#14
Matahari baru saja
terbenam di balik susunan pegunungan di arah Sipoholon. Cahayanya mulai
mengintip dari celah-celah batang pinus di sana, dan yakin semakin turun.
Cakrawala juga sudah mulai menguning, efek bias cahaya dari planet Venus, si
Planet Senja. Suasana mulai tenang, menandakan hari ini adalah hari penghabisan
dalam sepekan. Angkutan umum saja yang lalu-lalang banyak memenuhi jalanan
protokol di Tarutung. Memang hari ini adalah hari onan. Sabtu adalah hari pasar di Tarutung.
Sotul
yang sedang mempermak diri bersiap bertemu Duma, disambangi Putra yang petang
itu ngeloyor masuk lewat pintu belakang. Penampilannya juga terlihat lebih
necis dibanding biasanya.
"Aku
mau keluar. Ntar lagi aja kita ketemu sambil nonton Dilan 1990." kata
Sotul tanpa bermaksud mengusir.
"Aku
udah download versi HDRip-nya." sambungnya lagi.
"Aku
ke sini juga cuma bentar, kok. Abis ini aku juga mau ke rumahnya Peni."
jelas Putra yang merasa kehadirannya tidak diinginkan.
"Jadi
kemari mau buat nyari alasan lagi?" tanya Sotul tanpa melihat lawan
bicaranya itu. Dia fokus menatap cermin menata rambutnya.
"Gaklah.
Aku mau minta do'a restumu, Sotul. Malam ini aku mau nembak Peni." Sotul
menatap Putra sedikit tidak percaya. Putra mengangguk-angguk, isyarat bahwa
ucapannya tadi tidak main-main.
"Aku
restuin, Put. Semoga berhasil." ucap Sotul menepuk-nepuk bahu Putra.
"Aku
juga mau keluar karena mau nerima tembakan dari anak SMA, temen sekelas Tiur.
Namanya Dumaria."
"Hah?
Kok tumben kau doyan anak SMA?"
"Jangan
salah kau! Biarpun dia masih SMA, dia udah cantik, ada lesung pipinya."
"Semoga
keterima." doa Putra sambil gantian menepuk-nepuk bahu Sotul memberi
semangat.
"Jangan
kenceng-kenceng! Sakit, bego!" bentak Sotul sambil menghardik tangan Putra
dari bahunya.
Putra
hanya cengengesan sambil gantian berkaca.
"Kalau
aku pasti bakalan diterima. Soalnya aku sama dia udah deket banget. Malam ini
tinggal penerimaannya aja." sambung Sotul sambil tersenyum dan
mengangkat-angkat alis pada Putra.
"Aku
ikut senang dengernya."
"Semoga
nanti aku juga dapat kabar bahagia tentang kau sama Peni." ujar Sotul.
Putra
tersenyum malu-malu kucing garong.
"Terima
kasih. Nanti kalau Peni nerima aku, jangan lupa makan-makannya ya, Sotul?"
tanya Putra lagi-lagi menepuk bahu Sotul.
"Woey,
kebalik!" hardik Sotul bersiap menjitak kepala Putra, namun calon
korbannya itu sudah lebih dulu kabur pulang lewat pintu depan.
Setelah
kondisi aman, Putra datang lagi lewat pintu belakang.
"Tadi
sore aku ketemu Dede."
"Si
Pardede maksudmu? Udah pulang dari Jakarta dia?"
"Udah.
Sekarang dia pindah kerja di sini. Tadi sempat juga ngomongin untuk kembali menghidupkan komunitas Hiphop kita
lagi."
Sotul
memandang Putra dengan raut antusias.
"Serius?
Wah aku setuju banget, Put. Udah kangen berkarya lagi."
Mereka
memang punya semacam komunitas tidak resmi dibidang musik bergenre Hiphop, tapi
sudah lama vakum. Terakhir kali perform dua tahun silam saat
pemutaran perdana film 'Mata, Hati dan Telinga' di Sopo Partukkoan. Setelah itu
para personilnya masing-masing sibuk bersolo karir.
