#23
"Makasih ya, Bang. Gak
nyangka Abang beneran bikinin gol buat aku." kata Duma. Sekarang mereka
sedang mamam mie ayam di Simpang Empat belakang pos polisi.
Di
depan Duma, ada Sotul yang memandangnya keki.
"Tapi
aku salut sama Abang, habis nyetak gol gak bikin selebrasi lebay, apalagi
sampai peluk-pelukan sesama pemain yang padahal sejenis. 'Kan bisa dikira
homo."
"Emang
selebrasiku tadi kayak gimana?" tanya Sotul setelah menelan daging ayam
beserta tulang-tulangnya tanpa mengunyahnya.
"Kalau
Abang tadi tetep tenang, nundukin kepala, melangkah santai. Pokoknya
cool."
"Aku
tadi pasang selebrasi datar begitu karena gol yang kubuat itu ke gawang
sendiri. Gol bunuh diri, Sayang. Huft...!"
"Pendek
banget jalan pikirannya sampai mau bunuh diri. Emang gak kasihan sama orang
tuanya?" kata Duma yang wawasan sepakbolanya memang sangat mengecewakan.
"Udah,
ah. Cukup pertanyaannya hari ini. Menurutku lebih cantik kalau sekarang kamu
segera selesain makannya, abis itu kita pulang. Gak baik berantem di Simpang
Empat kayak gini." kata Sotul melihat porsi mie ayam Duma yang masih habis
separuh, padahal punyanya sudah habis dari tadi. Mangkoknya saja sampai
terlihat bersih dan kesat kayak habis disunlight.
Setelah
selesai makan dan melakukan transaksi pembayaran, Sotul menggandeng Duma ke
jalan. Sesampainya di jalan, tiba-tiba Sotul terperanjat singkat seperti
kesetrum busi. Tak disangka-sangka, dia berpapasan dengan salah seorang anggota
sekomunitas! Sotul buru-buru melepas tangan Duma dari genggamannya.
"Ini
siapa Sotul?" tanya Lamhot memandangi Duma.
"Eng...
Adikku." jawab Sotul sebisa mungkin terlihat tenang, agar Lamhot tidak
semakin curiga.
Lamhot
menatap muka Sotul dan Duma bergantian, mencoba mencari celah kebenaran atas
pengakuan Sotul.
"Adikmu
bukannya Tiur? Tiur kok jadi gini? Kok beda? Baru oplas?"
"Emm...
Bukan adik kandung, sih. Dia ini
putrinya Tulang dari Opung Bao martinodohon dari Mamaknya Mamakku."
Wajah
Lamhot tampak stress dan frustasi. Dalam hatinya dia menghubung-hubungkan garis
silsilah keluarga yang membingungkan itu, namun tidak mampu.
"Kau
sendiri ngapain di sini?" Sotul gantian bertanya, membuyarkan kalkulasi
dalam benak Lamhot.
"Mau
ke ATM." jawab Lamhot singkat.
"Oh,
ya udah sana. Ini aku juga lagi buru-buru mau nonton Bioskop TransTV."
pamit Sotul sambil menyalakan motornya. Duma naik di jok belakang dengan wajah
cemberut. Lamhot meneruskan jalannya sambil tetap memperhatikan mereka.
Sotul
langsung menjalankan motornya begitu Duma naik. Itu membuat Duma terkejut dan
hampir terjatuh. Lamhot masih memperhatikan mereka.
"Kita
langsung pulang atau kemana lagi, nih?"
basa basi Sotul setelah merasa jarak mereka dari Lamhot sudah aman. Sebenarnya
dia hanya ingin mencobai Duma apakah Duma marah atau tidak karena barusan tidak
diakui sebagai pacar.
"Siapa
itu tadi?" tanya Duma jutek.
"Oh,
Lamhot. Lengkapnya Lamhot Marroha Pasaribu. Temen sekomunitas sekaligus mantan
temen sekuliah. Dia berhenti kuliah gara-gara..."
"Abang
malu ya punya pacar cantik kayak aku?" potong Duma menatap Sotul tajam.
Sotul
menghentikan laju motor. Kekhawatiran Sotul menjadi kenyataan. Duma marah.
Sotul tertunduk pilu. Tak berani membalas tatapan Duma yang begitu tajam, takut
matanya tersayat. Tangan Duma meraih dagu Sotul, diangkatnya wajah itu kembali
ke posisi saling tatap.
"Kenapa
nunduk? Ayo jawab?"
"Sayang,
kamu 'kan tau kita lagi menjalani pacaran sembunyi-sembunyi." jelas Sotul
dengan nada suara parau.
"Tapi
'kan sembunyi-sembunyinya cuma dari Tiur, Rut, dan daerah sekitarnya aja. Bukan
ke semua orang."
"Buat
jaga-jaga aja, Sayang. Siapa tau nanti Lamhot cerita ke Tiur."
"Gak
mungkin, gak mungkin!" tampik Duma kontra. Dia yakin, andai saja ada
kejuaraan ngeles tingkat kabupaten Tapanuli Utara, Sotul pasti bakal jadi juara
pertama!
