#31
Senin paginya, Duma
menyusuri koridor sekolah dengan gontai langkah kurang gairah seperti orang
yang terkena anemia stadium empat. Dan langkah itu semakin menggontai ketika
dia melewati depan kelasnya sendiri. Dari kaca jendela dia mengintip situasi di
dalam kelas. Tampak Tiur dan Rut sedang berbicara serius entah membahas apa.
Duma memasuki kelas dan sedikit ragu-ragu menggabungkan diri dengan mereka.
Mengetahui
kedatangan Duma, Tiur dan Rut serempak menghentikan percakapan mereka. Beberapa
saat keheningan menyelimuti ketiganya.
"Aku
minta maaf." Duma buka suara.
Tiur
menghela napas. Membuang pandangan ke luar kelas. Sementara Rut tak ingin ikut
campur, pura-pura serius membaca kamus bahasa Thailand.
"Tiur?"
panggil Duma pelan.
"Kau
udah sangat ngecewain aku, Duma. Jadi maaf, aku gak bisa begitu aja maafin
kau."
"Iya,
aku maafin." Duma duduk di sebelah Tiur.
"Tapi
kau juga maafin aku, 'kan?"
"GAK
USAH BECANDA! GAK LUCU!!" Tiur spontan membentak Duma keras sekali. Duma
terkejut, tidak menyangka Tiur akan sekasar itu padanya. Duduknya beringsut
menjauh.
"Kau
udah bohongin aku, bohongi Rut. Bang Sotul juga kau permainkan! Dan secara gak
langsung kau juga mempermainkan Tikko. Kau bener-bener jahat, tau gak?"
mata Tiur melotot marah. Duma tertunduk bisu. Rut menatap iba ke arah keduanya.
Dia meremas pelan pundak Tiur. Berharap sahabatnya itu bisa lebih bersabar.
"Dulu
aku udah khawatir, kalau kau jadian sama Bang Sotul, terus di saat hubungan
kalian berakhir, akan mengakhiri juga persahabatan kita. Sekarang terbukti.
Iya, 'kan? Sekarang terbukti. Gara-gara ulahmu persahabatan kita rusak!"
Duma
sesenggukan. Dia mulai menangis, menatap Tiur berkaca-kaca.
"Tapi
hubunganku sama Bang Sotul belum berakhir."
"Tapi
akan segera berakhir! Aku gak sudi Bang Sotul punya pacar pembohong kayak kau!
Aku gak tega kau perlakukan dia kayak mantan-mantanmu!" sela Tiur, masih
dengan nada keras yang sama.
"Aku
gak bermaksud kayak gitu."
"Arrrgh
bodo! Muak aku sekarang lihat kau! Kupikir kau akan memperlakukan Bang Sotul
beda karena dia Abangku, ternyata sama aja!" Tiur berdiri dan bergegas
keluar kelas.
Rut
juga hendak berdiri berniat menyusul Tiur, tapi niatnya tertahan melihat air mata
Duma mulai menetes satu persatu.
"Aku
gak tau harus gimana, Duma." ucapnya serak, dipegangnya pundak Duma.
Duma
menggerakkan badan, berusaha menepis tangan Rut yang ada di pundaknya.
"Maafin
aku." sambung Rut.
"Ngapain
kau minta maaf sama dia?" teriak Tiur dari ambang pintu. Dia belum terlalu
jauh, sehingga apa yang dikatakan Rut masih terdengar cukup jelas.
Rut
hanya terdiam. Kemudian menyusul Tiur dengan langkah berat.
--~o0o~--
Dering
nada panggilan yang tak henti-hentinya, berubah fungsi menjadi alarm yang
membangunkan Sotul dari tidur siangnya yang kepagian. Karena tidak ada kuliah,
tadi sejak sekitar jam 10-an dia memutuskan untuk tidur. Membayar kekurangan
tidurnya dua hari ini.
Sayangnya
baru saja dia mulai terlelap, kebisingan dering telepon yang terus menerus
berbunyi membuat tidurnya terusik. Dengan rasa kesal bercampur malas Sotul
mengambil ponselnya. Dan sesuai dugaannya, Duma-lah yang meneleponnya dari
seberang sana. Tapi Sotul tak berminat mengangkatnya. dia masih sakit hati.
