#24
Selesai kuliah Sotul tidak
langsung pulang ke rumah. Dia singgah ke tukang pangkas Sabar Menunggu. Dia
ingin sedikit merapikan rambutnya yang mulai tampak tak mengenakkan.
Usaha
potong rambut yang sudah buka sejak Sotul kecil itu punya pegawai tetap yang
dari dulu tidak pernah ganti. Usaha itu juga memiliki banyak pelanggan tetap,
dari pegawai negeri, anggota dewan, wartawan, sampai aparat, dan Sotul termasuk
di antaranya. Seperti halnya salon bagi kaum perempuan, tempat pangkas rambut
adalah tempatnya para lelaki bergosip. Mulai dari politik, sampai paradaton
biasa diwawancarakan di sana. Dan meski Sotul adalah salah satu pelanggan
tetapnya, dia tetap tidak berani mengutang. Bahkan sebaliknya, tak jarang dia
memberikan tip lebih atas layanan tukang pangkas di sana yang menyenangkan
karena selalu memberikan urut-an singkat seusai potong rambut.
Ada
empat orang pegawai di sana. Satu yang berada di depan dekat kaca adalah
langganan tetap Sotul. Dia memilih pria paruh baya itu sebagai tukang pangkas
tetap favoritnya dengan alasan Sotul selalu merasa klop dengan hasil karya
beliau pada kepalanya.
Beliau
sedang ada pelanggan ketika Sotul tiba di sana. Setelah melempar senyum
seadanya, Sotul duduk mengantri sambil chatting-an dengan Duma. Karena mungkin
dasar sudah jodoh, baru saja Sotul mulai mengetik, Duma sudah lebih dulu
menyapa.
"Udah
siang nih, Bang. Abang jangan lupa
ingetin aku makan siang, ya?"
"Eh,
iya. Makasih ya, Sayang, udah ingetin aku untuk ingetin kamu makan siang.
Hampir aja lupa. Kalau sampai lupa, aku pasti gak akan memaafkan diriku
sendiri."
"Hehee...
Gak apa-apa. Aku tetep cinta."
"Minumnya
diingetin juga gak?" balas Sotul lagi.
"Gak
usah, Bang, ntar Abang capek. Kalau haus atau kepedesan aku juga pasti inget
sendiri, kok."
"Pinternya
sayangnya aku. Oh ya, makan siangnya bareng calon mertuaku gak?"
"Gak.
Kayaknya mereka udah kenyang. Soalnya sudah banyak makan asam garam
kehidupan."
"Hahaa..."
"Aku
kangen."
"Aku
juga kangen."
"Abang
lagi apa, selain ikut-ikutan kangen?"
"Gak
ada. Sekarang ini aku lagi kangen aja. Ntar sore baru aku ke sana."
"Serius?
Jam berapa?"
"4."
"Kayaknya
gak bisa. Jam segitu aku ngerjain PR bahasa Inggris sama Tiur dan Rut."
"Batalin
aja. Nanti sama aku aja ngerjain barengnya."
"Asyik
banget. Lagi apa, sih?" tanya Putra
yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Nonton
film." jawab Sotul sekenanya.
"Film
apa?"
"SMA Hot.3gp."
"Wih.
Bagus dong?"
"Lumayan.
Isinya rekaman anak SMA lagi dihukum jemur di lapangan upacara."
"Bagus
banget itu! Kirim dong lewat infra merah."
"Gak
bisa, Put. Pulsaku kritis." jawab Sotul tanpa melihat kepada lawan
bicaranya.
Putra
tak ikut campur lagi, dia memilih duduk di salah satu kursi di depan Sotul.
Sotul juga kembali meneruskan acara chatting-nya, tidak hirau walau sudah
mendapat peringatan baterai tinggal 12%. Dia akhirnya merapat ke colokan biar
bisa tetap chatting sekalian ngecas.
Sangkin
asyiknya, Sotul sampai lupa kalau sesungguhnya dari tadi dia sudah menahan
pipis sejak dari Unita. Ada kalanya memang, ngobrol berbalas-balasan pesan
singkat bersama kesayangan terasa lebih seru dan mengasyikkan, hingga tanpa
terasa 15 menit sudah berlalu.
