#11
Sehabis makan
sekenyangnya, Duma kembali ke kamar. Hal pertama yang dia lakukan setibanya di
kamar adalah memeriksa ponselnya. Ternyata sudah ada dua pesan di sana, kedua-duanya
WA dari Tikko.
"Udah
kayak koran aja, gak dibaca-baca."
"Jangan
bilang kau orangnya gak dendaman. Biar Tuhan aja yang membalasnya. Basi!"
"Gaklah,
Tikko. Bagiku Tuhan bukan sekretaris yang suka balas-membalas filateli."
balas Duma sok bijak dengan diakhiri sebuah emoticon senyum.
Tikko
tak membalasnya lagi. Mungkin marah entah kehabisan paket data. Duma tak mau
ikut campur urusan orang. Dia kemudian menyimpan nomor Sotul ke kontak di
ponselnya. Sotul Pardamean Nainggolan, diketiknya begitu. Tapi nama itu terlalu
panjang untuk bisa di save di memori
SIMCARD-nya. Dia menyingkatnya menjadi 'Sotul Caem'. Kemudian dia sibuk
memasang headset, supaya nanti saat Sotul menelepon, suaranya bisa terdengar
dekat kayak orang lagi ketemuan.
Dan,
telepon yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Duma melirik jam yang melingkar
manis di pergelangan tangannya, kemudian tertawa sendiri.
"Halo,
Bang? Bener katamu tadi, orang Indonesia emang suka gak tepat waktu. Janjinya
20 menit mau menelepon, ini baru 19 menit udah nelepon aja."
Di
seberang sana Sotul tertawa renyah.
"Itu
sangkin udah gak sabarnya pengen dengar jawaban kamu, Dumaria Uli Hutapea.
Gimana?"
Duma
bingung harus berkata apa. Kalau menuruti kata hati, dia sebenarnya ingin
menjawab 'iya'. Dia sudah jatuh cinta pada Sotul sejak pandangan kedua di teras
toko. Di pandangan pertama Duma mengira Sotul hanya seorang pengemis. Dan rasa
itu semakin kuat setelah mengenal Sotul lebih dekat beberapa hari ini.
Tapi
logikanya menyuruhnya berpikir-pikir dulu. Menerima seseorang yang benar-benar
dicinta, akan mengakibatkan perih yang mendalam jika suatu saat ditinggalkan.
Beda saat menerima Gomos dulu, cowok yang tidak sungguh-sungguh Duma sukai,
saat Gomos pergi, perih yang ditinggalkan pun hanya perih level kecil sepele, perih
selevel mata kemasukan rinso doang.
Sementara
dengan Sotul, Duma merasa peluang untuk ditinggalkan cukup terbuka. Seperti
kata Tiur, selera Sotul adalah wanita-wanita matang. Duma yang masih kelas tiga
SMA, jelas sadar diri jauh ada diluar kriteria. Ditambah saat ini Sotul masih
dalam duka berkepanjangan setelah dicampakkan Christine. Bukan tidak mungkin,
Sotul hanya ingin mengalihkan kegalauannya dengan cara mendekatinya.
Tok!
Tok! Tok!
Tiba-tiba
ada suara ketukan di headset Duma. Lamunan Duma buyar.
"Emm...
Aku bingung, Bang."
"Tinggal
jawab 'iya' aja kok bingung, sih?
Gini deh, kamu hitung aja kaki meja
belajarmu, diawali dari 'gak'?"
Tok!
Tok! Tok!
Ketukan
itu terdengar lagi, kali ini dari arah pintu kamarnya, dibarengi panggilan, "Dumaaa?"
"Iyaa!"
sahut Duma cepat, lantas bergerak menuju pintu.
"Iya?"
di telepon, suara Sotul terdengar menggebu-gebu bahagia.
"Kamu
nerima aku! Yess! Aku seneng banget!"
"Eh
bukan, tunggu dulu, aduh..." Duma gelagapan.
"Makasih
ya, Dumaria, Sayang. Akhirnya..."
"Aduuuh...
Apaan sih! Itu barusan Duma menjawab
panggilan Kak Sabet, bukan buat Abang!"
"Yaah..." suara
Sotul langsung mamelos. Seperti baru selesai ejakulasi.
Duma
membuka pintu kamar.
"Aku
ingin kamu ngomong langsung, biar aku
yakin sama keseriusanmu mau jadi pacar aku."
"Saya
harus ngomong apa, Dum? Saya masih
normal." kata Kak Sabet, asisten rumah tangga Duma yang sudah bersama
keluarga Duma sejak Duma masih bayi.
