#18

  Dari acara reuni dadakan di rumah Putra, Sotul pulang menggunakan jasa angkot kosongdua menuju Simpang Empat Kota. Dari sana menuju Hutapea, dia musti transit lagi dengan menggunakan angkot lain yang sudah ngetem jurusan Hutapea.

Pintu depan rumah sedang dalam keadaan terbuka saat Sotul tiba di rumah. Kondisi itu membuatnya tidak perlu repot-repot membukanya, bisa langsung masuk dan bahkan mungkin tanpa disadari oleh orang-orang di dalam rumah.

Tiba di kamar, Sotul berencana membuka jaket dan bajunya dan menggantinya dengan kaos hadiah kampanye Gerindra, supaya lebih santai. Baru setengah jalan resleting celananya diturunkan, sayup-sayup dari arah kamar sebelah terdengar Tiur sedang mengobrol dengan seseorang lewat telepon. Awalnya Sotul tak mau tahu, tapi saat mendengar ada namanya dan nama Duma disebut, Sotul langsung mencari batu asah untuk mempertajam indra pendengarannya.

"Makasih ya, Duma, akhirnya kau menolak Bang Sotul. Aku tau ini pasti gak enak buatmu, buat Bang Sotul, dan juga buatku. Tapi gimana lagi, kurasa ini jalan terbaik. Aku gak mau persahabatan kita terganggu jika kalian nekat jadian."
Sotul terduduk di tepi ranjang. Tidak memperbaiki resletingnya. Kakinya terasa lemas. Sekarang dia mengerti mengapa tadi malam Duma tidak jadi menerimanya. Ternyata Tiur gara-garanya.

"Pokoknya demi langgengnya persahabatan kita, gak boleh ada yang macarin Bang Sotul. Kau gak boleh, Rut juga jangan. Aku juga janji gak akan pernah pacaran sama dia!"

Sotul menghela nafas berkali-kali. Tadinya dia ingin keluar dan memarahi Tiur. Apa hak Tiur ikut campur urusan cintanya dengan Duma? Tapi kemudian Sotul sadar, Tiur ada benarnya. Dan Tiur juga berhak ikut campur.

"Aku abangnya, Duma sahabat baiknya. Dia hanya terlalu khawatir kalau aku jadian sama Duma, nanti bisa merusak semuanya." kata Sotul berbicara pada lemari.

Lagipula Sotul merasa semua sudah terlambat. Dia sudah terikat perjanjian dengan komunitasnya. Komunitas anti cinta, yang melarang personilnya punya pacar. Jika nekat kembali mendekati Duma, jelas akan dicap penghianat dan akan didepak dari sana. Sotul tidak mau berpisah dengan sahabat-sahabatnya itu. Di sisi lain, melepas Duma begitu saja juga bukan pilihan yang sesuai dengan isi hatinya. Sotul tidak mau munafik, dia memang sangat mencintai Duma seperti cintanya kepada ploduk-ploduk Indonesia.

Sotul berbaring, menyilangkan kedua lengannya di belakang kepalanya. Hatinya bimbang. Pikirannya bingung. Dua-duanya sangat Sotul inginkan, baik Dumaria Uli Hutapea maupun Komunitas Hiphop-nya. Sotul tidak bisa memilih salah satu, tapi juga tidak boleh memilih dua-duanya. Sungguh sebuah dilema besar! Bagaikan buah simalakama mentah, dimakan sapot, tak dimakan pengen.

Mendadak ada sesungging senyum di sudut bibir Sotul. Wajahnya berbinar mirip penyair mendapat lirik bagus. Dia bergegas bangun, menaikkan kembali resleting celananya, kemudian keluar kamar menuju garasi.

"Loh, Bang, Abang udah pulang?" Tiur sedikit kaget melihat Abang laki-lakinya itu melintas dari depan pintu kamarnya. Sotul berhenti, kemudian mundur beberapa langkah. Menoleh pada Tiur dan tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju garasi.

"Gimana tadi jalannya sama Kak Peni?"

"Kami naik mobil, bukan jalan!" jawab Sotul tanpa menghentikan langkahnya, bahkan justru lebih dipercepat. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Mukanya syok memandang ke dalam garasi.

"Gawat!" teriak Sotul.

"Kenapa, Bang? Ada apa?" Tiur terheran-heran sambil berlari menyusul Sotul.
Beberapa saat Sotul masih terdiam. Setelah itu menoleh ke arah Tiur yang sudah berada di belakangnya. Sotul menghembuskan nafas lega sambil mengelus-elus dada.

"Gak papa. Kirain tadi kemana mobil di garasi, eh taunya emang belum punya."

"Setan!" teriak Tiur.

Tiur celingak-celinguk mencari benda yang kira-kira jika dilemparkan pada abangnya tidak mengakibatkan luka ataupun tewas. Dia akhirnya memungut ranting rapuh, tapi sayangnya Sotul sudah lebih dulu melesat pergi bersama motornya. Meninggalkan Tiur yang sedang komat-kamit marbete-bete.


