#29


  Excel Coffee malam Minggu ini terlihat lebih ramai dibanding malam Minggu yang sudah-sudah. Pasalnya akan ada penampilan salah satu komika dari Medan. Meskipun bukan komika ternama, tapi para penikmat Stand Up Comedy tetap antusias menunggu penampilannya.

Termasuk Tiur dan Rut, mereka sudah setengah jam ada di sana dan tak sabar ingin tertawa. Akhirnya mereka berdua memutuskan pergi ke kafe bukan ke pasar malam.

Tapi mendadak mimik wajah Tiur berubah.

"Benar dugaanmu, Rut, dia menyembunyikan sesuatu dari kita." Tiur mengatakan itu sambil matanya melihat ke arah lain.

"Maksudmu Duma?"

"Iya. Lihat, ternyata dia pergi sama Tikko." Tiur menunjuk ke arah belakang Rut.

Rut menoleh cepat, dia melihat Tikko dan Duma baru saja tiba dan memilih meja nomor 18.

"Kenapa dia harus membohongi kita kayak gini? Kalau dia jujur mau pergi sama Tikko, toh kita bakal mengerti." ucap Tiur lirih. Suaranya terdengar sedih.

"Pasti memang ada rahasia yang dia tidak ingin kita tau." balas Rut juga lirih.

"Dimana-mana yang namanya rahasia ya kayak gitu, Rut." semprot Tiur pelan.

Selisih beberapa meja dari mereka, Tikko dan Duma sedang duduk berhadapan.

"Aku seneng akhirnya bisa jalan samamu." ujar Tikko.

Duma hanya tersenyum tipis.

"Gimana sih ceritanya band anti pacaran itu?"

"Sabar dong, Duma. Ntar pasti aku ceritain, kok."

"Tapi aku penasarannya udah dari tadi."

"Iya, iya. Tapi nonton stand up dulu."

Duma tak menanggapi. Selain sedikit kesal karena Tikko masih menunda-nunda ceritanya, Duma juga sedang membaca pesan dari Sotul.

"Sayang, aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Aku menyesal. Sekarang aku mau ke rumah kamu."

Telat! Jam segini baru mau datang? Kenapa gak sekalian nanti aja pas dini hari? Batin Duma marah. Pesan itu hanya dibacanya.

"Ternyata band anti pacaran kayak yang kau bilang tadi siang beneran ada." kata Tikko segera karena melihat Duma mulai cuek dan lebih mementingkan ponselnya.

"Masih marah ya sama aku?" Sotul kirim pesan lagi. Tapi Duma tetap belum ingin membalas. Perhatiannya sedang tertuju pada Tikko yang mulai bercerita tentang band anti pacaran.

"Aku sendiri hampir gak percaya ada band yang punya prinsip seperti itu." lanjut Tikko.

"Terus tau-nya kalau beneran ada dari mana?"

"Tadi sore, ada tetanggaku anak musisi yang punya komunitas. Dia nawarin aku gabung ke komunitasnya. Tadinya aku mau banget. Aku suka genre-nya. Nama komunitasnya Tarutung Hiphop. Tapi akhirnya aku gak mau. Ya itu tadi, masa ada peraturan personilnya dilarang punya pacar. Terus setiap malam Minggu semua personil wajib ngumpul."

"Namanya Tarutung Hiphop?" Duma ingin memperjelas.

"Iya, Tarutung Hiphop."

Tidak salah lagi, itu adalah komunitasnya Sotul. Berarti yang Sotul katakan padanya jujur, dia tidak bohong.

Disaat yang bersamaan Duma kembali mendapat pesan dari Sotul.

"Mulai malam Minggu ini, aku akan selalu siap malam Mingguin kamu. Peraturan komunitasku yang ngelarang pacaran itu udah dihapus."

"Tikko, kita pulang yuk?" ajak Duma tiba-tiba. Dia gelisah dan merasa bersalah.

"Kenapa? Stand up-nya aja belum mulai." Tikko kaget terheran-heran.

Duma terdiam bingung. Jika dia jujur pada Sotul agar tak usah datang karena dia sedang di kafe bersama Tikko, hanya akan membuat Sotul kembali marah. Bahkan mungkin akan membuatnya semakin yakin dengan tuduhannya tadi pagi. Sementara memaksa mengajak Tikko pulang, Duma juga merasa tak enak hati.

"Aku ngantuk, Bang. Pengen tidur." balas Duma terpaksa berbohong. Duma tidak menemukan ide lain selain itu. Dan dia memutuskan tetap bersama Tikko.

