#21
Semenjak peristiwa di
rumah makan malam itu, Sotul dan Duma menjadi lebih berhati-hati lagi jika akan
bertemu. Sebisa mungkin mereka harus menghindari tempat-tempat yang berpotensi
didatangi Tiur atau pun Rut.
Seperti
Sabtu petang ini, Sotul mengajak Duma ketemuan di panatapan mini bundaran
polsek. Di panatapan tersebut, jika siang panasnya bisa sangat mencekam, tapi
kalau sore-sore seperti ini atau malam hari, cukup memadai dijadikan tempat
nongkrong-nongkrong memantau lalu-lintas kota Tarutung, sambil menikmati
indahnya kelap-kelip lampu sein.
"Christine
ini siapa sih, Bang? Giat banget
komen di status kamu." tanya Duma yang sedang melihat-lihat dinding
Facebook Sotul.
"Gak
kenal. Berteman di Facebook juga belum lama."
"Kalau
dia komen, kamu jangan terlalu ladenin gini dong, Bang. Aku gak suka!"
kata Duma sambil cemberut.
"Iya,
Bebinya aku. Maaf. Besok-besok gak lagi." sahut Sotul berjanji.
Tadi
siang dia memang sempat berbalas-balas komen dengan Christine. Orangnya asyik,
kalau komen lucu, tidak asal komen kayak aktivis Facebook kebanyakan.
Duma
menutup Facebook-nya, beralih memandangi langit petang yang mulai
memunculkan bintang-bintang.
"Abang
bintangnya apa?"
"Kok
tiba-tiba nanyain bintang?"
"Jangan
bales nanya!"
Belum
sempat Sotul menjawab, ada kiriman pesan WA dari Putra. Isinya hanya sebaris
kata yang tidak berpotensi dibalas, yakni mengingatkan malam ini malam Minggu,
supaya jangan lupa ngumpul.
Sotul
dongkol sendiri membaca pesan itu. Pertama, tanpa perlu dingatkan, Sotul sudah
ingat sekarang malam Minggu waktunya ngumpul. Kedua, Sotul sebenarnya sangat
ingin menghabiskan malam ini bersama Duma, tapi bagaimana lagi, inilah resiko
pacaran sembunyi-sembunyi yang harus dia terima.
"Pulang
yuk, Sayang. Panatapan polsek ini kayaknya udah mau tutup." ajak Sotul
tiba-tiba.
"Ditanyain
bintang gitu aja malah ngajak pulang. Emang kita gak sekalian malam
mingguan?"
"Ya
masa malam mingguan penampilan kita kayak gini? Permak diri dulu lah. Mandi,
ganti baju, pakai minyak rambut, operasi wajah..."
"Jawab
dulu, bintangnya Abang apa?" potong Duma.
Ada
rasa heran dalam benak Sotul terhadap cewek-cewek yang percaya ramalan bintang,
kemudian suka mencocok-cocokkan bintangnya dengan bintang cowoknya. Sebenarnya
cowok juga banyak, tapi Sotul tidak termasuk. Dia tidak baperan kayak
kebanyakan teman-temannya di Facebook.
Dulu
waktu SMP dia memang sempat tersesat. Tiap beli majalah, yang dilihat pertama
pasti rubrik horoskop, dan tentu saja ramalan zodiaknya yang dibaca duluan,
setelah itu zodiak gebetannya. Zodiak-zodiak yang lain menjadi terasa tidak
penting. Sering memang yang diramalkan itu hampir sesuai kenyataan, tapi
setelah Sotul mencoba membaca-baca zodiak yang lain, apa yang diramalkan untuk
zodiak lain itu juga dialaminya. Sotul sempat stress. Sebenarnya dia salah
bintang atau bagaimana?
Dan
dulu Sotul pernah dirugikan secara materi gara-gara percaya bintang. Ceritanya
dia tergoda ikutan ketik REG spasi Nama Bintang lalu kirim ke nomor tertentu.
