#30
Dari malam hingga subuh
menjelang, Sotul sama sekali tidak bisa tidur memikirkan Duma. Pahitnya hidup
benar-benar dia rasakan saat ini. Ternyata, selain meninggalkan rasa sakit yang
mendalam, kebohongan Duma juga memberikan rasa pahit yang sangat lumayan,
seperti kafein, selain pahit, juga membuat Sotul mampu melek semalaman.
Andai
tadi malam masih musimnya menggombal versi 'papa kamu', Sotul pasti sudah
mendatangi Duma.
"Papa
kamu suka kopi, ya? Bilang sama Papa, hati-hati ada sianidanya!"
Sotul
baru bisa tertidur ketika kotek ayam berkumandang saling bersahutan, itu pun
singkat, karena tidurnya yang belum sampai pada tahap REM segera disadarkan
paksa oleh ibunya dijam setengah tujuh. Dalam sepanjang hidup Sotul, itulah
rekor tidur tersingkat yang pernah ditorehkannya.
Tapi
tak mengapa, pikir Sotul. Hari ini hari Minggu, nanti dia bisa balas dendam
tidur siang sampai sebangun-bangunnya. Justru menurutnya, Duma sendiri yang
rugi.
"Gara-gara
tadi malam aku gak tidur, dia jadi gak bisa hadir ke mimpiku. Rasain!"
gumam Sotul tersenyum getir.
Sudah
hampir satu jam Sotul berada di teras. Duduk termenung menikmati sinar mentari
yang masih hangat mengandung vitamin D. Kebetulan teras rumahnya dibangun
menghadap ke arah timur, arah matahari terbit, sehingga kalau pagi saat langit
cerah, cahaya matahari bisa leluasa masuk ke seluruh teras. Sengaja Sotul
menduduki wilayah teras yang terkena sinar matahari penuh. Dadanya terasa
hangat diterpa sinar itu. Lagipula, siapa tahu dengan berjemur seperti itu,
luka di hatinya bisa lebih cepat mengering.
Tidak
hanya soal sakit hati, segalanya tentang Duma kini memenuhi pikiran Sotul
selagi dia berjemur. Mulai dari lesung pipinya, tawanya yang bergigi kelinci,
Duma yang dulu sempat mengiranya pengemis, dompet Duma yang pernah mengecohnya,
momen pengembalian dompet di saat hujan di depan toko Ade Kartika, kejadian
soal rantai motor, jadian diam-diam, kuburan, adu cuek selama seminggu, hingga
pertengkaran hebat kemarin. Dan dari semua kenangan itu, yang paling menakutkan
bagi Sotul saat ini adalah, di pikirannya sudah muncul kebimbangan tentang masa
depan hubungannya dengan Duma. Apakah dilanjutkan atau sebaiknya harus
diakhiri? Dia kecewa berat dipermainkan oleh ABG, yang notabene sudah
selayaknya tidak boleh Sotul letakkan rasa percaya terlalu berlebih.
Tiur
kemudian muncul membawa dua mug kopi luwak hangat. Yang segelas untuk dirinya
sendiri, sementara yang segelas lagi untuk dirinya juga jika nanti yang satunya
habis. Beberapa saat dia memandangi Sotul dengan tatapan kasihan. Rambut
berminyak urakan dengan banyak debu yang menempel, mata memerah kurang tidur,
serta muka yang kusam berminyak akibat tadi malam kalah melawan insomnia.
"Sekarang
tau sendiri, 'kan? Bandel sih dulu
dibilangin." kata Tiur memulai percakapan hangat Minggu pagi mereka.
Sotul
masih mematung. Tak bergerak sedikit pun, apalagi bersuara. Hanya dadanya yang
terlihat kembang kempis yang menandakan bahwa dia masih bernyawa. Sebagai pihak
yang bersalah, Sotul memang memilih untuk diam tak ingin membantah kalimat adik
perempuannya itu.
"Ujung-ujungnya
seperti yang udah aku khawatirkan, Abang putus sama Duma dan sekarang
persahabatanku sama dia juga resmi rusak!"
Sotul
menoleh. Menyaksikan adiknya itu berbicara padanya sambil tangannya menggenggam
mug.
"Yang
penting persaudaraanku sama kau baik-baik aja." Sotul akhirnya bersuara,
meskipun lemah.
Sotul
mengambil kopi tambuan Tiur, lalu menenggaknya perlahan, membiarkan hangatnya
kopi itu mengalir melewati kerongkongannya. Supaya
lengkap, hangat di luar, hangat pula di dalam.
