#22

  Sebagai pasangan yang baru jadian, sejatinya malam Minggu ini Duma bisa seneng. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, dia manyun seorang diri di dalam kamar. Sotul tidak datang, malam Minggunya bentrok dengan jadwal ngumpul. Duma marah, permintaan maaf serta bujuk rayu Sotul lewat pesan WA tidak Duma hiraukan sangkin marahnya.

Terlebih saat ini Duma stalqueen wall Facebook Sotul, dan membaca ulang komen Christine di status-status Sotul. Genit banget dan tampak nyata sedang cari perhatian.

"FB aku kenapa, ya? Tiap bikin status pake privasi 'hanya saya', kok gak ada yang nge-like apalagi komen. Padahal statusnya bagus. 'Kan sayang banget." tulis Sotul di salah satu statusnya.

Christine dengan genitnya berkomentar: "Iya, sayang banget. Sama kamu."

Sotul membalas komen Christine dengan enam emot tertawa.

Si Christine berkomentar lagi: "FB aku juga kayaknya rusak. Dari kemarin mau nyolek akun sendiri gak bisa-bisa."

Sotul membalas: "Mungkin jarinya abis ngupil kali?"

Si Christine masih saja mencoba melucu: "Bisa jadi. Tapi bagus juga sih di Facebook ada fitur 'buat halaman'nya. Bikin yuk, biar rumah kita kelak punya halaman."

Duma benci!

Di kolom publik saja obrolan mereka intim banget, bagaimana kalau di pesan-pesan pribadi? Sangkin bencinya, Duma ingin meng-unfriend Christine, sayangnya tidak bisa, dia belum berteman dengan gadis itu. Akhirnya, yang bisa Duma lakukan hanyalah mengirimi Christine pesan: "Kau siapa sih, sok akrab kali sama Sotul?"

Christine hanya membaca pesan itu, tidak membalasnya.

"Helloouuwww..." desak Duma lagi.

"Bukan siapa-siapa. Kenapa?" balas Christine akhirnya.

"Gak usah genit-genit gitu ke Sotul!"

"Biasa aja, kok."

"Biasa aja gigimu jongos! Itu komen 'iya sayang banget sama kamu', maksudnya apa?"

"Kok kau marah-marah? Kau sendiri siapanya dia?"

"Aku pacarnya!!"

Kemudian hening. Untuk beberapa lama tidak ada balasan.

"Masa, sih? Tapi di status hubungannnya Sotul masih 'lajang'?"

"Penting, ya, status pacaran dipajang-pajang?"

Christine tak membalas lagi. Padahal Duma belum puas chat war dengan dia. Karena tak kunjung dibalas, akhirnya Duma mencoba menambahkan Christine menjadi teman, seraya dia mengirim pesan: "Christine, konfirmasi aku dong."

Tak butuh waktu lama, Christine langsung menerima permintaan pertemanan Duma. Dia juga membalas pesan Duma: "Tadi ngamuk-ngamuk, sekarang minta pertemanan. Maunya apa?"

"Siapa yang mau berteman? Ge'er! Aku tuh nge-add kau semata-mata supaya bisa nge-remove kau, tau gak? Makanya jangan suka godain pacar orang! PAHAM!!!!! Dasar PHO!"

Sengaja Duma memakai huruf besar di kata 'paham' disertai tanda seru lima petik, supaya Christine bisa mendengar dengan jelas isi hatinya. Setelah itu Duma langsung me-remove gadis itu.

"Rasain!" maki Duma sambil menyeringai puas.

Siang harinya, berlokasi di warung sendor depan rumah Duma, tampak dua orang sedang marahan, Sotul Vs Duma. Mode marahan yang mereka aktifkan adalah getar diam-diaman. Sudah setengah jam mode itu digunakan dan belum ada tanda-tanda bakalan ada yang mau berdering duluan. Bukan hanya saling diam, bahkan duduk mereka saja saling berjauhan. Sotul duduk di ujung bangku sebelah kanan, sementara Duma duduk di genteng.

Ngambeknya Duma dikarenakan semalam tidak diapelin, plus melihat dengan mata kepalanya sendiri keakraban Sotul dan Christine di Facebook. Sementara Sotul ngambeknya karena Duma tidak mau mengerti dengan kondisinya tadi malam, yang memang harus latihan bersama komunitasnya.

Setelah tak bergeming cukup lama, akhirnya Sotul tidak kuat juga. Dia mendatangi Duma yang kini sudah duduk mengurek-ngurek tanah.

"Maafin aku, Beb." pinta Sotul memelas.

Duma mendongak.

"Selama kita pacaran, Abang gak pernah malam mingguin aku. Aku sebel!"

"Ya elah. Kita 'kan jadian baru beberapa hari? Tadi malam juga baru malam Minggu pertama, iya, 'kan?"

"Nah itu. Baru malam Minggu pertama aja udah gak datang, gimana nanti kalau udah malam Minggu keduaribuduapuluh? Orang juga kalau baru jadian itu masih sayang-sayangnya. Gak kayak Abang."

"Kan aku udah jelasin kalau aku ada komunitas. Gak enak sama teman-temanku loh, Sayang." kata Sotul dengan nada parau sambil duduk di sebelah Duma. Wajahnya tertunduk dalam-dalam, lalu mengambil ranting kayu dan ikut mengurek-ngurek tanah.

