#12

  Duma berlari kecil menuruni tangga menuju lantai dasar. Mendekati pintu utama dan membukanya perlahan. Sambil keluar dia kembali menutup pintu dengan perlahan pula. Dilihatnya tamunya itu sedang duduk di kursi santai teras, membungkuk, asik dengan gadget di genggamannya.

"Dor!" sapa Duma.

Tamunya mendongak.

"HUMAAAA!!!" keduanya serentak berteriak. Kaget banget! Tamunya kaget melihat penampilan Duma yang sangat tidak manusiawi, sementara Duma kaget karena ternyata tamunya bukan Tikko!

Duma spontan berbalik dan dengan gugup berlari kembali masuk rumah. Tapi... BRUGH! Dia lupa kalau pintunya sudah tertutup. Alhasil kepalanya sukses menabrak pintu yang tak berdosa.

"Adududuhh..." rintih Duma mengusap-usap jidatnya yang mendarat di daun pintu berawana putih itu, oyong, rasanya seperti ada bintang-bintang kecil muter-muter di sekitar kepalanya.

"Kenapa lari? Aku 'kan gak gigit?"

"Bodo!" pekik Duma males banget melihat wajah tamunya yang tidak lain adalah Sotul.

"Kok?"

Jadi, tadi ketika Duma makan, Sotul diam-diam berangkat ke rumah Duma. Dia merasa tertantang dengan kata-kata Duma yang berbunyi, "Kayaknya udah gak musim deh, Bang, ngungkapin cinta lewat telepon."

Sementara ketika tadi Sotul mengetuk pintu, Kak Sabet yang membukakan dan berbohong bilang bahwa Duma sudah tidur. Sotul yang tahu betul Duma belum tidur, memaksa Kak Sabet agar memanggilkannya. Dan sebenarnya saat teleponan sesi kedua tadi, Sotul sudah berada di beranda rumah Duma.

"Kamu sih, lari gak liat-liat. Untung aja pintunya gak kenapa-napa." ujar Sotul sambil memeriksa kondisi pintu rumah.

"Iih dasaaaar...! Nyebeliiiin!"

Pipi Sotul menggelembung menahan tawa.

"Iya, iya. Maaf. Sorii. Tadinya aku cuma mau ngasih surprise. Karena aku dengar dari Bonapit Epem, katanya cewek itu suka dikasih kejutan."

"Tapi aku gak terkejut!"

"Iya, gak kok. Justru aku yang terkejut lihat penampilan kamu. Kirain tadi kuntilanak, eh taunya calon ibunya anak-anak." Sotul nyengir.

Duma memelototinya. Rasanya ingin sekali mencubiti cowok menyebalkan itu pakai jepitan kuku.

"Kamu sendiri yang tadi bilang supaya ingin aku ngomong langsung. Karena aku serius, ya aku datang."

Sesaat Duma tersenyum, melupakan perih di jidatnya. Tapi kemudian kembali merengut.

"Tapi bilang-bilang dong kalau mau ke sini, biar aku bisa siap-siap. Jangan main tiba-tiba gini!"

Sotul memperhatikan penampilan Duma, lalu tersenyum mengerti.

"Kalau udah dari sononya cantik, bagaimana pun, pasti tetep cantik. Jadi, pede aja kalau ketemu aku walau dengan tampilan seperti pacarnya si Ombo Ombo gini." kata Sotul memberi komentar membangun, sambil jari telunjuknya membuat gerakan melingkar di depan wajah Duma.

"Iiih! Emang siapa yang gak pede?"

"Ya udah, ya udah. Yang ganteng ngalah deh."

Duma melongos.

"Tapi keningku masih sakit nih, Bang." Duma kembali meringis dan memegangi kepalanya.

Kedua tangan Sotul menahan kedua pipi Duma, kemudian di bagian kening ditiup-tiupnya lembut. "Fhuuh.. Fhuuh.. Udah. Nanti pasti sembuh. Fhuuhh..!"

