#26
Sejak malam itu sampai
seminggu penuh Sotul dan Duma terlibat adu cuek. Dan hingga memasuki hari
ketujuh pagi ini, posisi keduanya masih imbang, belum ada yang menang karena
belum ada yang mau mengalah.
Malam
Minggu lalu, Sotul yang kembali lebih mementingkan komunitas membuat Duma marah
besar. Padahal dia sangat ingin berdua dengan Sotul ke acara ultah temannya.
Kemarahan itu membuat Duma menghukum Sotul dengan cara tidak mengangkat
telepon-teleponnya atau pun membalas pesan-pesannya.
Sementara
Sotul menganggap, malam Minggu itu Duma sama sekali tidak menghargainya.
Telepon-teleponnya tak diindahkan, pesan-pesan WhatsApp-nya juga sampai pagi
ini belum bercentang biru. Padahal Sotul selalu memperhatikan 'terakhir
dilihat'-nya.
Malam
itu Sotul berharap paling tidak paginya, Duma menghubunginya duluan meminta
maaf dan menjelaskan kenapa tak menjawab telepon-teleponnya. Tapi bahkan hingga
hari ini, alih-alih telepon permintaan maaf, sekedar pesan ucapan selamat pagi
saja sudah tidak pernah lagi Duma berikan.
Sotul
sendiri bingung, dia yang mendiamkan atau justru dia yang didiamkan. Satu yang
pasti, dia sudah tidak kuat! Rasa marah yang bercampur dengan rindu akhirnya
menghasilkan gusar gelisah. Puncaknya, Sabtu pagi ini, saat berangkat kuliah,
Sotul berhenti di tepi jalan sepi. Dia ingin menelepon Duma tanpa terganggu
kebisingan jalanan. Dimatikannya mesin motor, lalu sambil duduk di trotoar, dia
memencet nomor Duma. Untungnya tidak terlalu lama Duma mau mengangkat.
"Malam
Minggu kemarin kutelepon berkali-kali kenapa gak angkat?" tanya Sotul
tanpa basa basi.
"Aku
lagi di ulang tahun temen." sahut Duma dingin.
"Oh,
lagi seneng-seneng. Sangkin senengnya sampai lupa aku? Iya? Bahkan berangkatnya
ke sana aja gak pake pamit?" berondong Sotul menghakimi.
"Bukannya
dari beberapa hari lalu udah kukasih tau. Malahan aku ajak kamu juga,
'kan?"
"Aku
'kan udah bilang tiap malam Minggu sama temen."
"Ya
udah. Kamu tiap malam Minggu sama temen, nyanyi-nyanyi, jingkrak-jingkrak,
seneng-seneng. Tiap malam Minggu! Sementara aku, baru sekali mencoba
seneng-seneng, kenapa kamu gak terima?"
"Tapi
aku ngurusin musik, gak seneng-seneng!"
"Oh
ya? Gak seneng kok masih ditekuni?"
"Kok
sekarang kamu jadi berani ngebantah gini,
sih?"
"Aku
capek."
"Kenapa?
Kamu diam-diam punya cowok lain?"
Duma
langsung memutuskan telepon tanpa aba-aba.
"Sempak
berhala!" maki Sotul langsung turun dari motor dan menaiki pitam.
Diteleponnya
kembali Duma, tapi tak diangkat. Diulanginya sekali lagi, yang ada kali ini
justru di-reject. Kemarahan Sotul langsung mengalami peningkatan yang pesat.
Kepalanya menoleh mencari tembok untuk tempat membanting HP melampiaskan
amarahnya. Sayangnya tidak ada tembok di sekitarnya. Padahal aspal terbentang
jelas di depannya, tapi Sotul tidak mau. Yang dia butuhkan hanya tembok. Tidak
bisa diganti dengan yang lain. Kalau dibanting ke aspal takutnya rusak.
Akhirnya,
dengan perasaan jengkel yang tiada tara, Sotul mengengkol Revo-nya,
digeber-gebernya beberapa kali, setelah itu tancap gas dan ngebut penuh emosi
menuju kampus. Biar saja mau tabrakan sama mobil Tamiya tak peduli. Biar!
Sementara
di SMA Santa Maria, Duma tampak sesenggukkan di bangku sudut kelas. Air matanya
merembes membasahi pipi. Hatinya begitu sakit oleh sikap Sotul. Sudah
berhari-hari dicuekin, sekalinya menghubungi hanya untuk dimarah-marahi. Dan
yang paling bikin perih, Sotul tega menuduhnya punya pacar lain.
Duma
membuka tas, mencari tisu, sapu tangan, taplak meja, ban dalam, kanebo atau apa
saja yang bisa dia gunakan untuk menghapus air matanya. Tapi tak ada
barang-barang itu barang selembar pun. Sesaat dia memegang penggaris, tapi
kemudian buru-buru dikembalikan dalam tas. Duma berpikir, segila-gilanya dia
tak mungkin menghapus air mata menggunakan penggaris.
"Ada
apa, Duma?" tanya Tiur yang baru memasuki kelas.
Duma
buru-buru menyeka air matanya dengan kertas sampul buku paket, lalu berusaha
tersenyum.
"Gak
apa-apa."
"Gak
apa-apa kok nangis?"
"Gak
kok. Ini cuma lagi latihan pipis lewat mata aja."
"Gak
usah bohong. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Cerita, siapa tau aku
atau Rut bisa bantu."
Duma
terdiam. Batinnya semakin tertekan. Sejujurnya di situasi seperti ini, dia
butuh Tiur dan Rut untuk berbagi masalahnya. Tapi menceritakan masalahnya yang
satu ini kepada mereka, sama saja bunuh diri.
"Udahlah,
Tiur. Aku ingin lupain masalahku." ucap Duma sambil menghela ingusnya.
"Cerita
dong. Masalahnya apa?"
"Gak
tau. Aku sendiri udah lupa masalahku apa?"
Hening.
--~o0o~--
Next: Episode #27
Comments