#32
Di sekolah, beberapa hari
ini Duma berubah menjadi sosok pendiam dan penyendiri. Dia juga sudah tidak
aktif memakan godok-godok di kantin bareng Tiur dan Rut. Jangankan ke kantin
bersama, di kelas saja mereka sudah tidak lagi saling sapa.
Pun
pada saat jam istirahat siang ini, Duma memilih menyepi di belakang
perpustakaan tua. Dia ingin menikmati kegalauannya seorang diri.
Pagi
tadi dia sudah mencoba meng-SMS Sotul lagi-lagi meminta maaf, tapi hingga hari
sudah sesiang ini belum juga ada balasan. Saat ini cuma media SMS yang bisa
Duma andalkan sebagai satu-satunya sarana penyalur permohonan maafnya pada
Sotul.
Setelah
kejadian di kafe, WhatsApp Sotul yang DP-nya sudah bergambar orang mengiris
nadi pakai sisir kutu itu sudah tidak aktif lagi. Semua pesan yang Duma
kirimkan hanya menampilkan ceklis satu tak berwarna.
Duma
sadar dia salah, tapi jika usaha permintaan maafnya sudah tidak ditanggapi, dan
penjelasan-penjelasannya sudah tidak didengar, harus bagaimana lagi selain
bersikap pasrah, terserah, membiarkan dulu semuanya kacau sambil berharap salah
satu dari mereka ada yang bersedia mendengar bahwa kemelut ini murni bukan salahnya
sendiri. Bukan pula salahnya si Murni. Sotul, Tiur dan Rut sedikit banyak ikut
terlibat memberi andil kesalahan dalam kemelut ini.
Terutama
Rut. Bagi Duma, Rut sudah bagaikan gunting dalam selimut, diam-diam mengoyak
lipatan-lipatan selimut dari dalam. Gara-gara itu semalam Duma sampai tidak mau
tidur memakai selimut. Trauma sama gunting!
Kegalauan
Duma yang sedang menyendiri di perpus tua kemudian terusik. Ada suara
langkah-langkah kaki manusia dari arah belakangnya. Duma menoleh ingin tahu
siapa gerangan yang datang, ternyata Tiur dan Rut. Okay, cukup tau. Duma tak
berniat menyapa mereka, malah buru-buru membalikkan wajah ke arah semula.
Tapi
Duma tak menyangka Tiur justru duduk di samping kirinya, disusul Rut di sebelah
kanannya. Diapit oleh dua orang yang sedang memusuhinya itu, muncul perasaan
tak nyaman dalam diri Duma. Dia hendak berdiri dan berimigrasi ke tempat yang
lebih menyendiri, namun dicegah oleh pihak imigrasi.
"Jangan
pergi, Duma." cegah Tiur menahan pundak Duma. Itu membuat tubuh Duma
kembali terduduk.
"Aku
mau kalian apain?" Duma yang tadinya sempat seperempat berdiri bertanya
canggung.
"Aku
mau minta maaf. Sekarang aku udah ngerti dan menyadari semuanya." sahut
Tiur pelan.
Merasa
nyawanya tak terancam, perlahan Duma mengembalikan posisi duduknya ke posisi
lebih nyaman.
"Aku
minta maaf karena pernah menghalang-halangi hubungan kalian."
Dalam
hati Duma sedikit terkejut mendengar perkataan Tiur barusan, tapi dia berusaha
terlihat tenang-tenang saja.
"Tadinya
aku memang kecewa kali mengetahui kau dan Bang Sotul ternyata tetap jadian
tanpa sepengetahuanku, tapi sekarang aku justru senang. Aku seneng karena meski
aku berusaha ngelarang, kalian justru tetap berusaha jadian. Aku berusaha
menjauhkan, tapi kalian malah semakin dekat. Paling gak itu membuktikan kalau
kalian benar-benar saling cinta." Tiur menelan ludah, mengambil jeda.
Seolah kalimat panjangnya barusan telah membuat tenggorokannya kedap udara.
"Dan,
kuharap kau juga mau memaafkan Rut. Kalau pun dia pernah menggoda Bang Sotul
dengan akun Christine-nya itu, itu karena dia gak tau kalau kalian udah
pacaran." lanjut Tiur.
Duma
menoleh ke Rut. Dia mendapati Rut sedang mendongak ke atas entah memandangi
apa. Mungkin memandangi cicak seperti kebiasaan Dede. Mulutnya terlihat bergerak-gerak,
seperti sedang memilih kata-kata yang tepat untuk diutarakan.
"Waktu
kau marah-marah di Facebook dan ngaku-ngaku pacarnya Bang Sotul, aku sempat gak
percaya. Ketidak-percayaanku mulai pudar sejak kita akan ngerjain PR bahasa
Inggris, terus kau gak datang dengan alasan jam 4 ada acara keluarga, dan di
jam yang sama ternyata Bang Sotul juga pergi. Karena curiga, aku sampai
membuntuti kalian, bahkan sampai ke kuburan. Setelah melihat kau dan Bang Sotul
berduaan di kuburan, disitu aku baru percaya kalau kalian memang diam-diam
pacaran. Sejak itu aku gak pernah mengganggu Bang Sotul lagi. Aku juga tutup
mulut gak ngasih tau Tiur soal ini. Aku biarin kau dan Bang Sotul
bahagia."
Untuk
beberapa saat Rut terdiam memandangi cicak, sebelum kemudian menoleh ke arah
Duma, yang ternyata juga sedang menatapnya berkaca-kaca. Rut memaksakan seulas
senyum tersungging di bibirnya.
"Tapi
aku kecewa ngeliat kau beberapa hari ini seperti deket-deket dengan Tikko.