                                  --~o0o~--


Sotul menghentikan motornya di depan rumah megah yang halamannya ditumbuhi pohon jambu air dan mangga. Setengah menit setelah menekan bel, Kak Sabet datang membukakan pintu untuknya.

"Mau ketemu Dumaria, Kak." Sotul menjelaskan maksud kedatangannya.

"Duma-nya lagi gak ada." jawab Kak Sabet dengan senyum seadanya, mencoba bersikap ramah pada tamunya.

Sotul garuk kepala. Masa menghadiri acara pemakaman pejabat negara dari semalam belum pulang juga?

"Pergi kemana ya, Kak?"

"Tuh, di depan, beli sendor."

Kepala Sotul memutar mengikuti arah telunjuk Kak Sabet yang menunjuk ke sebuah kios kecil di seberang jalan.

"Saya ke sana aja, Kak." pamit Sotul, kemudian berlari-lari manja melayang-layang lebay menuju tempat jualan sendor.

Tiba di tempat, Duma agak kaget melihat kedatangan Sotul.

"Udah lama nunggu?" sapa Sotul super pede perasaan ditungguin sembari duduk di sebelah Duma.

"Belum, kok. Nah, itu udah datang." kata Duma saat melihat pelayan mengantar pesanan ke mejanya.

"Abang mau? Sendor di sini manis loh, Bang. Kayak aku."

Sotul menghernyitkan dahi. Di planet Mars juga, yang namanya sendor pasti manis, di Jupiter juga. Entah kalau sendornya dicampur benda-benda angkasa berupa pecahan satelit atau debu planet dan juga ditambah sedikit kenyataan yang sedang dia rasakan. Pasti pahit!.

"Duma?" Sotul memanggilnya lembut.

"Iya, Bang?" jawab Duma lima kali lebih lembut, mirip puteri keraton. Wajahnya merunduk, memperhatikan tangannya sendiri yang tengah memutar-mutar sendok di gelas sendor.

"Melanjutan obrolan kita semalam. Jujur, sebenarnya kamu gak ingin menolak aku, 'kan?" tanya Sotul tudepoin.

Tidak ada tanggapan dari Duma. Dia sibuk sendiri mencicipi sendornya di ujung sendok. Lidahnya mengecap-ngecap gak penting.

"Ini kenapa, ya, Bang? Kok sendornya berasa kayak bukan kopi luwak?" tanya Duma mengalihkan topik.

"Itu karena aku sayang kamu!" serobot Sotul mengembalikan topik, berusaha menyabarkan diri untuk tidak menabok Duma pakai gelas duralex. Ngeselin! Ditanya cinta jawabnya malah kopi luwak. Rasanya Sotul ingin berteriak tepat di kuping Duma, bahwa saat ini tidak ada hal lain yang lebih penting selain sebuah jawaban jujur.

"Aku mau fokus minum sendor dulu, Bang. Jadi sebaiknya kita temenan aja."

"Bohong!" sahut Sotul cepat, ditatapnya mata Duma dalam-dalam.

"Aku bisa melihat, ada cinta untukku di sana, di mata kamu."

"Ada gambar lope-lopenya ya, Bang?" Duma mengucek-ngucek matanya.

"Ada gambar calon pacar kamu."

Duma balas menatap Sotul, tapi hanya sanggup dua detik.

"Ada gambarku juga di mata Abang. Kita 'kan lagi duduk berhadapan."

"Udahlah, Duma, gak usah keluar jalur. Aku tau, sebenarnya kamu gak pengen nambah teman. Temanmu udah banyak. Di Facebook aja hampir 5000. Kamu sebenarnya pengen menerima aku jadi pacar, tapi gak dibolehin sama Tiur. Iya, 'kan? Aku dengar sendiri tadi pas kalian teleponan."

Duma tidak bisa lagi berkelit, tapi dari raut mukanya dia terlihat lega.

"Nah, berarti sekarang Abang udah tau semuanya. Memang gitu, kemarin pagi sehabis Abang telepon, Tiur ngelarang aku dan Rut jatuh cinta sama Abang. Katanya bisa merusak persahabatan."

"Gimana kalau kita jadian diam-diam, tanpa sepengetahuan Tiur dan Rut?"

Alis Duma bertaut. Kemudian menggeleng.

"Aku gak mau membohongi mereka."

"Lebih parah kalau kamu menolakku, itu artinya kamu membohongiku sekaligus membohongi dirimu sendiri."

Duma menyuapkan sendor ke dirinya sendiri, mengunyahnya perlahan-lahan sambil merenungi ucapan Sotul. Benar juga, menolak Sotul berarti berbohong terhadap dirinya sendiri, sebab sesungguhnya dia juga sangat ingin menerima Sotul. Dan berbohong itu perbuatan tercela.

"Tapi bukannya Bang Sotul punya pacar?"

"Iya, punya. Tapi nanti, setelah kamu nerima aku."

"Bukan aku! Tadi pagi Abang posting foto berduaan sama cewek. Itu siapa kalau bukan pacar Abang?"

"Oh, itu Peni, bukan pacar. Sumpah."

"Bukan pacar tapi kok perginya berduaan?" tuduh Duma dengan bibir manyun.

"Gak berduaan, kok. Ada enam jiwa termasuk sopir. Cie cemburu ya?"