Putra,
yang menempati posisi repper, sibuk bersolo karir merintis usaha editor
multimedianya sendiri. Lamhot yang menjadi rapper utamanya sekarang menetap di
kampung halaman, dia baru saja pulang dari Kalimantan. Dede yang bagian
beatbox, mutasi kerja ke Ibukota dari Departemen Pekerjaan Umum Kabupaten
yang ada di Sipoholon ke Badan Pusat Statistik Pusat di Jekadah, dia seorang
PNS. Daniel yang juga dibidang beatbox, juga pergi merantau ke Ibukota mencari
kebenaran dan menumpas kebatilan. Sementara Sotul yang bagian beatmaker,
menetap di kampung halaman. Selain kuliah, dia sibuk latihan bola dan sibuk
melupakan mantan. Satu lagi, Raples, dia bagian tukang gulung kabel, sekarang
jadi TKI, bekerja di kilang Pannasonic di Penang, Malaysia.
Andai
saja sedang tidak ada keperluan dengan gebetan masing-masing, Sotul dan Putra
pasti akan menemui Dede dan membahas soal komunitas mereka itu lagi.
--~o0o~--
Tanggul
merupakan spot favorit merayakan malam Minggu bagi kawula muda di Tarutung.
Posisinya tepat berada di jantung kota Tarutung, di pesisir Aek Sigeaon, sungai
besar dangkal yang membelah kota itu. Deretan pedagang makanan dan minuman
ringan berjejer rapi di sepanjang trotoar. Pada malam Minggu seperti ini,
tempat itu tidak pernah tidak ramai. Ada saja muda-mudi yang duduk-duduk di
bangku semen yang dibangun pemda setempat, atau sekedar nunjukin bakat otodidak
membalap dari ujung tanggul ke ujung satunya lagi. Sampai maut menghentikan.
Di
salah satu bangku semen itu, tampak Sotul sudah hampir setengah jam duduk
gelisah seorang diri menanti Duma. Jam sudah menunjukkan pukul 20.01. Artinya
sudah meleset semenit dari waktu yang telah disepakati, namun Duma tak kunjung
nongol.
Ketidaksabaran
Sotul mencapai puncaknya ketika jarum jam panjang di arlojinya jatuh ke angka
02. Diteleponnya Duma menggunakan ponsel pribadinya.
"Tanggulnya
udah ramai nih, Duma. Yang lain udah
pada datang. Kamu kenapa belum?" tanya Sotul begitu Duma menjawab
teleponnya.
"Aku
gak jadi deh, Bang. Maaf." jawab
Duma pelan dan hati-hati.
"Apa?
Gak jadi? Maksud kamu? Kenapa? Hah?" Sotul yang kaget dengan jawaban Duma
langsung berdiri dan melempar pertanyaan bertubi-tubi pada Duma.
"Orang
tuaku gak di rumah. Kak Sabet juga lagi pulang ke rumahnya. Di rumah gak ada
siapa-siapa."
Sotul
berusaha meredam emosi.
"Kalau
gitu aku aja yang ke sana!"
"Iiih,
gak usah. Ngapain?"
"Nenenin
kamu, eh nemenin kamu. Sekalian magang jadi menantu orang tuamu."
"Aku
udah bilang 'kan, Bang, di rumah gak ada siapa-siapa. Berarti aku juga gak
ada."
"Kemana?"
"Ikut
Papa sama Mamak."
"Kemana?"
desak Sotul dengan mengulangi pertanyaannya.
"Eng..."
Duma terdengar sulit berkata-kata.
"Menghadiri
acara... Acara... pemakaman! Iya, acara pemakaman. Ada pejabat temennya Papa
meninggal."
Masa
malam Minggu cerah begini ada orang meninggal? Batin Sotul tak percaya. "Bohong
banget. Pejabat meninggal masa gak keluar di berita? Masa gak disiarin di
Bonapit?"
"Acara
layatnya tertutup, Bang. Pers dilarang meliput."
Sotul
menduga, Duma pasti tadi salah gosok gigi pakai biore yang ada scrub-nya,
sehingga bahasanya ngelantur berpasir-pasir.
"Jujur
aja kenapa kalau gak mau nemuin aku? Gak usah alesan yang gak-gak!"
Duma
diam saja.
"Ya
udah gak papa kalau gak jadi datang, tapi gimana dengan jawaban kamu?"
Duma
masih tak bersuara. Sotul akhirnya ikut tak bersuara. Hingga beberapa saat
keduanya sama-sama tak bersuara.
"Dor!"
Sotul coba memecah kebisuan dengan mengutip lirik lagu ‘Balonku Ada 5’.
"Gak,
Bang. Aku gak bisa menerimamu. Maaf... Maaf banget, ya?" jawab Duma
sesopan mungkin.