Duma tersenyum diperlakukan seperti anak manja seperti itu. Nyaman sekali perasaannya. Lalu Sotul membimbingnya duduk di kursi teras. Sotul sendiri kemudian duduk di kursi sebelahnya yang terpisahkan oleh meja kecil. Setelah itu, untuk beberapa saat keduanya hanya diam-diaman.

"Aku masuk bentar ya, Bang. Ganti baju." pamit Duma siap-siap berdiri.

"Eh, gak usah. Jangan. Di situ aja dulu." larang Sotul setengah memaksa.

"Kenapa? Gak nyaman tau berpenampilan kayak gini?"

"Udah, pokoknya diem dulu. Duduk yang anteng, jangan gerak-gerak. Aku mau nembak kamu, takutnya gak kena." kata Sotul sambil mengubah duduknya menghadap Duma serius.

Pipi Duma menyembunyikan senyum, lalu melengos pura-pura melihat ke langit malam yang padahal tidak kelihatan.

"Duma, demi apapun, aku cinta sama kamu. Aku ingin kamu menjadi sayangnya aku. Ada pertanyaan?"

"Ada. Abang mau minum apa?" tanya Duma mengalihkan topik, tetap mencari celah biar bisa kembali masuk rumah untuk ganti seragam halowinnya.

"Udah, air putih aja!" tegas Sotul pilih yang sederhana. Dalam hatinya gondok dengan sikap Duma yang tak juga memberi jawaban pasti.

"Air putihnya kasih kopi sama gula. Tapi kalau gak ada, minuman kaleng juga gak papa." sambung Sotul melengkapi pesanannya.

Duma masuk rumah. Tidak sampai seminggu dia sudah kembali membawa 2 kaleng minuman rasa jeruk lengkap dengan 2 batang sedotan. Penampilannya juga sudah jauh lebih manusiawi. Memakai kaos biru lengan pendek yang itupun masih Duma gulung bagian ujung lengannya. Bawahannya celana jeans pendek yang pendeknya karena sengaja dipotong. Sesaat Sotul menelan ludah memandangi penampilan Duma, lalu mengambil salah satu minuman kaleng beserta sedotannya.

"Kamu emang cantik banget, Dumaria." puji Sotul meneropong Duma dengan sedotan, sambil memejamkan matanya yang sebelah.

"Kurang ajar! Hahaha..." Duma melempar Sotul dengan bantal kursi dan mengenai bahunya. Sotul tidak terluka ataupun pingsan. Dia lelaki yang kuat.

Sotul membuka tutup kaleng minuman, memasukkan sedotan yang tadi digunakannya untuk meneropong, lalu diberikan pada Duma. Duma tersenyum melihat sikap manis Sotul yang sudah seperti suami yang baik dan benar.

"Tulang sama Nantulang kemana?" tanya Sotul sambil membuka satu kaleng lagi untuk dirinya sendiri.

"Papa sih tadi pergi. Kalau Mamak gak tau kemana, mungkin lagi pergi sama Papa." jawab Duma.

Sotul mendengus pelan. Kemudian ketika dia melirik ke Duma, gadis itu sudah tertawa melihat tampang Sotul yang kesal. Sotul mendengus lagi. Punya pacar kayak Duma sepertinya harus punya ruang penyimpanan kesabaran yang ekstra besar.

"Aku udah ngomong langsung tuh tadi. Jadi gimana jawaban kamu?" tanya Sotul kembali ke tujuan utama sambil memasukkan sedotan ke bibirnya, minuman itu disedotnya pelan-pelan.

Suasana menjadi agak lebih serius. Duma tertunduk. Sotul asik mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. Lalu meminumnya.

"Gimana dengan Christine?" tanya Duma tiba-tiba.

Sotul spontan tersedak, batuk-batuk dan buru-buru meletakkan minuman kalengnya ke meja.

"Abang gak papa?" tanya Duma dengan wajah cemas.

"Gak papa, gak papa. Aku hanya belum terbiasa minum minuman kaleng seperti ini. Biasanya minum air pancuran."

Duma ngakak. "Hahaha... Alesan! Padahal gara-gara dengar nama Christine, 'kan?"