"Apa? Cemburu? Hahaha. Yaiyalah!"

"Jujur, awalnya aku memang kegeeran, kirain mau diajak jalan ke tempat yang indah, taunya dibawa menghadiri presentasi bisnis MLM."

"Hahaha..."

Tidak terbayangkan andai tadi kenyataan pahit itu dikatakan jujur pada Putra, pasti teman-temannya bakal ramai ngakak meledek dirinya. Begitulah yang sebenarnya. Sotul yang sudah geer sejuta perkara mengira akan diajak kencan di tempat spesial, ternyata cuma dibawa menghadiri persentasi MLM.

Kalau Peni jujur sejak awal Sotul tidak bakal sudi diajakin jalan. Ini modus baru atau entah strategi MLM yang Peni ikuti, menjemput calon downline dengan mobil mewah dan berbohong diajak ke tempat lain. Sebab, jika langsung jujur diajak ke presentasi MLM, atau dipresentasikan langsung di tempat, kemungkinan besar pasti gagal. Sudah banyak orang yang trauma dengan MLM. Kalau di lokasi pertemuan, sudah dipersiapkan pembicara-pembicara terlatih, disertai pengakuan-pengakuan anggota mereka, yang terdengar lebih meyakinkan.

Sotul tidak menyalahkan MLM. Cara kerjanya cukup masuk akal, merekrut dowline dan membuat jaringan sebanyak-banyaknya. Tapi itu bukan perkara gampang. Karena yang menyerah dan gagal sudah banyak bergelimangan di sekitarnya. Contoh paling dekatnya adalah Lamhot.

Dulunya Lamhot adalah mahasiswa satu jurusan dengannya. Suatu hari dia tergiur ikut bisnis MLM obat-obatan dari Tiongkok. Modalnya hampir 3 juta. Cukup besar untuk mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan pas-pasan seperti Lamhot. Dan karena tergiur, dia menyelewengkan uang dari orang tua-nya. Uang yang seharusnya untuk keperluan kuliah, Lamhot gunakan untuk modal join MLM.

Percaya diri Lamhot terlalu tinggi. Kalau kebanyakan orang kuliah sambil kerja, dia dengan bangganya mengaku kerja sambil kuliah.

"Sori, Hot, aku gak berminat. Aku mau konsen di bola aja." tolak Sotul saat itu ketika Lamhot mengajaknya join.

"Kalau kau nanti udah punya penghasilan ratusan juta, dapet awards pesawat pribadi dan kapal pesiar, kau bisa beli Christiano Ronaldo buat ngelatihmu. Kabarnya dia mau dijual sama Madrid." sahut Lamhot.

"Sembarangan aja manusia diperjual-belikan! Itu ngelanggar HAM tauk!"

Tapi sabar memang ada batasnya. Kesabaran Lamhot dalam menerima penolakan demi penolakan saat merekrut, mencapai titik jenuhnya. Pada suatu hari, dia memutuskan berhenti kuliah dan pergi ke Kalimantan Barat dengan alasan mau melebarkan bisnis MLM-nya di sana. Padahal aslinya dia kabur karena sudah tidak memiliki uang semester dan malu sama teman-teman karena bisnis MLM yang dia bangga-banggakan tidak menghasilkan apa-apa.

Sotul tidak tertarik dengan dunia MLM, makanya tadi baru setengah jam pertemuan, dia meloloskan diri dan memilih menemui sahabat-sahabatnya di rumah Putra. Tadi ketika reuni, Sotul berusaha terlihat baik-baik saja di depan teman-temannya. Padahal perasaannya sedang sangat kecewa dan ingin mengamuk. Dalam sehari semalam, dua kali dia menjadi korban PHP, Duma dan Peni. Hal itulah yang membuat Sotul langsung setuju dengan konsep komunitas anti pacaran yang ditawarkan Putra, tadi dia berpikir lebih baik jomblo saja!

"MLM itu apa sih, Bang?" tanya Duma membuyarkan imajinasinya.

Sotul melongo terpana. "Kalau gak tau kenapa tadi ketawa?"

"Ya lucu aja. Abang udah seneng-seneng mengira diajak jalan, taunya ke pertemuan MLM."

"Termasuk aku udah seneng-senengnya nungguin kamu di taman, taunya gak datang, itu juga lucu, 'kan?"

"Itu 'kan karena Tiur." Duma merengut.

"Kan aku udah bilang, kita jadiannya diam-diam, jangan sampai Tiur tau."

"Yang itu 'kan ngomongnya barusan ini?"

"Jadi kamu nerima aku?" Sotul masih ngotot dengan keinginannya.

Duma tampak termenung.

"Entahlah, Bang. Aku pulang dulu. Aku pikir-pikir dulu."

Mata Sotul yang sudah tampak letih itu dia gunakan untuk memandangi kepergian Duma. Matanya letih seletih hatinya menghadapi sikap Duma yang untuk menjawab iya atau tidak saja harus berpikir seribu kali. Tapi dia tak boleh menyerah! Sotul kemudian menyusul dan mengawal Duma keluar dari warung sendor.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #19

Comments