"Jadi
pangkas gak, nih? Main HP mulu!"
seru Putra tiba-tiba, membuyarkan keasyikan Sotul.
"Eh,
iya. Tapi bentar aku ke toilet dulu." kata Sotul sambil meringis membekap
selangkangannya. Nafsu pipisnya yang sedari tadi masih bisa ditahan, sekarang
sudah tidak bisa. Diletakkannya handphone yang masih dicas tersebut, lalu
tergesa-gesa pergi ke toilet.
--~o0o~--
"Duma
gak bisa dateng. Katanya jam 4 ada acara keluarga." Tiur menunjukkan
kepada Rut pesan dari Duma yang baru saja dia terima. Mereka berdua sudah ada
di rumah Tiur.
Rut
melihat pesan itu sekilas. Dari raut wajahnya dia terlihat tidak terlalu
peduli.
"Ya
udah kita selesaikan aja berdua."
Kemudian
keduanya bahu membahu berusaha menyelesaikan soal demi soal. Ada 20 soal, dan
harus benar semua jika ingin mendapat nilai yang bagus. Tapi sudah setengah jam
berlalu, mereka baru menyelesaikan 3 soal. Itu pun tidak beruratan. Dan itu pun
belum tentu benar.
"Susah-susah,
ya, soalnya?" keluh Rut.
Tiur
tersenyum sepet. Jika Rut yang paling pintar di antara mereka saja sudah
menggagap soal itu susah, apalagi Tiur.
Untung
tak lama kemudian, dari luar terdengar suara Revo berhenti. Tiur tersenyum. Dia
tahu itu Sotul yang baru pulang dari kampus, yang sebentar lagi bisa dimintai
tolong mengerjakan tugas.
"Bang,
bantuin jawab PR bahasa Inggris." sambut Tiur begitu Sotul memasuki ambang
pintu.
"Jam
berapa sekarang?" Sotul justru bertanya.
"Jam
3.43."
"Waduh
gak bisa. Ntar malam aja, soalnya 15 menit lagi aku ada acara." kata Sotul
sambil melangkah masuk ke kamarnya.
"Sok
sibuk banget, sih?" gerutu Tiur
tampak kecewa.
Sementara
Rut menunduk pura-pura menekuni buku pelajarannya, dia takut wajahnya yang
tengah sedih terlihat oleh Tiur.
"Ntar
malam pasti aku bantuin. Janji!" kata Sotul meyakinkan. Dia baru saja
keluar kamar tergesa dan sedang melintas ke luar rumah.
Tiur
bergeming. Dicegah juga pasti percuma. Tak berapa lama, dari luar terdengar
Sotul sudah menyalakan motornya dan perlahan suara motor itu terdengar menjauh.
"Tiur,
aku pulang aja, ya? Ngantuk aku." Rut minta diri setelah deru motor Sotul
menghilang.
"Sama.
Aku juga ngantuk. Gak mood belajar." sahut Tiur sambil menguap bebas tanpa
menutup mulut. Beberapa saat aroma naga sempat menguar memenuhi ruangan.
"Gak
ada Duma kurang seru, ya?"
"Iya."
sahut Rut pendek.
Setelah
memasukkan buku-bukunya ke dalam karung, Rut meninggalkan rumah Tiur dengan
langkah terburu. Sebenarnya, dia sama sekali tidak mengantuk.
--~o0o~--
Duma
sedang sibuk menyapu halaman ketika sore itu motor Sotul memasuki halaman
rumahnya.
Tiinn!
Sotul
memberi sebuah klaksonan mesra. Duma menoleh dan tersenyum.
"Lagi
nyapu." katanya.
"Udah
tau." sahut Sotul sambil turun dari motor.
"Tapi
kelihatan masih kurang bersih."
"Apaan, sih? Datang-datang mengkritik."
sewot Duma.
Tanpa
banyak kata, Sotul mengambil satu sapu lagi, kemudian ikut membantu Duma
menyapu dedaunan kering yang mengotori halaman.
Duma
tersenyum senang.
"Ini
pasti pencitraan. Biar orang tuaku mengira kamu lelaki yang rajin membantu
calon istri. Iya, 'kan?"