Bahkan kecewa kali saat malam Minggu kemarin, kau bilang pengen di rumah,
nyatanya kau malah jalan sama Tikko. Makanya aku lapor ke Bang Sotul pakai akun
Christine. Maafin aku, Duma." Rut tertunduk, tapi raut lega tampak di
wajahnya setelah mengungkapkan unek-unek itu.
"Tapi
bener kok, waktu Tiur nelepon, aku memang masih di rumah dan gak niat
kemana-mana. Kemudian Tikko juga nelepon ngajak ngafe. Tadinya aku juga gak
mau. Terus Tikko bilang mau cerita tentang band anti pacaran. Karena aku lagi
butuh informasi soal itu, akhirnya aku mau. Tapi beneran, aku sama dia gak
punya hubungan apa-apa. Aku ke dia juga gak punya perasaan apa-apa. Dia udah
kuanggap seperti Tulangku, entah kalau dia mengganggapku bere." sahut Duma
menjelaskan sejujur-jujurnya.
"Iya,
Tulang Tikko tadi juga bilang gitu." kata Tiur manggut-manggut.
Sebelum
menemui Duma pagi ini, sejak tadi malam Tiur memang sudah menghubungi dan
menemui pihak-pihak yang terkait dalam kasus ini. Tiur ingin semuanya menjadi
jelas. Dia merunut semua kronologi berdasarkan kesaksian-kesaksian dari mereka
yang terlibat. Berbicara dari hati ke hati dengan Sotul, meminta keterangan
Tikko, ditambah pengakuan Rut tadi pagi bahwa akun Christine itu adalah dia,
membuat Tiur sadar bahwa akar dari konflik ini hanyalah persoalan sepele, yang
akhirnya menjadi drama yang lebay kayak cerita dalam novel-novel yang membuat
pembaca tidak ngeh.
"Aku
gak berniat mengkhianati Bang Sotul, aku hanya sebel seperti gak diperhatiin.
Tiap malam Minggu selalu mentingin musiknya. Tadinya aku gak percaya dia
melakukan itu karena komunitasnya memang melarang personilnya punya pacar.
Kayaknya gak masuk akal aja. Aku baru percaya setelah dengar cerita dari Tikko.
Sayangnya saat aku menyadari kesalahanku, Bang Sotul sudah terlanjur marah dan
gak mau memaafkanku lagi." lanjut Duma dengan nada yang lebih terbuka. Dia
semakin lega tapi juga semakin sedih.
"Iya,
nanti aku kasih penjelasan sama Bang Sotul." kata Tiur menenangkan.
Duma
menatap Tiur terharu.
"Terima
kasih, Tiur."
Senyum
lembut Tiur tersungging di bibirnya. Sekarang dia yakin akan mendukung
sepenuhnya hubungan abangnya dengan sahabatnya itu. Meski kemarin mereka
pacarannya sembunyi-sembunyi, tapi Tiur merasa hubungan itu telah membawa
perubahan positif pada diri mereka masing-masing.
Semenjak
kenal dengan Sotul, Duma memang sudah tidak pernah lagi kegenitan jika melihat
cowok ganteng, tidak lagi putus ganti-putus ganti pacar seperti dulu. Dia
sekarang lebih kalem.
Sementara
Sotul, kehadiran Duma sepertinya juga telah berhasil membuatnya melupakan Christine.
Tiur sudah tidak mendengar lagi abangnya itu curhat-curhatan soal mantannya
itu. Sotul dan Duma cocok dan saling melengkapi. Meski kelihatannya mereka
berdua tahunya hanya tertawa dan bercanda kalau sedang bersama, tapi sepertinya
memang itulah jati diri mereka. Mereka sudah saling dipertemukan dengan belahan
jiwa mereka masing-masing. Sotul untuk Duma dan Duma untuk Sotul.
Dan
sementara Tiur, adiknya, yang merasa bersalah karena pernah menghalangi-halangi
hubungan mereka, berjanji dalam hati akan menebus kesalahannya dengan mengawal
hubungan abangnya dan sahabatnya itu hingga ke jenjang yang lebih serius. Kapan
pun itu!
"Aku
tau kita semua menyayangi Bang Sotul. Dan aku dan Rut juga sayang samamu, Duma.
Kami sedih melihatmu beberapa hari ini sedih. Kami juga sedih melihatmu menyendiri."
ucap Tiur pelan.
"Aku
juga sayang kalian. Sayaaang banget." sahut Duma sedikit terisak.
Dipeluknya
tubuh Tiur beberapa saat, setelah itu diraihnya bahu Rut ke dalam jangkauannya,
dipeluknya juga sahabatnya itu.
"Rut
maafin aku." tangis Duma pecah dalam pelukan Rut. Dia merasa telah melukai
Rut. Walaupun sebenarnya tidak ada hubungan lebih dari teman antara Rut dan
Sotul, tapi tetap ada rasa bersalah dalam hati Duma, dia merasa telah merebut
Sotul dari Rut yang sudah lebih dulu mengenal Sotul bahkan sejak kecil.
"Gak
apa-apa, Duma. Bang Sotul sangat menyayangimu." Rut membalas rangkulan
Duma dengan lebih erat. Diusap-usapnya punggung Duma. Air mata Duma semakin
deras, membasahi lesung pipinya, juga bahu di baju seragam Rut.
Tiur
menghela napas. Batinnya geli bercampur sebal.
"Huh
dasar lebay kita semua, urusan pacaran kayak gini aja tangis-tangisannya kayak
kena bedah rumah!"
"Hahaaa.."
ketiganya tertawa lepas.
Comments