 menit lagi aku telepon." kata Sotul
kemudian menutup telepon.
Duma
mengacak-acak kasur. Geram dengan gaya Sotul menelepon yang kayak banci dikejar
Satpol PP. Nyebelin banget, tapi nyenengin juga sih. Duma tersenyum sendiri sambil bangkit dari pembaringannya,
kemudian men-charge HP, nyetok daya buat nanti teleponan babak ke dua.
Setelah itu Duma keluar kamar menuju ruang makan dengan berjalan kaki. Soalnya
di dalam rumahnya memang belum ada angkutan umum. Sebenarnya Duma belum lapar,
hanya saja dia sudah membiasakan diri makan malam sebelum jam 19:00 WIB.
--~o0o~--
Next: Episode #11
Comments