#15
Sotul membentangkan
pandangannya ke berbagai penjuru Tanggul. Hampir semua pengunjung yang ada di
sana hadir bersama pasangannya masing-masing. Ada sepasang yang bercengkrama
berduaan di bangku semen sambil si cowoknya menunjuk bintang, mungkin sedang
berdeklamasi membacakan puisi yang dikarangnya sore tadi. Ada juga sepasang
yang duduk merapat di sudut-sudut stand kosong gelap yang hanya diterangi oleh
lampu jalan yang temaram, dan sesekali disinari oleh cahaya lampu kendaraan
yang melintas. Ada pula sekumpulan pemuda yang tampak sedang asik menghabiskan
malam sambil minum tuak dengan iringan musik house dari angkot yang parkir di
depan mereka.
Sotul
tertunduk sedih. Hatinya sakit sekali. Harapannya yang sempat melambung tinggi,
kini terhempas kuat ke tanah dan hancur. Dia sama sekali tak menyangka Duma
akan mempermainkannya sebegini sadisnya. Tapi kemudian Sotul sadar ini salahnya
sendiri, mengapa nekat mendekati ABG yang dia tahu kebanyakannya masih labil.
Seperti si Duma ini, seenaknya bikin janji, seenaknya pula mengingkari. Dengan
ini, Sotul semakin alergi dengan gadis-gadis ABG! Cuiihh!!
"Sotul?"
Seseorang
memanggilnya. Sotul menoleh.
"Peni?"
"Sendirian
aja?" tanya Peni.
Sotul
memandang sekeliling.
"Bukannya
banyak orang di sini?"
"Maksudnya
kau, kok sebelahnya kosong?"
"Berisi
kok. Berisi sakit hati." gumam Sotul demikian. Dia memilih tak menjawab.
Sotul
melirik pilu pada bangku di sampingnya. Kosong! Satu jam yang lalu dia begitu
yakin Duma akan duduk manis di sana bersama lesung pipinya.
"Gak
cuma bangku ini, Pen. Hatiku juga kosong." ratap Sotul dengan tatapan
kosong.
Peni
menahan tawa. "Biasanya
'kan bareng Putra?"
"Oh,
dia bentar lagi datang, kok. Tunggu aja."
"Putra
kok masih hidup aja, ya?" kata Peni bercanda.
"Tadi
dia ke rumahku. Cuma karena aku lagi banyak keperluan, aku tinggalin dia di
rumah, berdua sama Bapak."
"Hehehe...
Pantesan tadi dia terdengar galau berat."
Peni
mendaratkan pantatnya di sebelah Sotul.
"Oh,
iya, Tul, besok pagi ada waktu gak? Jalan, yuk?"
Sotul
melongo.
"Gak
salah ngajak aku? Kalau Putra tau bisa cemburu dia. Dia tuh naksir ke kau udah tingkat dewa."
"Biarin
aja. Toh baru naksir, belum ada janur kuning melengkung, 'kan?"
"Iya
juga, sih." Sotul tersenyum
seadanya. Kehadiran Peni lumayan meringankan penderitaannya. Paling tidak ada
yang menemaninya bicara sekedar mengalihkan pikirannya pada gadis labil itu.
"Jadi
gimana? Ada waktu, gak?"
"Waktu sih sudah pasti ada, duit yang gak
ada!"
"Hahaaa..
Gak usah khawatir soal itu. Kau siap-siap aja, besok aku jemput."
"Eh,
tapi jalan kemana dulu?"
"Adalah
pokoknya. Tempatnya seru. Dijamin gak garing!"
"Oke,
aku mau."
"Ya
udah, kalau gitu aku pergi dulu. Jangan lupa besok pagi ya, Sotul?"
"Lah?
Kok buru-buru, sih? Ntar kalau
cantiknya ketinggalan gimana? Eh, maksudnya gak nungguin Putra dulu?" ada
nada tidak rela dalam kalimat Sotul. Gombalan itu seharusnya untuk Duma. Baru
saja dia terhibur oleh kehadiran Peni, sekarang mau ditinggal lagi.
"Aku
masih ada keperluan lain. Besok aja kita ngobrol sepuasnya." ujar Peni.
Setelah itu pergi dan menghilang di kegelapan malam kayak jin.
Sepeninggal
Peni, Sotul kembali dilanda sedih. Hingga saat ini, dia masih belum bisa melupakan
sakit hatinya dibohongi Duma. Dilihatnya jam di tangan sudah jam 21.42. Excel
pasti sudah ramai di jam segitu, tapi Putra yang katanya mau menyusul ke
tanggul, belum juga kelihatan batang hidung tampannya.
--~o0o~--
"Katanya
mau jemput aku ke tanggul? Kok bohong?" protes Sotul.
Justru
akhirnya dia yang menyusul Putra ke Excel Coffee.
"Emang
kau sendiri gak bohong? Katanya di Tanggul sendirian, kok ada Peni?" balas
Putra ketus.
Sotul
salah tingkah. "Tadi
ketemunya gak sengaja juga kok."
Putra
menghisap kuat-kuat rokoknya yang hampir habis. Kemudian menghujamkannya ke
dasar asbak hingga mati.
"Tapi
kalian terlihat bahagia, ketawa-tawa. Aku takut mengganggu, makanya lebih baik
aku gak lanjut nemui kau."
"Padahal
dia nanyain kau juga tadi."
"Nanya
apaan?" Putra memperbaiki posisi duduknya yang tadinya bersandar tak
semangat kini tegap antusias.
"Dia
nanya, 'Eh, Putra kok masih hidup aja ya?' Gitu. Beneran. Sumpah!"
"Ini
kok muter sinetron, sih? Remote
mana remote? Sinetronnya mau aku cepetin!" sahut Putra tak peduli.
"Sabar
kenapa, sih?"
"Sabar
mukamu lumer! Ini udah jam sepuluh, kapan lagi nonton Dilannya? Huh! Kenapa
malam ini semuanya serba ngeselin, sih?"
dengus Putra.
"Kalau
kau marah gara-gara tadi aku bareng sama Peni, sumpah, Put, itu gak seperti
yang kau pikirkan. Dia yang datengin aku tadi."
"Udah
kubilang 'kan tadi di telepon, aku gak mau mikirin dia lagi! Jadi ngapain
marah? Aku bukan siapa-siapanya dia. Kalau dia milih kau, itu artinya dia gak
milih aku. Kelar, 'kan?"
"Serius
kau gak marah?"
"No!"
jawab Putra menggunakan bahasa asing.
"Soalnya
besok pagi dia ngajak aku jalan."
Putra
kembali memperbaiki duduknya. Dia memandang Sotul tak percaya, kemudian
bertanya pelan, "Kemana?"
"Dia
gak bilang mau kemana. Rahasia gitu."
Putra
tidak berkata lagi. Malas dia melanjutkannya. Dia memilih kembali menyalakan
rokok.
"Perasaan
udah lama kau gak ngerokok. Kok sekarang kumat lagi? Gak khawatir janinmu
rusak?"
"Aku
lagi stress!" kata Putra sambil berdiri dari duduknya.
"Aku
pulang."
"Eh,
kok gitu?"
"Lagian
cerita akhirnya udah ketebak. Endingnya pasti Dilan ditolak Milea atau mereka
jadian. Cuma itu." kata Putra dengan rokok masih terapit di bibirnya,
kemudian bergegas keluar kafe.
Sotul
bengong dan bingung.
--~o0o~--
Next: Episode #16
Comments