"Kalau gak enak kasih ke kucing aja!" Duma membalas dengan nada ketus.

Kembali hening. Suasana warung sendor siang itu agaknya mencekam. Duma terenyuh melihat itu. Namun akhirnya dia juga merasa bersalah, baru jadian saja sudah banyak menuntut dan mengekang.

"Aku minta maaf, Bang." kata Duma yang sudah duduk di samping Sotul.

"Aku yang salah, Beb. Aku yang minta maaf." jawab Sotul memutar posisi duduknya menghadap Duma.

"Aku yang salah, gak bisa ngertiin Abang."

"Buktinya udah jelas, aku yang salah, aku gak ngapelin kamu semalam. Dibawa ke KPK juga pasti aku yang salah."

"Gak, Bang. Ini aku yang salah."

"Gak apa-apa kok, aku aja yang salah."

"Aku aja ya, Bang. Pliss?"

"Ya udah, kamu aja." Sotul akhirnya mengalah.

Duma tersenyum lega. Begitu pun Sotul. Dengan demikian, marahan mereka resmi selesai.

Sotul melemparkan ranting yang tadi digunakan untuk ngurek-ngurek bumi. Ranting itu mengenai ayam. Ayamnya mengotek sesaat lalu menghilang di gelapnya semak.

"Sekarang aku mau main bola." kata Sotul kemudian seusai mereka menyaksikan adegan penderitaan ayam.

"Aku ikut." sahut Duma cepat.

"Hah? Ngapain ikut? Yang main itu cuma cowok-cowok loh, Sayang."

"Aku gak ikut main, aku ikut Abang. Ntar kita mojok di lapangan."

"Mana boleh. Pojok lapangan itu buat tendangan sudut, bukan untuk lokasi pacaran."

Duma terdiam dengan raut wajah kecewa.

"Gak usah ikut ya, Sayang. Aku takut nanti aku mainnya semakin semangat gara-gara ditontonin kamu. Terus lawan kami jadi kalah telak, gimana coba?" gombal Sotul.

"Udah malam Minggu gak diapelin, sekarang mau ikut ke lapangan aja gak boleh." Duma kembali tertunduk sedih. Dia kembali mengurek-ngurek tanah dengan gerakan lebih serampangan.

"Kamu kayaknya ada bakat ngurek tanah, deh. Kerja di si Rapi pasti cocok, Sayang." Sotul bercanda garing sambil tersenyum terpaksa. Jelek banget.

Duma semakin sebel dan mempercepat goresan di tanah. Secara tak sengaja goresan itu membentuk lukisan Monalisa, karya masterpiece Da Vinci.

"Ya udah, ya udah. Kamu ikut." Sotul akhirnya tidak tega.

Wajah Duma langsung sumringah.

"Beneran boleh ikut ke lapangan?"

"Iya. Tapi janji, rumputnya jangan dimakani?"

Duma merengut lagi. Bibirnya maju dua senti. Tapi tetap cantik.

"Emangnya Duma sapi?"

"Hahaha..." Sotul mengucek-ucek poni Duma sambil meraih tangannya dan membimbingnya berdiri.

"Kebiasaan!" Duma menghindar.

"Baru di-smothing ini udah diacak-acak lagi." kata Duma lagi sambil melepaskan genggaman Sotul lalu memperbaiki poninya.

Tawa Sotul semakin kencang, setelah itu dibelai-belainya rambut Duma hati-hati, ikut merapikan poninya.

"Udah yuk berangkat." ajak Sotul melangkah membimbing Duma ke arah motornya.

"Ntar bikinin gol buat aku ya, Bang?" pinta Duma.

"Aku usahain." jawabnya sambil merogoh saku mengambil kunci kontak.

"Abang kalau main bola di posisi apa?"

"Striker."

"Sticker? Itu 'kan untuk ditempe..."

"Striker, Beb, Striker. Kok sticker, sih!"

Duma tersenyum manis. Memamerkan barisan giginya yang cantik.

"Sebenarnya aku ini pemain serba bisa. Dimainkan di posisi mana aja aku bisa."

"Wuih!" Duma memandang kekasihnya dengan tatapan bangga.

"Yang paling sering main di posisi mana, Bang?"

"Posisi 69."

"Apa itu?"

"Maksudnya pemain cadangan, Bebi." jawab Sotul berdalih sambil terpaksa tertawa, menutupi ketidak-nyambungan Duma.

Sotul kemudian naik ke motornya. Sotul menduga kalau Duma ini calon orang pintar. Hasrat ingin tahunya begitu besar. Suka bertanya, meski terkadang tidak nyambung.

Duma menyusul mendaratkan pantatnya di jok belakang.

"Pemain cadangan 'kan sama aja pilihan kedua. Itu 'kan posisi gak bagus, Bang?"

"Siapa bilang? Pemain cadangan itu bukan berarti tidak diutamakan, bisa jadi dia disimpan untuk pertandingan besar." jelas Sotul memberikan informasi yang entah didapat dari situs sepakbola mana. Setelah itu, dia segera melarikan Revo 110cc-nya menuju lapangan tak terurus di Komplek Stadion.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #23

Comments