"Kok
jadi gini, sih? Hah?" sentak
Sotul tidak terima karena Duma tidak menerimanya. Padahal sejak kemarin dia
sudah sangat yakin Duma akan berhasil dipacarinya tanpa kesulitan yang berarti.
Di
seberang lain, Duma kembali diam tidak memberi keterangan lebih lanjut.
Sotul
memindahkan handphone ke telinga kiri. Tangan kanannya kemudian sibuk
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya percuma tadi setengah jam
menata rambut. Sampai bela-belain berangkat tidak memakai helm demi menjaga
rambutnya agar tidak berubah dari tatanannya.
"Ya
udah, gak apa-apa kalau kamu gak mau jadi pacar aku, biar aku aja yang jadi
pacar kamu. Gimana?" pinta Sotul tak ingin menyerah begitu saja.
Duma
masih bungkam tak bergeming.
"Kenapa?
Apa aku terlalu baik? Mau serius sekolah? Lebih cocok temenan? Basi! Itu alasan
anak alay kebanyakan makan micin tau gak!" Sotul nyerocos sendiri kayak
orang kerasukan.
Dia
benar-benar terpukul menerima kenyataan yang sungguh berbeda dari impiannya
beberapa hari ini.
"Aku
udah kelas 3, Bang. Bentar lagi UN. Iya, aku mau serius sekolah."
"Tapi..."
Sotul terbungkam.
Kembali
hening.
"Tapi
apa, Bang? Mau bilang pacarannya pas tanggal merah aja? Pas gak sekolah,
gitu?" penggal Duma sok tahu dengan arah pikiran Sotul.
"Kalender
di rumahku fotocopy-an semua, gak ada tanggal merahnya."
"Duma,
bisa gak becandanya nanti aja setelah jadian?" pinta Sotul memelas.
Kali
ini suaranya terdengar mulai putus asa.
"Ini
serius, Bang. Aku lagi gak pengen punya pacar. Ntar ganggu sekolah."
"Pacarannya
tiap malam Minggu aja, 'kan paginya gak sekolah? Hari-hari biasa kita
kakak-adikan." paksa Sotul garing.
"Sudahlah,
Bang. Gak usah kakak-adikan. Kita abang-adikan aja."
"Aku
benar-benar gak percaya kamu nolak aku gini." ucap Sotul lirih nyaris tak
terdengar. Dia sudah kehilangan harapan dan semangat.
"Percaya
gak percaya, Abang harus percaya."
"Makanya
ke sini, ngomong langsung, biar aku
percaya kalau kamu serius nolak aku. Jangan beraninya cuma lewat telepon. Gak
jantan!" Sotul langsung mematikan telepon dan meletakkan secara
serampangan di bangku semen. Dia berharap Duma akan menelepon balik.
Satu
menit, dua menit, tiga menit, belum juga ada telepon masuk. Memasuki menit
ke-57, barulah dering yang ditunggu-tunggu itu berbunyi. Sotul terlonjak.
Buru-buru diraihnya ponselnya. Tapi ternyata pelaku pemanggilan bukan Duma!
"Halo,
Put?" kata Sotul dengan suara lesu.
"Tul,
ntar Dilan 1990 nonton dimana?"
"Di
tempat biasa aja, Excel Coffee. Ntar aku suruh mereka muterin."
"Kau
udah disana?"
"Belum.
Aku masih di Tanggul."
"Oh,
sama cewek SMA itu, ya?"
"Gak.
Aku sendirian. Dia gak dateng. Dia nolak aku!"
"Kok
bisa? Kau bilang tadi tinggal penerimaan aja?"
"Ternyata
dia tukang PHP, Put. Aku terluka." curhat Sotul begitu menyedihkan.
"Kau
sendiri gimana sama Peni?"
"Tau
ah. Udah males ngarepin dia. Mulai sekarang aku mau serius sama karir
aja."
"Karir
kakaknya si Karin?" tanya Sotul sedapatnya.
"Iya.
Anaknya si Gabe parlapo tuak." jawab Putra juga sesukanya.
Dari
nada bicaranya, Sotul tahu bahwa Putra juga tidak mendapat hasil yang bagus.
Dia pasti ditolak Peni. Sotul bingung, antara harus sedih atau justru senang
karena teman baiknya juga mengalami nasib yang serupa.
"Tunggu,
ya, aku ke situ. Trus ntar kita ke Excel bareng."
"Sip.
Buruan."
--~o0o~--
Next: Episode #15
Comments