"Aku
hanya berusaha meminimalisir resiko. Bisa aja Lamhot cerita ke bapaknya, terus
bapaknya cerita ke istrinya, lalu besoknya mamaknya pergi ke pasar dan
bercerita ke orang-orang di pasar tentang hubungan kita. Dan pada saat itu
mamakku juga di pasar, trus dilaporin deh
ke Tiur."
Duma
buang pandangan ke jalan raya. Bete berat! Pengen rasanya menjambak Sotul
kemudian menggesekkan mukanya ke aspal. Tapi Duma khawatir nanti Sotul malah
berubah jadi ganteng.
"Beb?"
Duma
tidak menyahut.
"Bebi?"
"Gak
denger!"
Sotul
tertawa tanpa suara.
"Jangan
mudah marah gitu, dong? Nanti kamu cepat tua loh. Memangnya kamu gak mau kita
menua bersama?"
Duma
mengunci bibirnya sekuat tenaga, berusaha tidak tersenyum.
--~o0o~--
Di
sekolah pagi-pagi, Duma baru saja memakirkan motor, Tikko sudah datang
menemuinya dengan tampang tidak bahagia.
"Berkali-kali
kutelepon gak diangkat-angkat. Di-Whatsapp juga cuma dibaca. Kenapa sih, Duma? Keberatan?" cecar Tikko.
Ternyata dia memang lagi kesal.
"Emm.
Iya. Dikit." jawab Duma.
"Coba
bayangin deh, Tikko. HP-ku itu ya,
lagunya aja ada 2 ribuan, belum video, belum lagi foto, meme, rekaman, udah
gitu pulsanya banyak, wajar 'kan kalau berat?"
"Lucu?"
"Gak!"
Duma menggeleng sambil menahan senyum.
Tikko
menyemburkan nafas kesal.
"Kenapa sih jadi cuek gini sama aku?"
"Cuek
apaan? Biasa aja kok." sahut Duma menatap Tikko sebentar, lalu berjalan
meninggalkan parkiran menuju kelas.
"Duma?"
panggil Tikko berjalan membuntuti Duma.
Langkah
Duma semakin dipercepat seperti orang mau gajian. Dia pura-pura tidak
mendengar.
"Dumariaaa?"
Tikko memanggilnya lebih keras.
Duma
yang sudah hampir tiba di depan kelasnya terpaksa berhenti, kemudian balik
kanan menghadap Tikko.
"Sudahlah,
Tikko. Mulai menit ini sebaiknya kamu gak usah terlalu perhatian ke aku.
Percuma!" Duma langsung memasuki kelas tanpa menghiraukan Tikko lagi.
"Kasian
tau. Dia jauh-jauh dari luar negeri demi kau." kata Tiur yang sedari tadi
ternyata menonton adegan Tikko dan Duma melalui layar kaca jendela.
"Gombalan
kayak gitu dipercaya?" gumam Duma tersenyum sinis.
"Padahal
waktu pertama kali dia datang kau seneng kali."
"Udah
ah, gak usah bahas dia. Gak penting. Mending sekarang kita bahas Indeks Harga
Saham Gabungan aja biar lebih berbobot."
"Dengar
ya, Duma. Kalau alasanmu menolak Tikko hanya karena ingin ngebuktiin kalau kau
udah berubah, udah gak genit lagi, itu gak mengubah apapun. Aku tetap gak akan
merestuimu mendekati Bang Sotul."
Duma
hanya termangu. Tatap matanya sendu ke arah whiteboard di depan
kelas.
"Lebih
baik jadi diri sendiri seperti biasanya. Seorang Dumaria yang suka menggoda
cowok-cowok, yang bisa punya pacar sekaligus tiga, yang ingin punya mantan
banyak. Sekarang ini kau hanya menyamar, menyamar menjadi orang lain untuk
sebuah kepentingan. Modushh!" lanjut Tiur.
Duduk
Duma berubah menjadi bersandar dengan posisi setengah berbaring. Kepalanya yang
diletakkan di tepi sandaran kursi menatap langit-langit kelas. Ditolehnya Tiur
sebentar.
"Jadi
diri sendiri emang penting. Tapi sekarang aku sadar, menghargai orang lain jauh
lebih penting." ucapnya sarkas.
Tiur
terdiam. Sedikit heran dengan maksud Duma kali ini.
"Ntar
sore kumpul, yuk? Sekalian ngerjain tugas bahasa Inggris." kata Rut
menetralisir suasana.
"Di
rumahku aja. Biar kalau ada soal yang kita gak ngerti, kita bisa nanyak-nanyak
ke Bang Sotul. Dia lumayan jago tuh ngomong bule." tawar Tiur.
"Jam
berapa kumpulnya?" Rut bertanya.
"Maunya
jam berapa?" Tiur balik bertanya.
"Gimana
kalau jam tiga?"
"Tambahin
tigapuluh menit ya. Jam setengah empat?"
Duma
hanya diam, tak ikut rembuk, tapi akan ikut apapun hasil keputusan mereka.
--~o0o~--
Next: Episode #24
Comments