"Udah ah. Gak perlu bawa-bawa dia. Dia itu masa lalu."

"Masa lalu apaan? Tiur bilang baru beberapa bulan kemarin putusnya. Masa lalu tuh ya, Bang, waktu orang-orang masih hidup nomaden berpindah-pindah dari goa ke goa. Busananya kulit pohon. Belum ada WiFi."

"Mending baru beberapa bulan. Kamu, kata Tiur, baru beberapa hari putus sama Gomos."

"Tapi aku 'kan udah gak cinta sama dia."

"Sama. Aku juga."

"Udah gak cinta sama Gomos?"

"Udah gak cinta sama Christine. Hih!" Sotul balas melempar bantal sofa ke arah Duma.

"Muahahaaa..." Duma justru tertawa, tidak pingsan seperti harapan Sotul.

"Kalaupun menurutmu aku masih belum bisa melupakan mantan, paling gak, itu membuktikan bahwa aku orangnya setia. Justru kamu harus hati-hati sama yang gampang melupakan mantan, bisa jadi orangnya gak setia dan bosenan."

Tawa Duma memudar. "Ini ceritanya nyindir?"

"Gak. Cuma ngasih info."

"Ya udah terusin."

"Sampai mana tadi? Oh, iya. Jadi, orang yang sulit melupakan mantan jangan dipaksa melupakan, jangan dimarahi, jangan diungkit-diungkit. Rubah dia. Cintai dia apa adanya. Sayangi dia sebesar-besarnya. Percayalah, seiring waktu, mantan akan jadi gak berarti lagi baginya."

"Tapi aku takut, Bang. Masa hanya karena ingin melupakan Christine, Abang pilih cara dengan cara mencintaiku? Emang sih kata guru penjaskes kalau lari itu baik buat kesehatan. Tapi menjadikanku pelarian itu gak adil. Kamunya yang sehat, akunya yang sakit."

"Udahlah, Duma. Kamu tuh ngomong apaan, sih? Tujuanku kemari dalam rangka mendapat jawaban cinta kamu. Bukan untuk ngebahas guru penjaskes kamu!"

Duma terdiam beberapa saat. "Aku pikir-pikir dulu."

"Iya pikir-pikir dulu deh. Lima detik, ya?" kata Sotul sambil melihat arloji di tangannya.

"Bunuh aja sekalian aku, Bang! Bunuh!"

"Gak mau! Apaan sih! Jadi pacar aja belum, udah nyuruh-nyuruh." gerutu Sotul memperlihatkan tampang sewot.

"Muahahaaa..." Duma tak bisa mengendalikan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak seakan tidak ada lagi hari esok.

"Ya udah aku pulang. Udah malam. Kamu pikir-pikir aja dulu." kata Sotul bijaksana kemudian berdiri.

"Iya, Bang. Abang hati-hati pulangnya. Jangan jalan terlalu tengah, banyak angkot. Jangan terlalu pinggir juga, banyang tukang sate."

Sotul melempar senyum sambil mengambil minuman kaleng miliknya yang baru diminumnya sedikit. Dibawanya untuk bekal di perjalanan. Dia memang sengaja tidak membawa motor supaya kedatangannya tidak terendus. Dia kemudian melangkah keluar dari teras, diiringi tatapan mata Duma yang malam ini tampak lebih berbinar.

"Besok aku tunggu jawabannya. Kalau bisa, beri aku jawaban yang bisa bikin aku bahagia!" teriak Sotul sambil berjalan mundur beberapa langkah, setelah itu berlari keluar gerbang lalu menghilang terhalang pagar-pagar rumah dan gelapnya malam.

Duma tertawa. Entah kenapa bersama Sotul dia begitu gampang tertawa. Dia pun masuk ke rumah sambil tak berhenti senyum-senyum. Menutup pintu perlahan lalu menyandarkan sebentar punggungnya di pintu itu. Matanya terpejam. Pikirannya menerawang. Sementara dalam hatinya guruh bergemuruh tak menentu. Setelah itu berlari ke kamar dengan langkah-langkah yang terasa begitu ringan. Hampir melayang.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #13

Comments