#19

  "Aku balik dulu ke rumah." pamit Duma sesampainya di luar warung. Setelah menatap Sotul sebentar dan memberinya seulas senyum, Duma melangkah maju menuju rumahnya yang didirikan di seberang jalan.

"Tunggu!" kejar Sotul meraih tangan Duma.

Langkah Duma terhenti. Darahnya berdesir merasakan hangat genggaman tangan Sotul di pergelangannya.

"Lepasin, Bang." katanya tanpa upaya berarti. Justru sepertinya membiarkan tangannya dijamah.

"Ini kesempatan terakhir. Kamu terima aku atau iya?"

"Lepasin. Kita harus cepat pergi."

"Gak perlu buru-buru. Jawab dulu. Terima atau iya?"

"Terima sama iya itu 'kan artinya sama?"

"Pokoknya jawab!"

"Kita harus pergi, Bang, dari sini!"

"Kok buru-buru?"

"Memang harus buru-buru. Kalau masih di sini bisa ditabrak truk si Rapi. Ini kita lagi di tengah jalan, Bang!"

Sotul menoleh ke kanan dan ke kiri. "Hah, iya!"

"Ya udah lepasin!"

"Tapi terima aku dulu!"

"Eh, itu ada mobil datang!" kecoh Duma.

"Biarin. Terima aku dulu!"

"Nanti kita ditabrak!"

"Biarin. Terima aku, buruan!" paksa Sotul.

"Kalau ketabrak, Abang bakal tewas trus gagal jadian sama aku."

"Biarin! Eh, iya juga, ya?"

"Iya!"

"Iya apa? Iya terima aku?"

"Iya."

"Iya?"

"Iya!" nada Duma agak meninggi.

"Iya apaan?"

"Iya loh, Bang, iya!" nadanya kini naik satu oktaf.

"Beneran? Gak becanda?"

"Gak." nadanya turun setengah oktaf.

"Bukan karena terpaksa?"

"Kok sekarang jadi Abang yang gak percaya, sih?"

Sotul tersenyum lega banget, tapi tetap tidak ingin melepas tangan Duma. Kali ini dituntunnya mundur hingga ke seberang.

"Cuma mau mastiin, apa yang akhirnya membuat kamu nerima aku?"

"Abang orangnya ngotot. Suka maksa. Gak gampang nyerah. Aku suka dipaksa." jawab Duma juga tersenyum sambil memandang Sotul penuh cinta.

"Abang aneh, aku suka."

"Dan yang terutama, Abang orangnya baik."

"Huh!" Sotul langsung melepas tangan Duma. Dibantingnya lengan itu tetap dengan tenaga selembut-lembutnya. Berdirinya lantas berbalik membelakangi Duma.

"Ternyata kamu gak tulus. Nanti kalau aku udah gak aneh lagi, udah gak baik lagi, berarti kamu gak cinta lagi?"

"Jangan gila!" Duma melangkah memutar dan berdiri di depan Sotul. Ditatapnya mata Sotul tajam.

"Justru Abang sendiri yang sebenarnya gak tulus. Abang jatuh cinta ke aku karena lesung pipi ini, 'kan?" Duma tersenyum sambil menunjuk lesung pipinya sendiri.

"Berarti nanti kalau aku udah tua, terus keriputan, terus cacat di pipi ini sembuh, Abang gak akan cinta aku lagi? Gitu?"

"Gak bisa gitu. Udah duluan kamu yang gak tulus."

"Abang kali yang gak tulus."

"Kamu!"

"Abang!"

"Kamu aja!"

"Kamu, Bang. Udah pokoknya Abang!"

"Gak mau. Aku sibuk. Udah kamu aja!"

"Abaaaang!"

"Kamu. Iya, kamu!"

Begitulah, di hari pertama jadian saja mereka sudah saling tuduh-menuduh tiada habis-habisnya sampai sesore-sorenya.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #20

Comments