#20

  Akhirnya, tanpa sepengetahuan warga Tarutung dan impohtaimen, Sotul dan Duma jadian. Bagi Duma, ini adalah kali kisah cintanya yang paling lucu dan membahagiakan. Sotul malah lebih bahagia dari itu, dengan pacaran sembunyi-sembunyi, dia merasa sudah seperti peribahasa 'sekali tepuk dua pulau terlampaui', bisa memiliki Duma sekaligus bisa tetap bersama komunitas.

Dan malam itu, sehabis keliling-keliling pakai si Merah, Sotul dan Duma melakukan prosesi kencan perdana sebagai sepasang kekasih. Duma mengajak Sotul singgah ke sebuah restoran cepat saji cabang dari Amerika, keyefsi. Karena sudah jadian, Duma ingin mentraktir Sotul makan-makan.

Sejuk dan harumnya ruangan membuat perut mereka bertambah lapar begitu memasuki tempat makan itu. Tapi sejuknya memang kebangetan, serasa diterpa angin kencang sehabis mandi air panas di Sipoholon. Beruntung bagi Sotul, malam itu dia mengenakan hodie dan topi kupluk, sehingga dinginnya tidak terlalu menusuk ke lapisan kulitnya yang tanpa lemak, alias cungkring.

"Dingin kali ya, Bang?" keluh Duma menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dia baru saja memesan makanan.

"Mau kupluk gak?" tanya Sotul sambil menawarkan topi kupluknya.

"Mau, Bang, mau mau." senyum manis Duma langsung merekah, menghiasi jawaban atas tawaran sang kekasih tersayangnya itu. Dia tampak kesenangan, seperti anak kecil yang akan dibelikan mainan.

Sotul melepas kupluknya, lalu bersiap memakaikannya pada Duma.

"Loh, kok ini, Bang?" Duma memandang Sotul tak mengerti.

"Loh, maksudnya?" Sotul memandang Duma lebih tak mengerti.

"Tadi 'kan Abang bilang 'mau kupeluk gak?' Gitu, 'kan?" tanya Duma dengan muka dipolos-polosin.

Sesaat Sotul nyengir, sebelum akhirnya melengos menyembunyikan wajahnya yang hampir tergelak. Ditepuknya lembut kening Duma dua kali.

"Kupluk, Sayang. Kupluk! Hadeh.. Gak usah pura-pura koplok!"

Duma tertawa sambil membekap mulut. Andai bukan di tempat umum, dia pasti sudah tertawa terbahak-bahak.

Sementara Sotul dengan sabar dan penuh kasih sayang, melanjutkan memasangkan kupluk ke kepala Duma. Lalu tersenyum ketika selesai.

"Kamu lucu kalau pakai kupluk, kayak Afika."

"Benua Afrika?"

"Terserah kamu deh, Sayang. Bebas! Aku lagi dapet, males debat." canda Sotul.

Duma kembali tertawa. Dia selalu gagal menahan tawa setiap kali berhasil membuat Sotul kesal.

"Aku emang sering mendadak bolot kalau sama kamu."

"Kok malah aku yang salah?"

Duma mengangkat sebelah bahunya, lalu menyelesaikan sisa tawanya.

"Seandainya aku koma, trus cuma dengan Abang bisikin 'ayo dong siuman'. Aku pasti langsung sadar."

Sotul diam. Dalam hati menebak-nebak arah tujuan perkataan Duma.

"Soalnya aku dengarnya 'ayo dong ciuman'. Muahaha..."

"Kan? Dasar hadiah kuaci!" caci Sotul sambil tertawa kesal. Dan dengan gemas menarik kupluk di kepala Duma hingga ke bawah, membuat separuh hidung imutnya terbenam di dalam kupluk.

Sambil terus tertawa, Duma membuka kembali kupluk yang menutupi wajahnya, diperbaikinya ke posisi semula. Saat proses perbaikan kupluk melewati mata, tawanya spontan terhenti, ekspresi wajahnya berubah ketakutan. Duma panik seketika.

