#25
Duma mulai tidak bisa
mentolelir sikap Sotul yang tidak pernah menemuinya setiap malam Minggu. Memang
Sotul bisa menggantinya di malam Senin, malam Selasa, malam Jum'at atau bahkan
malam Satu Suro. Tapi Duma tetap tidak puas. Sebab yang dia inginkan adalah
malam Minggu. Hanya malam itu.
"Malam
Minggu nanti temen TK-ku ada yang ultah. Aku diundang. Temenin ya, Bang?"
pinta Duma penuh harap.
Malam
itu masih malam Rabu, besoknya malam Kamis. Masih kurang beberapa hari lagi
untuk malam Minggu, tapi Duma merasa perlu memberitahu Sotul sejak jauh hari.
"Nanti
kalau ketahuan Tiur gimana?"
"Gak
mungkin. Ini temenku sejak jaman balita. Tiur dan Rut gak mungkin
diundang."
"Kenapa sih harus malam Minggu?"
"Karena
dia lahirnya tanggal 13 Agustus, dan tanggal 13 Agustus nanti tepatnya hari
Sabtu malam Minggu. Paham, Bang?" jelas Duma pelan namun penuh penekanan.
Sotul
terdiam menyadari pertanyaan bodohnya. Andai tidak ada kewajiban kumpul bareng
teman teman komunitasnya, dia pasti akan langsung mengiyakan ajakan Duma. Sotul
yang sadar sudah diam-diam menghianati teman-teman, tak ingin menambah rasa
bersalah dengan tidak hadir di tengah-tengah sahabat-sahabatnya ditiap malam
Minggu.
"Kalau
malam Minggu aku gak bisa. Mungkin kamu bakal marah, tapi aku memang
benar-benar gak bisa. Maafin aku."
Jawaban
yang sudah Duma khawatirkan sebelumnya. Tapi meski sudah siap dengan jawaban
itu, Duma tidak bisa menyembunyikan rona kecewa dari wajahnya.
"Pokoknya
malam Minggu nanti kalau gak bisa nemenin, lebih baik kita puu..."
kerongkongan Duma seakan tersumbat biji sesuatu, tak sanggup menuntaskan
kalimatnya. Pikirannya berkecamuk bimbang.
"Puu...
Pulang kampung?" tebak Sotul.
"Dakkoto!"
damprat Duma.
Sikap
Sotul yang masih saja doyan bercanda di saat situasi sedang serius, benar-benar
membuatnya sangat kesal.
Wajah
Sotul tertunduk lunglai. Kalau mau, sebenarnya dia juga bisa kesal seperti
Duma. Kesal dengan Putra kenapa sok-sokan bikin aturan busuk melarang pacaran?
Kesal dengan Duma kenapa tidak terima hanya karena tidak diapelin malam Minggu?
Kesal dengan Tiur kenapa tadi sore sambal jahir kesukaannya dihabisin? Kesal
dengan dirinya sendiri kenapa kesal?
"Bang?"
panggil Duma mengusik kekesalan Sotul.
Sotul
mengangkat wajah, kemudian menarik nafas dalam-dalam. Seekor nyamuk berusia
remaja sedang terbang rendah di depan wajah Sotul, nyaris terhisap ke dalam
mulutnya.
"Kalau
seandainya kita putus, kamu mau gimana?" tanya Duma lirih dan ragu-ragu.
"Aku
mau balikan sama mantan aku."
"Kan!!"
Duma langsung melotot galak.
"Abang
memang gak sayang aku!"
Emosi
Duma yang tadinya mulai stabil, sekarang kembali terobrak-abrik. Duduknya
berputar memunggungi Sotul. Bibirnya beccut. Pipinya gembung.
"Tapi
serius kok aku mau balikan sama mantan aku. Kalau kamu mutusin aku, berarti
mantan aku 'kan kamu. Iya, gak?"
Duma
tak bergeming. Diliriknya Sotul dengan tatapan geram, cowok itu mengangkat alis
dan coba memberikan senyuman terbaiknya. Tapi Duma justru kembali berpaling,
tak tergoda sedikitpun dengan senyum Sotul. Jelek banget!
"Beb...?"
Duma
tak sudi menjawab.
"Bebi?"
"Gak
denger!"
"Oh,
pantesan gak dijawab."
