#13

  "Apa nih jawabannya?" tanya Sotul pagi-pagi sudah menelepon Duma menuntut jawaban.

Pagi itu Duma baru saja sampai di sekolah. Duma menduga, Sotul menelepon juga sudah dari kampus, di sekitarnya terdengar mahasiswa-mahasiswa sedang membahas rencana demonstrasi menuntut diturunkannya harga godok-godok makanan paling laris di kantin.

"Masa jawabnya via telepon gini? Gak sakral. Ntar malam aja ketemu langsung. Kebetulan banget 'kan ntar malam malam Minggu?"

"Masa ditunda lagi, sih? Terus nanti ketemuannya dimana?"

"Terserah dimana aja. Aku ngikut. Yang penting di Tanggul. Jam lapan ya, Bang?"

"Oke, jam lapan. Jangan diulur-ulur lagi. Eh, tapi nanti kamu terima aku, 'kan?"

"Doain aja."

"Doain? Oke, bentar, ya?" lalu terdengar Sotul berbicara kepada teman-temannya, "Kawan-kawan seperjuangan! Saya mau berdoa, bisa bantu aminkan?"

Duma mendengar ada beberapa orang menjawab, "Bisaaa!"

Dan Sotul pun mulai berdoa, "Ya Tuhan. Jikalau Dumaria Uli Hutapea memang tercipta untukku, dekatkanlah dia di sisiku. Tapi jika ternyata dia tercipta bukan untukku, terimalah dia di sisiMu."

"Amiiinn!" balas teman-temannya serempak.

"Hahaha!"

"Barusan aku udah doain."

"Tapi gak gitu juga, Bang! Horor!" seru Duma geram banget.

"Terus gimana?"

"Ya Tuhan, semoga nanti malam Dumaria Uli Hutapea menerima Sotul Pardamean Nainggolan. Gitu!" Duma memberi contoh.

"Aamiin." Sotul dan teman-temannya kembali mengaminkan.

"Muhihihi... Kok di speaker-in?"

"Ya Tuhan, semoga nanti malam Dumaria Uli Hutapea menerima Sotul Pardamean Nainggolan!" Sotul mengulangi berdoa sesuai ajaran Duma.

"Aamiiiiin!" Duma mengaminkan keras-keras.

"Amin? Apa ini secara gak langsung kamu udah menjawab 'iya'?"

"Belum! Belum, Bang. Pokoknya jawabannya ntar malam aja." tegas Duma sengaja membuat Sotul penasaran.

"Kasih bocoran, dong?" Sotul merengek.

"Jangan dong. Nanti jadi gak seru kalau Abang tau jawabannya 'iya'."

"Pelit banget. Kalau gak kasih clue-nya aja."

"Ya udah, aku kasih clue. Dengerin ya, Bang. Huruf awalnya I, huruf terakhirnya A."

"Ikan nila?" Sotul langsung menebak.

"Bukan! Apaan sih, ngawur aja!"

"Iguana?"

"Bukan!"

"Isyana? Isyana?"

"Bukan, Bang. Cuma 3 huruf, kok."

"Oh, IPA?"

"Bukaaaan! Hiiih kok IPA?"

"Salah mulu?"

"Huruf tengahnya Y!"

"3 huruf. Huruf pertama I, huruf terakhir A, huruf tengahnya Y? Hmm... Apa ya? Nyerah, deh." ampun Sotul.

"Aarrrghh dasar bodoh!" pekik Duma emosi banget. Di benaknya malah sudah terbayang dia akan membanting-banting HP ke pagar sekolah.

"Hahaha... Akhirnya kamu tau juga kalau aku bodoh." sahut Sotul sejujur-jujurnya.

Duma tak lagi merespon. Perhatiannya kini sudah teralihkan pada Tiur yang baru tiba di parkiran berboncengan dengan Rut.

"Duma! Ada waktu bentar, gak? Ada yang mau aku omongin." kata Tiur dari atas motor tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu.

"Udahan ya, Bang. Tiur dan Rut udah datang. Kami mau ke kelas. Oh ya, jangan lupa nanti malam jam lapan di Tanggul." pamit Duma menutup telepon.

Tapi ternyata bukan ke kelas, Tiur menyeret Duma dan Rut ke toilet.

"Ngapain kita ke sini? Aku gak pengen pipis." Rut memprotes.

"Ada yang penting dikit sama Duma, tapi kau juga musti di sini sebagai saksinya." jelas Tiur pada Rut.

Rut menoleh ke arah Duma, diikuti Tiur yang menatap Duma serius.

"Duma, ini tentang Bang Sotul." kata Tiur memulai percakapannya.

Muncul sedikit debaran dalam dada Duma karena mendengar nama itu disebutkan.

"Bang Sotul kenapa?"

"Dia suka sama kau!"

Duma bengong sepersekian detik. Debaran di dadanya kian menjadi.

"Masa, sih?" Rut menyahut tak percaya.

"Iya. Tiap ngobrol sama aku nih ya, bentar-bentar yang dia omongin pasti Duma. Katanya kalau lagi sama Duma, dia bisa amnesia, bahagia sampai lupa diri."

"Duh, Bang Sotul, udah kayak ibu-ibu komplek aja. Ngomongin orang itu 'kan gak baik." Duma sok ngelantur, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang semakin di atas normal.

"Cieee, kayaknya bakal ada peningkatan status, nih. Dari yang sebatas teman, sekarang jadi Eda. Mareda." goda Rut sambil menyentuh ujung hidung Tiur.

"Iiisshh..."

"Rut, apaan sih!" Duma tersipu, memukul pelan lengan Rut.

Kalau Sotul sudah menceritakan rasa cintanya pada orang lain, terlebih ke keluarganya sendiri, berarti tidak diragukan lagi Sotul benar-benar menyukainya. Hati Duma kian berbunga, tidak sabar menunggu jam lapan nanti malam di Tanggul.

Tiur menarik nafas berat. Kemudian menatap dalam pada Duma yang didapatinya sedang merona. Sebenarnya ada hal lain yang ingin dia sampaikan pada Duma, akan tetapi masih bingung bagaimana dia harus memulainya.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #14

Comments