#28
Di atas kasur yang
spreinya bergambar Spongebob Squarepants, Duma gelisah tidak bisa berhenti
memikirkan hubungannya dengan Sotul yang semakin rumit dan runyam. Duma merasa
sekarang Sotul sudah berubah menjadi mahluk egois. Jelas-jelas dia yang
bersalah, tapi merasa tidak bersalah dan malah berbalik menyalahkan.
Andai
saja malam ini Sotul tiba-tiba muncul, melakukan surprise seperti
dulu di masa-masa pedekete, meminta maaf atas marah-marahnya tadi pagi, setelah
itu mengajaknya keluar malam mingguan, lalu...
Huush!
Duma
buru-buru mengusir angan-angan itu dari pikirannya. Mustahil itu terjadi. Malam
ini Sotul pasti lebih mementingkan teman-temannya yang tak seberapa itu. Duma
kembali tak percaya komunitasnya itu punya aturan melarang personilnya punya
pacar. Ya, itu pasti cuma akal-akalan.
Atau...
Tiba-tiba
muncul kecurigaan lain dalam benak Duma, jangan-jangan Sotul tidak ingin
teman-temannya tahu bahwa dia punya pacar? Malu karena pacarnya masih ABG?
Buktinya waktu itu, saat mereka tidak sengaja bertemu dengan salah satu temannya,
Sotul tidak mengakuinya sebagai pacar, hanya dikenalkan sebagai adik.
Duma
mengacak-ngacak sprei dan menendang guling hingga terpental ke lantai
melampiaskan kesalnya. Malam Minggunya terasa semakin hampa. Ada sedikit
penyesalan kenapa tadi menolak ajakan Tiur ke pasar malam.
Ponselnya
berdering. Semula Duma berharap itu dari Sotul, tapi ternyata nama Tikko yang
tertera di layar.
"Tumben
mau angkat?"
"Gak
sengaja kepencet." sahut Duma cuek.
Terdengar
Tikko tertawa.
"Sepi
banget. Lagi di rumah, ya?"
"Iya.
Di rumah. Sepi."
"Di
Sihobuk lagi ramai loh, ada pasar malamnya. Rumah hantunya juga ada. ‘Kan
jarang-jarang pasar malam pake rumah hantu."
"Kalau
maksudnya kau mau ngajak aku ke sana, maaf Tikko, aku gak mau."
Tikko
kehabisan bahan pembicaraan.
"Oh
iya, Duma, tadi siang kau nanya tentang band anti pacaran, 'kan? Tau gak, aku
baru aja menemukan fakta mencengangkan tentang band seperti itu. Aku punya
cerita menarik tentang band anti pacaran."
"Serius
kau? Gimana ceritanya?" Duma langsung antusias.
"Panjang
ceritanya. Ayo deh kita ke kafe, ntar
aku ceritain."
Modus
Tikko kali ini berhasil. Duma langsung menjawab iya. Namun disaat bersamaan
Duma juga langsung terdiam bimbang. Duma merasa sangat bersalah pada Tiur dan
Rut, kedua sahabatnya itu tidak jadi pergi gara-gara tadi Duma tidak mau ikut.
Namun Duma penasaran dengan band anti pacaran yang akan Tikko ceritakan. Selain
itu dia juga sedang suntuk banget di rumah.
"Ya
udah, jemput." akhirnya Duma membulatkan tekadnya.
"Okelasip!"
sahut Tikko riang.
--~o0o~--
Hampir
mirip dengan malam Minggu lalu, Sotul sudah tiba di markas komunitas dalam
kondisi pintu kamar Lamhot masih terkunci dari luar. Bedanya, malam ini di
bangku teras hanya ada Dede.
"Putra
belum datang?" tanya Sotul.
"Lamhot
juga." jawab Dede.
"Gimana
mau maju, ketuanya aja makin gak jelas kayak gini." gerutu Sotul
mengetahui Putra yang lagi-lagi belum muncul, padahal malam Minggu kemarin
sudah tidak muncul sama sekali.
