#27

  Di jam istirahat, Duma langsung memisahkan diri dari Tiur dan Rut. Biasanya dia ke kantin bersama mereka, namun kali ini dengan langkah tergesa dia mendatangi kelas 3 IPA B, kelasnya Tikko.

"Tikko?" Duma memanggilnya pelan.

Tikko tampak sedikit tidak percaya. Tumben-tumbennya Duma berkunjung ke kelasnya.

"Ada apa, Duma?"

Duma menduduki bangku di sebelah Tikko. Kebetulan di kelas itu cuma tersisa mereka berdua. Yang lain sudah keluar kelas memanfaatkan jam istirahat yang diberikan oleh pemerintah. Tikko yang tadinya juga ingin keluar, tapi melihat Duma sedang membutuhkannya, Tikko rela mengorbankan jam istirahatnya tersebut demi Duma.

"Tikko kau 'kan pernah bilang kalau kau vokalis band. Aku pengen tanya, emangnya bener, ya, kalau anak band itu gak boleh pacaran?"

"Ya bolehlah. Kenapa gak boleh?" Tikko balas bertanya heran.

"Gak apa-apa. Pernah ada yang bilang, katanya demi kesuksesan band, semua personilnya dilarang punya pacar."

"Hahaa ngaco aja! Aku baru dengar ada band yang alirannya kayak gitu. Anak-anak band malah sering dituduh suka gonta ganti pacar, padahal gak semua, contohnya aku." jelas Tikko tersenyum narsis.

Duma balas tersenyum. Dia setuju dengan pendapat Tikko. Anak musisi rata-rata digandrungi cewek-cewek, sehingga banyak yang terjerumus menjadi playboy. Berarti yang Sotul katakan, bahwa komunitasnya melarang personilnya punya pacar pasti cuma alasan fiktif! Biar terbebas dari kewajiban ngapel! Biar bisa bebas nonton bola atau apa! Duma bertambah kesal.

"Tadi udah senyum-senyum, kok sekarang tiba-tiba kesel?" tanya Tikko memperhatikan perubahan wajah Duma.

"Masa sih, Tik? Ya udah aku senyum lagi, nih." Duma memamerkan senyum kebanggaannya di hadapan Tikko.

Tikko tertawa melihat tingkah Duma. Namun sedikit bingung karena didatangi ke kelasnya dengan pertanyaan tidak lazim.

"Nah, gitu dong, senyum. Dari kemarin-kemarin cemberut terus." goda Tiur tiba-tiba dari luar kelas. Dia dan Rut kebetulan lewat habis dari kantin, dan sedang menempuh perjalanan kembali ke kelas. Saat melihat Tikko dan Duma berduaan di kelas yang kosong, dia tidak tahan untuk menggoda mereka.

"Pantesan tadi buru-buru keluar, kirain mau ke kantin duluan." lanjut Tiur.

Duma tampak sedikit kalang kabut.

"Apaan sih, Tiur. Orang aku cuma tanya-tanya masalah band."

"Duma nanya, emang anak band gak boleh pacaran? Kujawab, ya boleh lah. Kalau gak percaya coba aja jadian sama aku. Gitu" sahut Tikko sambil tertawa.

"Iiih, Tikko, nambah-nambahin, deh." Duma menyerang Tikko dengan pukulan-pukulan di pundak.

"Kau emang nanya gitu 'kan tadi?" Tikko menangkap salah satu tangan Duma yang masih memukuli pundaknya, digenggamnya erat, ditatapnya mata Duma lekat-lekat.

"Lepasin, ih." Duma menarik paksa tangannya, lalu menggeser duduknya menjauhi Tikko.

"Ya ela, gak usah pura-pura menjauh gitu kalau sebenarnya butuh. Kalian cocok, kok. Ya gak, Rut?"

Rut cuma tersenyum. Senyum terpaksa.

"Ya udah terusin." kata Tiur sebelum kemudian melanjutkan perjalanan.

Bagaimanapun juga, dia lebih mendukung Duma jadian sama Tikko, supaya Duma bisa melupakan Sotul.


                                  --~o0o~--


Malam harinya.

"Duma, aku udah bareng Rut, nih. Kita ke pasar malam, yuk?" ajak Tiur via telepon. Rut baru saja datang ke rumahnya mengajak ke pasar malam di Sihobuk jalan Sibolga. Dan sekarang gilirannya mengajak Duma.

"Aku lagi gak mood ke mana-mana. Kau nonton aja sama Rut." Duma ternyata tak ingin ikut.

Beberapa saat Tiur terdiam kecewa.

"Kalau kau gak ikut, aku sama Rut juga gak pergi, deh."

"Heiy, jangan gitu dong!"

"Kurang seru kalau gak ada kau."

"Gak apa-apa kok kalian berdua aja yang pergi."

"Apa kau mau malam mingguan sama Tikko? Tadi siang kayaknya makin dekat?"

"Dih, Tiur! Gaaaak! Ngapain juga malam mingguan sama dia? Gak penting banget! Aku lagi di kamar, nih. Sumpah!" akui Duma meyakinkan. Dia terdengar tidak suka kalau Tiur masih saja menyuruhnya jadian sama Tikko.

"Kau gak apa-apa 'kan, Duma?"

"Gak apa-apa. Emang kenapa?"

"Gak apa-apa. Kalau ada apa-apa cerita ke aku?"

"Gak ada apa-apa, kok."

"Beneran gak ada apa-apa, 'kan?"

"Iya, gak ada apa-apa."

"Ya udah kalau gak ada apa-apa. Kalau ada apa-apa, kasih tau kami, ya?" kata Tiur mengakhiri pembicaraan.

"Ada apa, sih, kok gak ada apa-apa gak ada apa-apaan?" Rut bingung.

"Dia gak mau ikut." lapor Tiur.

"Akhir-akhir ini dia memang seperti nyembunyiin sesuatu." Rut menyimpulkan.

Tiur menggeleng. "Entahlah."

"Kalau Duma gak mau, kita pergi berdua aja, gimana?" usul Rut.

Tiur memandang Rut, mempertimbangkan ajakannya barusan. Sudah terbiasa bertiga, bagaimana pun juga tetap kurang seru jika kurang satu.

"Dari pada di rumah boring, 'kan?" desak Rut lagi.



                                  --~o0o~--

Next: Episode #28

Comments