Tiur
menyeruput kopinya. Di benaknya terbayang akan Duma. Dia masih tak mengira
sahabatnya itu tega membohongi dirinya, membohongi Rut dan juga Abangnya,
Sotul. Lebih-lebih tadi malam, sampai bersumpah sedang ada di rumah, katanya
Tikko tidak penting, gak mau keluar, tapi apa? Nyatanya dia pergi berdua dengan
cowok itu. Munafik! Tiur sangat kecewa dan sulit memaafkan itu.
"Ya
udah, Bang, lupain aja Duma. Biarkan Duma hanya jadi temanku aja tanpa harus
ikut-ikutan jadi pacarmu."
Sotul
diam saja. Dia masih bingung harus bersikap apa selanjutnya. Dia sungguh
menyesal karena tidak berpikir panjang. Dia menyesal karena tak menghiraukan
saran adiknya tersebut. Dia tak enak hati karena persahabatan adiknya rusak
karena dirinya.
Sotul
kembali menenggak kopinya. Namun tiba-tiba dia terperangah, seperti baru
menyadari sesuatu.
"Yur,
tolong ambilin HP Abang di tempat tidur."
Tiur
melongos menatap Sotul, mengisyaratkan kalau dia lagi mager alias malas gerak dari posisi enaknya.
"Ambilkan
lah."
Tiur
mau tidak mau akhirnya mau beranjak dari duduknya dengan adegan malas berat.
Pergi menuju kamar Sotul dan kembali beberapa saat kemudian.
"Nih!" katanya sambil menyerahkan
Samsung J7 milik abangnya tersebut. Kemudian kembali duduk ke posisi semula
dengan mengangkat kedua kakinya ke atas atap.
"Aku
sampai lupa ngucapin terima kasih. Ada seorang teman di Facebook, namanya
Christine. Dia yang ngasih tau Abang kalau semalam Duma ada di Excel."
"Christine?
Siapa dia?"
"Gak
tau. Teman Facebook-ku 'kan ada banyak, dari mancanegara juga ada." pamer
Sotul sambil mulai sibuk mengotak-atik ponselnya.
Sementara
Tiur tampak kembali termenung menciptakan lamunannya sendiri sambil menyeruput
sisa kopi terakhirnya di mug. Dia menganggap Christine mungkin teman satu
kampus abangnya di Unita.
"Weh,
dia langsung bales!" ujar Sotul menarik perhatian Tiur kembali padanya.
"Sebenarnya
dia siapa, Bang, kok bisa tau Duma sama Tikko ada di kafe? Kok bisa tau juga
kau sama Duma diam-diam pacaran?"
"Iya,
yah. Kok bisa tau dia?" Sotul terperangah sekali lagi.
"Tanyain
lah. Jangan plonga-plongo aja!" seru Tiur gondok melihat abang semata
wayangnya yang dalam waktu semenit saja sudah terperangah dua kali.
"Dia
gak mau bilang! Ini apaan malah pamitan mau mandi!" kata Sotul.
"Tapi
sedikit info, dia ini dulu rajin komen di statusku, tapi udah lama ngilang.
Tadi malam tiba-tiba dia muncul lagi, itu pun cuma nginboks kasih tau kalau
Duma sedang di kafe sama cowok."
Tiur
bertambah pusing. Dan akhirnya persetan siapa Christine. Toh menurutnya itu
bukan urusannya.
"Ya
udah, sana mandi duluan. Kita ke Gereja barengan." seru Sotul yang mengetahui
kopi adiknya sudah habis duluan.
"Tapi
setrikain dulu baju Gereja Abang, biar Abang manasin si Merah dulu."
"Siap,
Bang!" jawab Tiur tegas sambil berdiri tegak memberi hormat bergaya ala
kapiten yang mempunyai pedang panjang. Lalu masuk ke rumah dengan langkah prok
prok prok.
--~o0o~--
Di
tempat lain, Duma sedang mendatangi rumah Rut. Duma menemuinya karena dia
yakin, Rut akan jadi satu-satunya orang yang bersikap netral atas masalah yang
terjadi saat ini, mengingat Rut memang tidak ada hubungan saudara dengan semua
oknum yang terlibat dalam kejadian semalam. Kepadanya Duma ingin curhat dan
berbagi cerita sepuasnya.
"Rut
ada, Nantulang?" tanya Duma pada mamaknya Rut yang membukakan pintu
untuknya.
"Ada.
Itu di kamarnya. Masuk aja ke sana."
"Makasih,
Nantulang."
Mamaknya
Rut memberi senyuman dan langsung nyelonong ke dapur, sementara Duma segera
menuju kamar Rut yang pintunya dalam kondisi setengah terbuka. Duma nyelonong
saja masuk tanpa memberi isyarat maupun salam. Namun dia tidak menemukan Rut
ada di sana. Hanya pemandangan sprei acak-acakan, selimut yang belum terlipat,
bercak basah di bantal yang menyerupai peta Kalimantan, serta guling yang
terbujur kaku tak berdaya di lantai yang dia dapati. Pertanda kalau kamar itu
belum lama digunakan oleh pemiliknya.