"Sembarangan!"
sahut Sotul tidak terima dianggap sedang magang menjadi menantu orang tua Duma.
"Ini
semata-mata demi kebaikan kamu. Gak lebih."
"Maksudnya
apa?"
"Biar
kamu gak kehilangan aku. Kamu lupa ya sama kata orang-orang tua dulu, yang
bilang kalau anak gadis nyapunya gak bersih ntar dapat suami bewokan? Itu
berarti kamu akan gagal bersuamikan aku. Karena aku susah bewokan."
Duma
memperhatikan wajah Sotul dengan seksama. Wajah yang bersih mulus, hanya
terlihat beberapa helai bulu, dan itu pun bulu hidung.
"Kalau
gak ingin kehilangan aku, maka menyapulah dengan bersih." kata Sotul
memperingatkan.
Mendengar
itu, Duma langsung menyingsingkan lengan baju, melepas sandal dan
melemparkannya ke tepi halaman, kemudian meneruskan pekerjaannya dengan lebih
bersemangat.
Guguran
daun mangga dan jambu air disapu dan dikumpulkan dalam bak sampah. Lima menit
kemudian, halaman rumahnya sudah bersih seperti lapangan golf.
Sotul
tersenyum melihat hasil kerja Duma.
"Nah,
kalau bersih gitu 'kan gak kotor."
"Itu
karena aku gak ingin bersuami, kecuali dengan Abang."
Senyum
Sotul semakin tak terkendali.
"Jalan-jalan
sore, yuk?"
"Kemana?
Ngobrol di rumah aja lah. Ntar ke-gap Tiur lagi kayak kemarin."
"Kali
ini lokasinya dijamin aman!"
"Yakin?"
"Banget!"
"Ya
udah, Duma mandi dulu."
Sotul
memandangi seluruh tubuh Duma beberapa saat.
"Udah
ah gitu aja. Gak usah mandi."
Sotul
mendekatkan wajahnya ke Duma.
"Juga
masih wangi."
Sore
itu Duma terlihat cantik apa adanya. Rambutnya dikuncir kuda. Berbaju kaos
longgar kotak-kotak lengan panjang, dengan bawahan skinny jeans biru tua. Serta
sepasang sandal jepit hello kitty yang tampak imut yang melindungi
telapak kakinya, surga untuk anak-anaknya kelak.
"Yuk,
naik?" pinta Sotul menepuk-nepuk jok boncengan Revo-nya, mempersilakan
Duma mendudukinya.
Duma
segera menaiki si kuda besi merah itu.
"Gak
apa-apa nih kalau gak pakai sabuk
pengaman?"
Sotul
tak mengindahkan pertanyaan itu. Dia mulai mengengkol motornya dan menjalankan
dengan kecepatan yang sedang-sedang basah. Kira-kira dua kilometer kemudian,
malah semakin memelan. Lalu berhenti.
"Sayang,
tunggu di sini bentar, ya?" kata pria yang baru potong rambut itu sambil
menepikan motornya di pinggir jalan.
"Abang
mau ngapain?"
"Beli
bunga." jawab Sotul menunjuk seorang Ibu tua penjual bunga di seberang
jalan. Duma mengangguk.
Sementara
Sotul pergi membeli bunga, Duma menunggu di atas motor sambil senyum-senyum
bahagia. Ternyata selain romantis, Sotul juga perhatian banget. Bahkan mau
memperhatikan pedagang kecil tepi jalan. Membelikan bunga untuknya dari sana,
bukan dari toko-toko bunga yang mewah.
Sambil
terus tersenyum-senyum, Duma merapikan rambut di sekitar telinganya, siap-siap
kalau nanti Sotul menyelipkan mawar di sana.
Tak
lama kemudian Sotul kembali ke motor. Tangan kanannya menenteng kresek hitam.
"Loh,
bunganya mana?" tanya Duma.
"Ini."
Sotul membuka dan memperlihatkan isi kresek.
Duma
melongo. Di dalam kresek terlihat ada bermacam-macam bunga.
"Itu
bunga apaan, Bang?"