Sotul tak membalas lagi. Mungkin kecewa atau bahkan marah. Dada Duma dipenuhi perasaan bersalah yang membuatnya sesak, juga membuatnya tidak fokus sepanjang pertunjukkan di kafe itu. Saat penonton tertawa, dia ikut tertawa, namun sekedar. Yang lain bertepuk tangan, Duma juga ikut bertepuk tangan. Padahal entah dimana letak lucunya. Pikirannya terus tertuju pada Sotul.

"Kamu beneran mau tidur?" Setengah jam kemudian Sotul mengiriminya pesan lagi.

Duma terlonjak girang. Meskipun telat, tapi itu membuat perasaannya lega. Cepat-cepat Duma membalas pesan lelaki tersayangnya itu.

"Iya, Bang. Ngantuk banget. Besok aja ya kita ketemu. Aku mau ketiduran sekarang juga." balas Duma sambil mengajak bercanda.

"Kamu nanya balik dong aku lagi dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa?"

"Hehee.. Kamu lagi di mana, Bang? Ngapain?"

"Di deket pintu masuk Excel Coffee. Lagi liatin kamu sama cowok lain."

Duma terhentak membaca balasan pesan itu. Jantungnya berdegup tak normal, semakin cepat seakan mau copot. Disusul wajahnya yang langsung pucat begitu menoleh ke arah pintu. Di sana ada Sotul, berdiri terpaku dengan tatapan seperti mata banteng melihat sempak merah yang sengaja dikibar-kibarkan di mukanya.

Di meja lain, Tiur juga kaget saat tanpa sengaja melihat Sotul ada di kafe. Dia melihat Sotul yang sedang saling tatap dengan Duma. Kemudian dilihatnya Sotul berjalan mendatangi tempat duduk Duma dan Tikko. Dari kejauhan itu, Tiur juga menyaksikan mimik Duma yang kaget dengan kehadiran Sotul. Lalu mereka terlihat berbincang dengan gestur yang tak harmonis. Tikko terlihat hanya bengong sambil terduduk.

Setelah itu Sotul tampak buru-buru keluar kafe. Duma berlari mengejarnya dari belakang. Sementara Tikko tampak masih terduduk bingong.

"Sebenarnya ada apa dengan semua ini?" desah Tiur dengan wajah sangat tidak mengerti.

Rut yang juga menyaksikan semuanya hanya mengangkat bahunya. Tidak tahu atau entah tidak mau tahu. Tiur beranjak keluar ingin mengetahui apa gerangan yang sebenarnya terjadi. Disusul oleh Rut. Tikko juga ikut menyusul tak lama kemudian.


                                  --~o0o~--


"Jadi ini penyebabnya aku gak boleh ke rumah kamu? Alasannya ngantuk, pengen tidur, padahal lagi sama cowok lain?" kata Sotul sesampainya di luar kafe.

"Maafin aku." pinta Duma terbata-bata.

"Aku mikir keras antara karir bermusikku dan kamu, tapi kamu malah asik jalan sama cowok lain?" Sotul geleng-geleng kepala.

"Baru sekali ini, Bang."

"Kali ini yang ketahuan, 'kan?"

"Demi Tuhan. Lagi pula aku sama Tikko gak ada apa-apa. Dia udah kuanggap seperti Tulangku sendiri." Duma berusaha menjelaskan semampunya. Sementara Tikko menatapnya bengis.

"Aku udah gak percaya lagi sama kamu!" tepis Sotul dengan nada tinggi sambil menghardik tangan Duma yang sedari tadi berusaha memegangi tangannya. Setelah itu dia beranjak pergi.

"Bang?" Duma berusaha mencegah, tapi Sotul sudah terlanjur marah.

Perasaan Duma semakin tak karuan. Dia melihat Tikko sedang menatapnya dengan mimik tak suka. Tiur dan Rut juga tak bisa berkata apa-apa menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi. Pikiran Duma buntu. Tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada mereka.

"Coba sejak awal kau jujur sudah punya pacar, pasti aku gak akan capek-capek berharap lebih samamu." ucap Tikko sambil berlalu. Hatinya benar-benar rusak karena ternyata selama ini Duma hanya menganggapnya sebagai Tulang.

"Dasar munafik!" kata Tiur kemudian tepat di wajah Duma. Beberapa saat dipandanginya wajah Duma dengan sorot penuh benci, setelah itu pergi tanpa mau menoleh lagi.
Rut yang hanya terdiam tak mau terlibat dengan aksi itu, namun akhirnya juga pergi mengikuti langkah Tiur.

Tinggallah Duma seorang diri. Dia benar-benar terpuruk dan merasa sepi. Dia merasa begitu sengsara, seakan seluruh semesta tengah memusuhinya. Duma tidak kuasa lagi membendung air matanya. Tangisnya pecah. Hiruk pikuk di jalan S.M Raja tak mempengaruhi keinginnannya untuk meneteskan air mata sejadi-jadinya.


                                  --~o0o~--

Next: Episode #30

Comments