"Itu
bekas ngences atau...?" Duma membatin.
Selain
guling, berbagai barang lain seperti kaleng minuman, plastik makanan ringan,
tisu seken, buku-buku, cas-casan, kutang berenda, celana dalam bernoda dan sebagainya
berserakan di lantai, membuat kamar Rut terlihat berantakan mirip Hiroshima
baru dihadiahi nuklir.
Sejenak
Duma melirik genangan ences Rut yang mulai mengering. Duma bergidik, berpikir
bahwa benar beberapa rahasia cewek memang kerap terungkap lewat kamar tidurnya.
Rut yang pendiam itu, ternyata tidak begiti rajin menata kamar dan kalau tidur
masih suka ngences.
"Kemana
Rut?" gumam Duma bertanya-tanya, kepalanya melongok ke kolong tempat
tidur. Tapi Rut tak ada di bawah sana.
Sementara
di sudut kamar, di atas meja belajar, laptop Rut dibiarkan menyala. Duma
mendekat ke sana. Layar monitor menampilkan jejaring sosial Facebook yang
sedang terbuka. Di sudut kanan bawah, ada ditampilkan Rut sedang chat dengan
seseorang.
"Terima
kasih, ya, tadi malam karena kamu, aku jadi tau siapa Duma sebenarnya."
"Heheee..
Gak perlu berterima kasih, Bang."
"Kamu
sebenarnya siapa, sih?"
"Bentar
lagi chat-nya ya, Bang. Aku mau mandi. Jangan ngintip, hehee..."
Jantung
Duma berdegup kencang. Tangannya gemetar. Mukanya panas. Awalnya tadi Duma
hanya iseng ingin baca-baca saja, tapi sekarang dia ingin tahu lebih banyak.
Tidak
salah lagi, lawan chating Rut adalah Sotul Pardamean Nainggolan,
kekasihnya yang mungkin akan jadi mantannya tersebut. Dan yang lebih
mengagetkan lagi, ini bukan akun Facebook Rut yang Duma tahu selama ini.
"Duma?"
Duma
tersentak. Rut yang baru selesai dari kamar mandi tahu-tahu sudah berdiri di
belakangnya dengan tatapan sinis. Rut berkacak pinggang.
"Ya,
Christine?" sahut Duma sarkas.
"Gak
sopan banget sih kau, sembarangan
masuk kamar orang lain!" Rut mendekat lalu merebut mouse dari
tangan Duma, buru-buru mematikan laptop.
Duma
menggeleng lemah.
"Orang
lain? Maaf. Kupikir selama ini kita sahabatan, ternyata aku salah!"
Rut
terdiam.
"Benar-benar
pendiam kali kau, ya? Sampai-sampai merebut pacar temen sendiri pun
diam-diam."
Rut
mendongak. Dia tidak suka dengan kalimat Duma barusan.
"Siapa
yang rebut? Aku mana tau kalau kalian pacaran!"
"Tapi
buktinya kau tau!"
"Aku
taunya baru kemarin."
"Terus,
kenapa masih mengganggu?" Duma terus menyudutkan.
"Oke,
kalau kau gak suka dibilang perebut, kuganti sebutan itu dengan perusak!"
"Duma!"
sentak Rut menatap Duma garang.
"Kau
jangan hanya nyalahin aku! Apa kau gak mikir, kalau tindakanmu mengkhianati
Bang Sotul juga sebuah kesalahan?"
"Aku
gak pernah mengkhianati dia!"
"Gak
mengkhianati gimana? Kau deket-deket sama Tikko, malahan tadi malam diam-diam
jalan sama dia."
Duma
menarik napas panjang. "Itu
urusanku, Rut!"
"Kau bilang apa?
Urusanmu?" Rut menggeleng-geleng, mengisyaratkan kalau dia sama sekali tidak
menyangka.
"Urusan
itu udah jadi urusanku juga. Karena aku gak suka ada yang membohongi Bang
Sotul. Dia itu orang baik. Meski aneh tapi dia baik, Duma. Dia tetanggaku sejak
kecil dan aku lebih dulu kenal dia dari pada mengenal kau."
"Dan
ternyata, sebenarnya kau diam-diam juga suka sama dia, 'kan? Ngaku aja!"
sambung Duma pedas.
Dan
tanpa menunggu kalimat jawaban Rut, dia segera beranjak pulang. Air matanya
muncrat tanpa sempat diketahui Rut.
Comments