Sotul
duduk berdampingan dengan Dede menunggu rekannya yang lain. Dalam hatinya
berultimatum, jika dalam tempo 2x5 menit ke depan Putra tak muncul juga, dia
akan angkat kaki dari tempat ini.
"Eh,
Sotul, malam Minggu kemarin sepulang dari sini, gue terkejut ketemu Peni di
Excel."
"Terus
kenapa? Maksudnya pamer biar aku iri?"
"Tapi
gue yakin, lu juga pasti bakal lebih terkejut kalau lu tau waktu gue liat dia,
dia lagi sama cowok."
"Ya
elah, De! Di kafe, cewek jalan sama cowok itu lumrah. Harus, ya, aku terkejut?
Gak penting banget!"
"Masalahnya
cowoknya itu Putra, ketua komunitas kita!"
"Hah?"
Sotul kaget.
"Aku
terkejut, De!"
"Bodo
amat!"
"Tapi
kau yakin, gak salah lihat kalo itu Putra?"
"Gak!"
jawab Dede memperlihatkan mimik sungguh-sungguh.
"Dan
mereka jalannya kayak truk gitu. Gandengan."
"Pantes!"
Terjawab
sudah penyebab malam Minggu lalu Putra gak datang.
"Terus
kau cuma terkejut doang? Gak ngelabrak dia atau gimana?"
"Gak
berani. Kalau gue labrak, Putra juga pasti langsung balas melabrak gue. Soalnya
waktu itu gue juga lagi bawa gebetan."
Sekali
lagi Sotul terkejut. Memandang Dede penuh tanya.
"Sorry,
Sotul, gue udah lama ngejar gebetan gue ini. Gitu dia mau, gue mending milih
dikeluarin dari komunitas ketimbang nyia-nyiain dia." ucap Dede dengan
wajah ingin dimengerti.
Percakapan
mereka terhenti, Putra dan Lamhot baru saja tiba pada waktu yang nyaris
bersamaan.
"Masih
di luar?" basa basi Putra yang seratus persen basi banget.
"Terus
menurutmu harus masuk lewat mana? Pipa jamban?" tanya Sotul bengis.
Putra
hanya cengar-cengir sambil buru-buru membukakan gembok. Setelah pintu terbuka,
keempatnya masuk secara tertib dan teratur. Putra langsung mengambil gitar dan
duduk di kursi plastik.
"Tentang
rapper utama, aku sebenarnya udah menemukan talenta muda yang menurutku cocok
mengisi kursi rapper utama kita." kata Lamhot yang baru saja duduk di
bangku kayu. Di sebelahnya, ada Sotul yang duduk ngangkang dengan muka keruh.
"Dimana?"
tanya Putra. dia mulai memainkan gitarnya dengan irama tak beraturan.
"Di
sebelah rumah. Kebetulan dia tetanggaku. Tiap mandi dia ngerap-ngerap dan
kedengeran sampai rumahku. Suaranya bagus. Lagunya juga berat. Eminem.
Ngedangdut dia juga keren. Seluruh keluargaku bahkan menyukainya. Kadang
sebelum dia mandi, aku suka request lagu dulu. Cuma sayangnya dia
masih di bawah kita. Anak SMA." jelas Lamhot panjang lebar.
"Gak
apa-apa. Jangan dilihat dari usianya, tapi lihat dari apa yang mampu dia
lakukan di usia tersebut." sambung Putra super sekali.
"Aku
juga mikirnya gitu. Makanya tadi sore kutawari gabung ke komunitas. Pertamanya sih dia mau banget, tapi pas kuberitahu
soal persyaratan gak boleh pacaran, dia langsung nolak."
Tak
ada yang menanggapinya. Topik anti pacaran sepertinya sedang menjadi hal yang
sensitif di internal komunitas. Semua langsung terdiam begitu pembahasan
menyinggung soal itu. Hanya Putra yang terlihat sok asik terus bermain gitar.
"Put?"
panggil Sotul sedikit keras.
Tanpa
menghentikan permainan gitarnya, Putra menoleh ke arah Sotul.
"Kata
Dede, malam Minggu kemarin kau gandengan sama Peni. Bener?" Sotul mulai
mengintrogasi.