"Ada apa, Beb?" tanya Sotul keheranan melihat cepatnya perubahan wajah Duma.

"Ada Tiur, Bang. Aduh! Harus sembunyi dimana ini? Ke toilet apa ke dalam lesung pipi?" Duma panik sekali. Lalu tanpa pikir panjang, dia berjalan mengendap-ngendap ke kamar mandi rumah makan.

Sotul menoleh ke belakang. Duma benar, ada Tiur dan Rut yang baru saja turun dari sepeda motor dan mulai melangkah memasuki tempat makan. Cepat-cepat Sotul mengembalikan tolehan wajahnya ke arah semula. Tapi terlambat, Tiur sudah terlanjur memergokinya.

"Bang Sotul?" sapa Tiur.

"Iya, dengan saya sendiri." Sotul berusaha tenang.

"Sama siapa di sini?

"Sendiri."

Seiring itu, pelayan datang ke meja Sotul dan menjejerkan makanan yang tadi dipesan Duma.

"Kok porsinya dua?" selidik Tiur melihat pelayan meletakkan makanan untuk dua orang.

Sotul tak berkutik.

"Maksudnya tadi ke sininya Abang sendiri. Terus di sini gak sengaja ketemu kenalan lama. Ya udah Abang traktir aja dia. Mumpung banyak duit, 'kan?"

Tiur manggut-manggut tapi tak percaya.

"Terus sekarang mana temennya?"

"Ngpain sih nanya-nanya terus? Kayak kuis aja. Bisa jawab juga gak dapat hadiah, 'kan?"

Tiur menghela napas. Dia memilih mengalah dan tak ingin kepo lebih jauh lagi.

"Tiur, sana kau pesen makanan, aku ke toilet bentar." kata Rut.

Sotul gelagapan.

"Eh, Rut, tunggu!"

"Ada apa, Bang?"

"Gimana kalau Abang cariin aja batu kecil buatmu, trus kau kantongin, ntar pasti pengen pipisnya ilang?" kata Sotul berupaya menawarkan bantuan.

"Gak usah repot-repot, Bang. Terima kasih." tolak Rut halus, kemudian lanjut melangkah menuju toilet.

Gawat! Sotul yang semakin gelagapan, segera kirim pesan WA ke Duma, memberitahu bahwa Rut sedang menuju ke arahnya.

"Kayak ada yang aneh." gumam Tiur curiga.

"Udah sana, kembali ke tempat masing-masing." Sotul mengibaskan tangan, mengusir adiknya dengan tampan.

Tiur ngeloyor pergi mencari tempat tak jauh dari Sotul. Tak beberapa lama, Rut sudah kembali lagi dengan wajah biasa-biasa saja. Melihat itu, Sotul merasa plong banget. Lega perasaannya. Itu berarti selama di toilet tadi, Rut dan Duma tidak saling bertemu.

"Sayang gimana keadaan kamu?" Sotul bertanya via pesan WA.

"Aku selamat, Bang. Tapi aku pulang duluan naik angkot. Takut banget ketemu mereka."

Sotul tergagap. Seketika lega. Mungkin karena kemistri antara keduanya sudah sangat kuat, tiba-tiba Sotul juga kembali merasakan takut seperti yang Duma rasakan. Dia takut memikirkan siapa yang akan bertanggung jawab membayar makanan ini? Tadi 'kan yang ngajakin Duma. Duma yang mau traktir, kok malah pulang duluan? Sementara Sotul sendiri tidak ada uang. Dompetnya ketinggalan di lemari yang dia ajak ngobrol kemarin.

Dalam ketakutan tersebut, Sotul menoleh ke arah Tiur yang kebetulan juga sedang melihatnya. Sotul mengangguk dan tersenyum manis. Tiur tidak menggubris. Sotul bangkit mendekati Tiur dengan langkah ditampan-tampanin.

"Mmm... Tiur. Kau tau gak, kalau kedatanganku ke sini adalah mau pinjem duit?"



                                  --~o0o~--

Next: Episode #21

Comments