Dibiarkannya saja berdering sampai capek sendiri.
Lalu
ada pesan WhatsApp, juga dari Duma. Sotul menatap layar androidnya, sudah ada 5
panggilan tidak bertanggung jawab dan 12 pesan WhatsApp yang semuanya dari
Duma.
Sotul
membuka WhatsApp-nya. Bukan untuk membaca apalagi membalas pesan-pesan Duma.
Hanya menulis sebuah story.
"Aku
memang gak pantes bahagia kayak orang-orang. Tapi beginilah aku, biarpun
aku miskin, tapi aku jelek, tapi jangan salah, aku ini bodoh, jadi masuk akal
banget kalau dia giniin aku!" dan biar nuansa galaunya dapet,
Sotul melengkapi tulisan tersebut dengan bubuhan lima butir emoticon mewek.
Terakhir
setelah mengganti foto profilnya dengan foto orang sedang mengiris nadi pake
sisir kutu, Sotul melepas aplikasi WhatsApp dari androidnya. Dia benar-benar
tidak ingin Duma menganggu hidupnya lagi. Dia ingin tenang di alamnya sendiri.
Namun
keinginannya ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Hanya berselang setengah
menit setelah meng-uninstall Whatsapp-nya, ponselnya kembali mengeluarkan
dering. Namun kali ini Sotul melihat bukan Duma yang mengontaknya, melainkan
sebuah nomor baru yang buntutnya cantik, 696969.
"Nomornya
cantik. Pasti mahal. Pasti punya orang kaya. Dan Duma itu anak orang
kaya." ucapnya pada ponselnya.
"Mau
nipu pakai nomor lain? Huh! Males banget! Daripada mengangangkat teleponmu,
mending mengangkat derajat orang tua!" omel Sotul sendiri yang tetap yakin
bahwa nomor itu adalah nomor Duma.
Panggilan
pertama tak ditanggapi, nomor itu kembali melakukan panggilan untuk kedua
kalinya, tapi Sotul tetap tak terkecoh. Hingga dipanggilan ketiga, Sotul sempat
ingin mengangkatnya, mengira itu pasti adalah panggilan dari penjahat penipuan
yang memberi tahu bahwa dia mendapat hadiah 27 juta dari BRI atau semacamnya.
Dia ingin mengangkatnya sekedar iseng mempermainkan sang penipu sebagai pengisi
waktu luangnya. Namun Sotul mengurungkan niatnya. Dia sedang tidak berselera
bercanda.
Setelah
empat kali memanggil dan tak satu pun mendapat jawaban, akhirnya nomor itu
mengirimkan pesan singkat.
"Angkat
telepon aku, plis."
Sotul
hanya membaca isi SMS itu sambil hatinya bergumam.
"Gak
mandiri banget sih ini cewek, masa
ngangkat teleponnya sendiri aja nyuruh-nyuruh orang lain. Dasar manja!"
Setelah
menyeringai jijik sekenanya, Sotul meletakkan androidnya di meja belajar, lalu
kembali melemparkan tubuh kurusnya ke kasur untuk melanjutkan misi
hibernasinya. Dia ingin tidur sepuasnya. Dan saat Sotul baru setengah
memejamkan mata, ponselnya kembali menjerit.
"Kampret
Ostrali!" damprat Sotul buru-buru bangkit dari tidur dan meraih ponsel
pintarnya.
Di
layar masih terlihat nomor yang sama mencoba kembali ingin mendengar suaranya.
Sotul tidak sudi memberikan suara emasnya begitu saja pada orang yang sudah
menyakiti hatinya. Dengan perasaan kesal yang sedikit lagi mencapai klimaks,
Sotul me-reject panggilan itu mentah-mentah. Kemudian mengatur nada dering
ponselnya ke volume terendah biar nanti tidak mengganggu tidurnya lagi.
"Dikecilin
begini, nanti kalau ada temen kampus nelepon terus gak kedengeran, gimana
hayoo?" batin Sotul ragu dengan keputusannya sendiri.
Karena
takut kalau nanti ada yang menghubunginya tapi tidak kedengaran, akhirnya Sotul
tidak jadi mengecilkan volume nada dering, dia hanya mengubah mode ponselnya
menjadi mode 'silent'.
Comments