Genjrengan
gitarnya terhenti. Wajahnya terlihat berubah agak kaget. Ditolehnya Dede, tapi
Dede pura-pura serius mengamati cicak di dinding. Putra kembali menatap Sotul,
lalu tersenyum berusaha menguasai diri.
"Dede
salah liat kali, aku waktu itu sama Peni gak gandengan kok, cuma nongkrong.
Ngopi."
"Kami
bertiga boring nungguin kau di sini, kau malah jalan sama
cewek!" serobot Sotul mulai berang.
Hubungannya
dengan Duma sedang bermasalah, juga gara-gara malam Minggu kemarin bela-belain
tidak menemaninya ke pesta ultah demi komunitas ini, tapi sang pentolan justru
enak-enakan menggandeng cewek.
"Kenapa?
Kau cemburu?" tanya Putra santai.
"Najis!" sahut Sotul sengak.
"Jadi,
apa gunanya kesepakatan anti pacaran kita selama ini?"
Putra
menelan ludah.
"Hampir
gak ada gunanya! Soalnya ada di antara kita yang sudah lebih lama mengingkari
kesepakatan itu. Diam-diam dia pacaran sama gadis ABG!"
"Siapa
yang kau maksud?" suara Sotul melunak, perasaannya mulai tak enak.
"Beat
Maker kita! Beat Maker kita itu diam-diam jadian sama anak SMA, teman
adiknya."
Sotul
tergagap, menelan ludah tanpa sengaja. Dia langsung menjadi pusat perhatian
Dede dan Lamhot.
"Itu
beneran?" tanya Lamhot.
"Banget!
Bahkan mungkin sangkin takutnya ketahuan, aku pernah lihat mereka pacarannya di
kuburan." jelas Putra memandang meyakinkan Dede dan Lamhot.
Dede
tertawa dan masih sibuk memperhatikan cicak. Lamhot hanya tersenyum, Lamhot
menduga, cewek SMA yang dimaksud Putra adalah gadis yang bersama Sotul waktu
itu di tempat mie ayam.
"Jadi
kau ngikutin aku?" tanya Sotul dengan muka memerah.
"Diih,
gak banget."
"Terus
ngapain kau juga ada di kuburan?"
"Emm...
Biasa. Nyari inspirasi nomer jitu."
Sotul
melengos. Kalau selama ini Putra sudah tahu dia berpacaran dengan Duma, kenapa
dibiarkan saja, tidak diberhentikan dari komunitas?
"Kok
baru sekarang dibongkar?" Dede ternyata juga heran.
"Kasihan
Sotul. Dia begitu bahagia sama pacar barunya. Sebelum itu dia sering galau
kepikiran Christine, mantannya. Lagian juga gak ngeganggu komunitas rasanya.
Buktinya tiap malam Minggu dia selalu hadir."
Dengan
sedikit emosi Sotul meninju pelan pundak Putra. Putra tertawa puas. Waktu itu
ketika Sotul mau pangkas rambut, Putra curiga melihat Sotul konsen sekali main
HP sambil terus senyum-senyum. Ketika Sotul ke toilet, diam-diam Putra
memeriksa HP Sotul yang sedang dicas dan tidak terkunci. Meskipun seandainya
terkunci, pola kunci HP Sotul mudah ditebak, yakni berpola huruf 'S' seperti
awalan namanya. Tidak kreatif. Dan dari sana, Putra mengetahui rencana jalan
sore-sore Sotul dan Duma. Putra pun melakukan pengintaian mulai mereka menyapu
halaman, beli bunga, hingga mereka ke kuburan.
"Aku
minta maaf sama kalian semua." kata Putra memandangi ketiga temannya bergantian.
"Aku
membuat aturan anti pacaran itu sejujurnya gara-gara Sotul. Kupikir waktu itu
Peni akan lebih memilih Sotul. Visi misiku membuat peraturan itu sebenarnya
untuk menjauhkan Sotul dari Peni. Aku gak mau mereka jadian."
Mendengar
itu ketiga rekannya terperangah. Sotul yang paling parah, tak mengira dirinya
yang menjadi penyebab lahirnya peraturan larangan pacaran itu.