"Astagaaa!
Kenapa orang-orang pada error semua gini, sih?" Duma mengacungkan cakarnya di depan wajahnya sendiri,
lalu mengepalkannya. Geregetan.
"Aku
lagi ngomong sama orang di telepon
ini, Kak. Gak usah kegeeran!
Huh!"
Dengan
sebal Duma menutup pintu dan melangkah gontai kembali ke ranjang. Tapi baru
tiga setengah langkah, tiba-tiba Duma tersadar ada sesuatu yang belum beres.
Buru-buru dia kembali membuka pintu. Beruntung, Kak Sabet masih mematung di
sana.
"Ada
apa, Kak, tadi manggil aku?"
"Duma
lagi ngomong sama saya apa sama yang
di telepon?" Daripada mengulangi kesalahan yang sama, Kak Sabet memastikan
terlebih dahulu.
"Kali
ini buat Kakak. Hehee..."
"Ada
temennya Duma tuh di bawah. Nungguin."
"Siapa?"
"Gak
tau, Dum. Orangnya ganteng. Saya malu mau kenalan, muihihihii..."
"Bilangin
Duma udah tidur, gak pengen diganggu."
"Katanya
cuma bentar. Tadi juga udah saya bilang Duma-nya tidur, tapi dia maksa. Padahal
saya juga pengen dipaksa kayak gitu."
Didengar
dari ciri-cirinya, Duma menduga itu pasti Tikko. Ngeyel banget itu anak. Udah
dibilangin jangan ke sini juga.
"Temuin
aja dulu, kasian udah capek-capek datang." Sotul memberi dukungan lewat
headset.
"Tapi
Duma lebih kasian sama Abang yang udah capek-capek nelepon."
"Nanti
'kan bisa disambung lagi." ujar Sotul yang merasa tidak butuh belas
kasihannya. Yang dia butuhkan adalah belas kasih sayang.
"Bener,
ya, nanti teleponan lagi?"
"Iya.
Nanti kamu kuberi kesempatan giliran nelepon."
"Dih!
Perhitungannya."
"Bukan
perhitungan, TMnya mau habis. Hehee..."
"Ya
udah kalau gitu matiin."
"Kamu
dong yang matiin. 'Kan kamu yang kutelepon."
"Abang
aja. 'Kan Abang cowok."
"Kamu
aja deh. Aku gak tega."
"Abang
aja lah yang matiin."
"Ayo
dong, Duma, matiin."
Tak
juga ada yang mau mengalah. Akhirnya dua-duanya sama-sama diam. Termasuk Kak
Sabet. Dalam diam itu Duma malah asik ngupil, kemudian nempelin upilnya ke daun
pintu, padahal durasi telepon terus berjalan.
"Iih...
Kok belum dimatiin juga sih,
Bang?" rengek Duma manja.
"Duma,
sumpah ini menjijikkan! Kayak anak alay lagi LDR. Udah cepet matiin."
"Abang
dong yang matiin."
"Kamu
aja yang matiin kenapa, sih?
Bandel." Sotul mulai meradang.
"Gak
mau! Aku maunya yang matiin tuh kamu,
Bang, kamu!" balas Duma jengkel banget kemudian langsung mematikan telepon
sangkin jengkelnya.
"Ya
udah, Kak, tamu itu biar aku aja yang tanganin." kata Duma selepas
melemparkan androidnya ke kasur.
Kak
Sabet, yang sedari tadi sabar menunggu putri majikannya itu hanya tersenyum,
lalu pergi ke dapur dan merebus ubi.
Duma
kembali masuk kamar untuk sedikit berdandan. Tapi niat itu langsung
Duma batalkan, mengingat yang datang cuma Tikko. Tidak penting. Bahkan
kalau perlu dia ingin dandan yang jelek jelita, biar Tikko ilfil dan biar
besok-besok tidak menguber-uber dirinya lagi. Duma tersenyum sendiri
membayangkan ide gokilnya itu.
Maka
Duma pun mengganti bajunya dengan daster putih milik Kak Sabet. Rambutnya
diacak-acak sampai semrawut parah mirip pacarnya si Ombo Ombo. Dan diakhiri
dengan berkaca untuk memeriksa penampilannya.
"Astagaa!
Hwoaaa...!!" teriak Duma berlari ke sudut kamar. Dia tersentak dengan
bayangannya sendiri di cermin. Nyaris saja tadi membacakan ayat Alkitab eksorsis.
--~o0o~--
Next: Episode #12
Comments