Duma
membalikkan badannya kembali menghadap Sotul. Memandang cowok menyebalkan itu
intens dan cukup lama.
"Sebenarnya
kenapa sih Abang, selalu lebih
mentingin teman-temanmu itu ketimbang aku?"
"Kamu
lebih penting, Sayang. Kamu menempati posisi puncak dari segala prioritasku.
Cuma, memang tiap malam Minggu aku harus berkumpul dengan teman-temanku."
Sotul coba menjelaskan.
"Kenapa
sampai 'harus'?"
"Nanti
kalau kuberitahu alasannya pasti kamu gak percaya?"
"Percaya,
kok. Asal Abang ngomongnya
jujur."
"Komunitasku
punya aturan yang gak ngebolehin personilnya pacaran. Sebagai bukti gak punya
pacar, tiap malam Minggu kami harus ngumpul."
"Gak
percaya!"
"Tuh
'kan gak percaya?"
Duma
bungkam.
"Kenapa sih kalau setiap cewek marah, urat
percayanya selalu putus?"
Duma
semakin merajuk. Lalu meninggalkan Sotul di kursi semen tribun Komplek Stadion
itu.
--~o0o~--
Kegelisahan
Sotul sejak Sabtu sore tadi terbukti, malam ini akhirnya malam Minggu! Entah
kenapa akhir-akhir ini Sotul merasa waktu begitu cepat bergulir. Seingatnya
sepekan lalu sudah malam Minggu, sekarang kok tahu-tahu malam Minggu lagi?
Huft!
Sotul
muak. Itu berarti waktunya kembali berbosan-bosan ria di kamarnya Putra.
"Putra
belum pulang?" tanya Sotul saat baru tiba. Pintu kamar Putra masih
tergembok dan di kursi teras hanya ada Dede dan Lamhot yang berpasangan dengan
bayangan mereka masing-masing.
"Belum."
jawab Dede.
"KuWA juga belum di-read." sahut Lamhot memberi keterangan tambahan.
Sotul
turun dari motor dan menegakkan standar tengah, lalu duduk di jok boncengan.
Untuk beberapa menit ketiganya tak saling bicara seperti orang berseteru. Sotul
diam-diam pura-pura serius mengamati dinding teras yang catnya mulai luntur.
Dia berpikir hunian ini lebih layak disebut panti jomblo, karena setiap malam
Minggu tempat ini menjadi pusat mangkalnya empat pemuda jomblo dari empat
penjuru mata angin.
Dede
bungkam menatap kosong ke arah jemuran tetangga sebelah, apa yang ada dalam
pikirannya hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sementara Lamhot diam memikirkan
kenapa kedua temannya diam.
"Menurut
gue kita musti bikin nama untuk komunitas kita." Dede membuka percakapan.
"Betul!
Kenapa kita gak coba pakai nama-nama warna? Siapa tau bisa bawa hoki. Kayak
Ungu, Cokelat, Hijau Daun?" usul Sotul.
"Patut
dicoba. Lu punya ide?"
"Gimana
kalau 'Kuning Telur'?"
"Itu
gak patut!"
"Kalau
'Ijo Luntur', patut gak?" usul Sotul sekali lagi terinspirasi cat tiang
jemuran.
"Apalagi
itu!"
"Kalau
gak gini aja deh, dari nama-nama
organ tubuh aja. Yang udah ada 'kan Gigi, Mata. Komunitas kita, kita namain
Rukkung! Gimana menurut kelen?"
"Lu
stress menurut gue!" vonis Dede pakai lu-gue.
Sotul
langsung terblok. Setelah itu hening kembali, ketiganya seperti kehilangan
selera bicara. Semuanya sudah serba tak menarik. Garing!
"Kalau
menurutku Tarutung Hiphop sih pas.
Selain mengenalkan jati diri daerah, juga gak menghilangkan identitas
genre-nya. Putra sebagai rapper utama juga perlu kita tekan lagi supaya rimanya
lebih bervariasi dan berpola. Udah gitu, peraturan larangan pacaran itu juga
perlu ditinjau ulang. Kalau perlu sekalian aja dihilangkan." kali ini
Lamhot angkat bicara.
Sotul
dan Dede tampak terkesima dengan usulan Lamhot. Bukan karena usulan nama
komunitasnya yang keren, tapi kalimatnya yang terakhir.