"Jahat
banget lu." kata Dede.
Putra
justru terkekeh.
"Gak
juga. Aku aja yang terlalu cemburu. Padahal Peni gak ada perasaan apa-apa sama
Sotul. Beberapa waktu lalu Peni cerita, yang waktu itu mereka pergi berdua,
sebenarnya Peni ngajak Sotul ke persentasi bisnis MLM-nya."
"Yang
bener? Huahaha..." Dede tertawa.
Sotul
tak bereaksi. Hanya dalam hatinya terus memaki-maki mengetahui semua aibnya
terbongkar.
"Masih
marah ya aku jalan sama Peni?" tanya Putra dengan sebuah senyuman maksa
pada Sotul.
Sotul
balas menyeringai. Dia membentuk lengkung senyum di wajahnya yang
mengindikasikan meremehkan martabat Putra.
"Gak
penting! Aku sudah punya Duma, yang jauh lebih muda dan molek."
"Peni
lebih cantik dan PNS." tantang Putra.
"Duma
punya lesung pipi."
"Peni
juga punya 4, tapi gak ada yang tau."
"Berarti
kita bertiga sama-sama bersalah sama Lamhot, kayaknya cuma dia satu-satunya
yang mematuhi larangan pacaran itu." kata Dede memotong perdebatan norak
Sotul dan Putra.
"Iya,
Hot. Ampuni aku. Sebenernya, cewek yang bersamaku pas kita ketemu di mie ayam
minggu lalu itu pacarku." Sotul sungkem di hadapan Lamhot yang sedari tadi
diam saja. Lamhot diam saja karena memang sadar percakapan ini bukan bagiannya.
"Aku
juga minta maaf. Lagian, biar pun gak ada larangan anti pacaran, belum tentu
juga kau punya pacar." Putra giliran meminta maaf namun dengan sedikit
mengolok.
Lamhot
mengangkat wajahnya, wajah itu kemudian dibuatnya menggeleng.
"Setelah
semua ini, mudah buat kalian minta maaf begitu saja? Gak bisa. Seenggaknya
kalian harus mendapat hukuman."
"Dihukum?
Maksudmu, kami mau didepak dari komunitas?" tanya Putra tak percaya.
"Lamhot,
aku rela dihukum dikutuk jadi ganteng!" Sotul menyahut pasrah.
"Bukan
itu. Hukumannya hari Rabu nanti kalian bertiga harus mau nemenin aku ke
Simorangkir." kata Lamhot tenang.
"Ngapain?"
tanya Putra cepat.
Pertanyaan
yang sama yang juga ingin ditanyakan Dede dan Sotul seandainya mereka tidak
kalah cepat.
"Aku...
Aku mau Martumpol."
"Hah?"
"Serius?"
"Beneran?"
Tanya
ketiga temannya bergantian.
"Wah
bercandanya kelewatan. Gak lucu."
"Sekitar
dua bulan lalu, bapakku ngenalin seorang gadis desa. Dia partonun. Karena
kurasa cocok, gak perlu lama-lama, Rabu besok kami mau Martumpol."
"Ah,
babi lu! Pantesan malam Minggu kemarin lu pangen banget aturan larangan pacaran
dihapus." Dede mendorong lembut kepala Lamhot.
"Sialan!"
"Sempak
drakula!"
Sotul,
Putra dan Dede masih tak terima dan tak menyangka Lamhot akan bertunangan.
Sosok yang selama ini mereka pandang sebelah mata dalam soal percintaan,
tiba-tiba justru mau mendahului mereka jauh di depan kayak Yamaha. Revo-nya
kalah jauh.
Hingga
beberapa menit, Lamhot masih banjir makian dari ketiga rekannya. Dengan
demikian, larangan punya pacar di Tarutung Hiphop secara tidak resmi sudah
tidak berlaku lagi.
"Lagian,
kalau pun aturan itu masih berlaku..." sambung Lamhot. "Aku
gak termasuk melanggar, 'kan? Aku 'kan tunangan, bukan pacaran kayak
kalian."
Mereka
berempat kemudian tertawa bersamaan.
--~o0o~--
Next: Episode #29
Comments