"Bunga
tujuh rupa, Sayang. Ada anggrek, rafflesia arnoldi, kantil, kamboja, mawar,
melati semuanya indah..."
"Iih,
Duma gak mau!" Duma menutupi telinganya dengan tangan. Mending diselipin
kembang api saja daripada kembang tujuh rupa seperti itu. Serem!
"Eee...
Emang bukan buat kamu, kok."
"Terus?"
"Emm...
Buat kita bawa jalan."
"Emang
kita makannya bunga? Kita 'kan bukan sejenis tuyul, Bang!"
"Bukan
untuk dimakan, Sayang. Udah yuk ah, berangkat!" Sotul kembali mengengkol
Revo-nya.
"Sebenarnya
Duma mau diajak jalan-jalan kemana, sih
ini?"
"Ke
kuburan." jawab Sotul sambil menjalankan motornya.
"Kuburan?"
ulang Duma memastikan.
"Iya.
Nemenin jiarah ke makam Opung. Makanya tadi beli bunga dulu."
"Dasaar!"
"Hahaaa..."
"Malah
ketawa?" Duma mencubiti perut sebelah kanan Sotul.
"Jangan
dicubit, Sayang. Dari rusuk itulah kamu berasal. Dengan mencubitnya, itu
berarti kamu menyakiti dirimu sendiri." gombal Sotul sejadinya.
"Apaan, sih?" sungut Duma.
"Lagian
biar aman 'kan, Sayang, kalau kita mojok di kuburan aja. Sekalian ziarah
kita."
Dari
boncengan Duma terus menyerang perut Sotul dengan cubitan bertubi-tubi.
"Eh,
eh, nyubitnya di rambut aja. Di perut geli tau." Sotul
menggelinjang-gelinjang kayak cacing breakdance.
"Biarin!
Itu tandanya aku cantik dong, Bang?"
"Apa
hubungannya?"
Duma
menghentikan cubitannya. Pelan-pelan dipeluknya Sotul dari belakang, memasukkan
kedua tangannya ke saku jeket Sotul, lalu diletakkan dagunya di bahu Sotul.
Pipinya ditempelkan pada pipi Sotul. Kemudian berbisik lembut.
"Abang
gak pernah dengar, kalau lelaki yang gampang gelian, artinya nanti istrinya
cantik."
"Eh,
iya. Hihii..." hati Sotul berbunga, seakan yang ada di dalam kresek
bertaburan ke hatinya.
"Tapi
masa ke kuburan, sih?" Duma
sepenuhnya belum bisa terima kenyataan.
"Kan
udah dibilang biar aman. Lagian di kuburan juga so sweet kayak film India.
Tempatnya sepi, ada pohon dan banyak bunganya." Duma
tak bergeming.
Motor
terus melaju ke arah timur. Naik ke Hutabarat menuju Siarangarang. Oleh Sotul
kecepatan motornya sedikit diperkencang karena medan di sana memang menanjak.
Semriwingnya angin sore menerpa wajah mereka. Cuaca sore juga terasa semakin
cerah, seperti masa depan yang tiba-tiba Sotul bayangkan ketika kelak hidup
bersama Duma.
"Kuburannya
Opung yang mana, Bang?" tanya Duma sesampainya di gerbang pemakaman.
"Itu
yang ada salibnya."
"Wah
hebat. Berarti seluruh kuburan ini isinya Opung Abang semua!" seru Duma
takjub melihat semua makam terdapat nisan salibnya.
Sotul
tertawa pelan sambil memarkirkan motornya di bawah pohon hariara. Duma
meluaskan pandangannya ke seluruh areal pemakaman. Hening sekali. Sunyi dan
senyap.
"Serem
banget di sini. Pindah aja, yuk? Kita cari kuburan yang ada kafe sama
wifi-nya?"
"Udah,
ah, ayuk gak usah rewel." tegas Sotul, meraih tangan Duma dan digandengnya
memasuki kawasan pemakaman.
Duma
akhirnya pasrah. Tanpa mereka sadari, sedari tadi sudah ada dua pasang mata
yang mengawasi mereka dengan tatapan tidak suka.
--~o0o~--
Next: Episode #25
Comments