"Untuk
rapper utama, sebenarnya aku udah nemuin orang yang pas, tapi belum sempat
kutawari." lanjut Lamhot.
"Maksudnya
aturan larangan pacaran itu dihapus?" tanya Sotul yang lebih peduli dengan
peninjauan ulang UU larangan pacaran ketimbang persoalan rapper utama. Dia
sudah jijik dengan peraturan kentut itu.
"Iya.
Dihapus aja."
"Bagusnya
emang dihapus. Lagian gak berdampak apa-apa, buktinya komunitas ini gini-gini
aja." Dede menimpali.
Mendengar
respon kedua temannya, Lamhot terlihat tersenyum dan angguk-angguk.
"Siapa
tau dengan punya pacar justru bisa jadi penyemangat. Inspirasi akan
berdatangan. Aku paham kok, kalian diam gak semangat gitu, karena tiap malam
Minggu terpaksa ngumpul ngejomblo gini. Sementara komunitas kita juga gak
menunjukkan perkembangan berarti."
Sotul
semakin terkesima. Lamhot saja, yang notabene seorang jomblo sejati dan tak
terobsesi punya pacar, gerah dengan aturan larangan pacaran itu.
"Tumben-tumbenya
kau kepikiran menghapus aturan larangan pacaran?" Sotul bertanya heran.
"Kalau
larangan pacaran itu udah gak ada, aku 'kan bisa deketin adikmu yang waktu itu
kau bawa ke tempat mie ayam. Bantu comblangin ya, Sotul? Cantik kali. Lesung
pipinya itu, duh..."
Sotul
tergagap.
"Ada
lesung pipinya? Adik Sotul yang mana?" Dede jadi penasaran.
"Katanya
bukan adik kandung, sih. Dia itu
anaknya Tulangnya Mamaknya Opungnya siapaaa gitu katanya."
"Eh,
apa perlu peraturan itu kita hapus sekarang juga? Kalau iya, aku rela keluar
modal nih buat
beli tipe-x!" Sotul buru-buru membelokkan arah pembicaraan dengan
topik garing.
"Gak
bisa gitu. Keputusan tetap ada di mulut Putra. Sebab dialah pucuk pimpinan di
sini." cegah Lamhot.
Sayangnya
Putra belum juga hadir tanpa keterangan yang jelas. Padahal jam sudah mendekati
angka sembilan. Akhirnya suasana kembali hening, mirip kuburan di
kampung-kampung.
"Kayaknya
Putra gak bakal datang. Aku mau pulang aja." kata Lamhot tiba-tiba.
"Aku
juga." sahut Sotul membeo.
Sementara
Dede, begitu mendengar perkataan Lamhot, tanpa ba bi bu langsung menghidupkan
motor dan tancap gas pergi. Selisih 30 detik kemudian, Lamhot juga melakukan
hal yang sama.
Tinggalah
Sotul berdua bersama Revo-nya di tempat itu. Dia mencabut ponsel dari sakunya,
kemudian menelepon Duma mau mengabari bahwa dia akan datang. Sayangnya sudah
tiga kali dihubungi, tak satupun yang Duma jawab. Batin Sotul bertanya-tanya
tapi tetap berusaha berpikir positif. Barangkali Duma sedang pipis atau sedang
sibuk menyapu halaman.
Setelah
10 menit, Sotul kembali mencoba, tapi juga kembali tak membuahkan hasil. Sotul
baru ingat, malam Minggu ini teman TK Duma ulang tahun. Pasti Duma ada di sana,
sedang asyik berpesta, berdisko ria, tertawa-tawa, makan-makan, bahkan mungkin
berkenalan dengan cowok-cowok lain yang lebih ganteng darinya. Sotul gelisah sendiri.
Perasaan cemburu dan curiga mulai merasuki pikirannya. Bahkan dia merasa dunia
ini sudah tak adil, sementara dia sedang kesepian di depan teras, Duma sedang
bergembira ria di tengah pesta.
Dicobanya
tiga kali lagi menghubungi ponsel Duma, tapi lagi-lagi tak satupun yang
direspon. Sotul menyerah! Perasaannya semakin gusar. Di puncak kegusarannya,
dia kirim pesan ucapan selamat untuk Duma:
"Selamat
bersenang-senang!"
--~o0o~--
Next: Episode #26
Comments