Sotul kecewa. Bukan karena ramalan untuknya jelek-jelek, melainkan SMS-SMS
ramalan itu terus masuk sambil menguras pulsanya 2200 perak persms. Padahal
Sotul sudah UNREG berulang kali. Bahkan setiap isi ulang, pulsanya langsung
disedot tanpa izin. Sotul trauma sampai ganti kartu. Makanya sejak saat itu,
persetan dengan ramalan bintang!
"Pilihin
dong yang bagus buat aku bintang apa?" jawab Sotul garing.
"Mana
bisa gitu!" Duma cemberut manja.
"Dulu
waktu SMP bintangku Scorpio. Gak tau kalau sekarang, mungkin udah
RX-King."
Duma
cemberut kuadrat. Sotul tertawa sebentar, kemudian kepalanya mendongak ikut
memandang langit.
"Aku tuh sebenarnya gak peduli bintangku
Scorpio, atau Libra, Kejora, bintang tujuh, bintang kelas, atau Bintang Utara.
Bagiku, bisa menjadi bintang hatimu, itu yang paling penting, Duma."
Duma
tersenyum malu.
"Ya
udah, ayo pulang aja."
--~o0o~--
Kuteriakkan rasa
Lewat debu-debu di ujung sepatu
Tak mau lagi kumencintai cinta
Cinta itu menyakitiku
Suatu hari hampir mematikanku
Kerinduan tanpa tepi-tepi waktu
Menyiksa dalam tidur dan sadarku
Siang malam berakhir percuma
Ketika cinta yang kurasa
Dia cuma fatamorgana
Bagai jerat laba-laba
Tiada terbaca
Tapi perangkapnya nyata
Ku mau sendiri saja
Tanpa cinta ku mampu berdiri
Meniti hari berburu prestasi
Aku benci cinta...
So.. Lalilalii...
Oo.. Laolalaa....
Buka sitik, Joss!!
Di
sebuah kamar yang pengap, komunitas itu sedang asyik berlatih. Putra si pembuat
beat instrumentalnya yang sekaligus merangkap rapper manggut-manggut gak jelas
di depan laptopnya. Sotul, lewat suaranya yang serak basah-basah dan pitch
control yang tidak terkontrol, tengah menyanyikan lagu 'anti cinta'
ciptaannya sendiri. Di sudut kamar dekat deretan celana jins yang kumal
bergantungan, ada Dede yang menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sambil
membaca lirik. Sementara Lamhot di dekat jendela, tidak kalah seru beraksi
berjingkrak-jingkrak bahagia sambil sesekali meneriakkan, "Ayouuw! Kemon
youw! Aha!". Dia berkhayal tengah berada di hingar bingar panggung konser,
padahal justru mirip monyet dapat lemparan kacang.
Lima
menit kemudian lagu berakhir.
"Makin
hari makin kompak aja perfom kita. Aku yakin suatu saat komunitas kita akan
jadi grup Hiphop besar!" koar Putra kepada kawanannya.
"Tapi
sebaiknya kita segera nambah personil untuk posisi rapper kedua pengganti
Ronggur. Suara lu sekarang udah dangdut banget, Put! Gak pantes lagi sama
formasi baru kita." sahut Dede mengeluarkan pendapat.
"Iya
bener. Tadinya juga aku mau usul gitu, tapi males." Lamhot menimpali.
"Sebenarnya
dari awal aku juga pengen usul gitu, tapi aku kuatir kalian gak setuju."
celetuk Putra.
"Aku
sendiri juga heran sama suaraku. Padahal kalau nyanyi sambil denger lagu pakai
earphone, suaraku bagus banget. Asli! Tapi pas tanpa earphone, bisa hancur
banget gini?"
"Jadi
gimana? Apa perlu kita adain audisi di 5 kota besar di Indonesia?" tanya
Dede tanpa memperdulikan curhatan Putra.
"Gak
perlu. Masing-masing kita sambil cari-cari aja, kalau ketemu yang suaranya
ngerock, tawarin masuk ke grup kita tanpa audisi." jawab Putra.
Sotul
sedari tadi hanya diam, tak sempat ikut nimbrung, dia asik dengan ponselnya,
sedang berjuang keras membujuk Duma lewat WA yang sedang merajuk berat karena
malam ini tidak diapeli.
--~o0o~--
Next: Episode #22
Comments