#33


  Akhirnya setelah Tiur menjelaskan semuanya pada Sotul, Sotul menjadi paham. Paham total. Berkat mediasi Tiur itu pula, Sotul dan Duma bisa kembali baikan.

Seperti sore ini, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari lalu mereka saling beradu jogal, mereka sudah terlihat berduaan jalan-jalan sore menggunakan si Merah mengitari Tanggul dan kota sampai ke Tangsi dengan perasaan lebih senang dan pikiran lebih tenang. Tidak was-was lagi akan kepergok Tiur, Rut ataupun personil-personil Tarutung Hiphop lainnya. Mereka merasa sangat lega.

Setelah puas memboroskan bensin secukupnya, mereka kemudian berhenti di depan Warung Hangat Iren. Sotul memarkirkan si Merah di depan warung itu, lalu mengajak Duma jalan kaki mengelilingi Tanggul mulai dari jembatan Naheong, lanjut ke Tanggul HKI, lanjut ke jembatan kota, lalu kembali ke parkiran si Merah. Duma mengangguk setuju. Duma tak punya alasan untuk menolak ajakan pria kesayangannya itu. Di pikirannya, dia hanya ingin menghabiskan hari itu bersama Sotul. Dia sangat rindu. Dia merasakan nyaman yang berbeda dengan momen berduaannya dengan Sotul kala itu. Duma akan menyetujui ajakan Sotul kemana pun Sotul membawanya. Kecuali ke pelaminan, karena Duma masih SMA.

"Sayang, umur berapa pertama kali kamu memakai bra?" tanya Sotul tanpa menunggu hujan atau badai atau pun petir.

Langkah Duma terhenti. Dipegangnya lengan Sotul supaya ikut berhenti.
"Gak ada pertanyaan lain yang lebih cerdas ya, Bang?"

"Ada, sih. Misalnya, gimana pendapat kamu soal laju perekonomian negara kita di era Jokowi? Atau, apa kamu setuju soal reklamasi yang akan dilanjutkan oleh Anies Baswedan selepas kepemimpinan Basuki Tjahja Purnama? Tapi, aku lagi gak mau tau semua itu. Aku cuma pengennya nanya pertama itu. Hehe, gak bisa jawab, ya?"

"Kelas 2 SMP. Sekitar umur tigabelasan. Kenapa?" jawab Duma tak ikhlas.

Dilepasnya lengan Sotul, lalu melanjutkan langkahnya sendirian. Dia sedikit sensi dengan pertanyaan privasi seperti itu. Sotul menyusul mensejajari langkah Duma.

"Masih ada gak sekarang branya?"

"Masih dong. Kusimpen di brankas. Itu 'kan salah satu benda legendarisnya aku." Duma menjawab asal.

"Coba, deh, nanti sepulang dari sini kamu pakai lagi."

"Buat apa?" Duma menoleh sebentar.

"Kayak gak ada kutang lain aja."

"Ya dicoba aja."

"Kurang kerjaan. Udah kekecilan. Dan pasti udah gak nyaman."

"Sesak, ya?" Sotul memandang Duma mengharapkan penjelasan lebih jelas.

"Ya iyalah, secara yang dibungkusnya 'kan sekarang udah berkembang. Penting ya, Bang, bahas ginian?"

"Berarti sama, dong, kayak Abang waktu malam Minggu kemarin?"

Mata Duma membola.

"Abang malam Minggu kemarin pakai bra? Astaga!"

Sotul mencubit pipi Duma pelan. Ingin sekali dia menciumi pipi itu sangkin gemasnya, tapi diurungkannya, karena itu dianggapnya tidak akan ramah lingkungan.

"Bukan! Maksud Abang, seperti itulah rasanya waktu kemarin Abang lihat kamu jalan sama Tikko. Nyesek!"

"Hahaa... Dasar jelek!" seru Duma meninju lengan Sotul. Tapi disaat yang bersamaan, Sotul sedang menunduk hendak membenahi tali sepatu.
Tak ayal, tinjuan Duma gagal mengenai sasaran, justru mendarat telak pada tulang pipi Sotul.

DEG! Begitu bunyinya.

Cukup bertenaga. Rasanya mungkin tidak seberapa jika tepat mengenai lengan, tapi untuk ukuran tulang pipi yang terlalu tirus, tinjuan itu cukup menyakitkan.

Sotul sampai kaget. Badannya agak oleng. Duma juga kaget. Spontan telapak tangannya menutup mulutnya sendiri dengan wajah begitu bersalah.

"Aduh, Bang. Maaf, Duma gak sengaja."

"Gak sengajanya, kok, pas banget?" sungut Sotul mengusap-usap pipinya.

"Beneran, Bang, gak sengaja. Tadi tujuannya mau mukul lengan kayak biasanya."

"Berarti kayak Abang dong gak sengaja. Gak sengaja tertarik padamu, gak sengaja mengagumi lesung pipimu, gak sengaja terpukau deretan gigi cantikmu, gak sengaja takut waktu kamu gak di dekatku, gak sengaja punya rindu, gak sengaja nyesek waktu lihat kamu sama cowok itu, gak sengaja seneng waktu kamu cubit, dan gak sengaja mencintaimu, Duma."

Duma hanya tersipu malu dicekoki deretan gombalan kampungan seperti itu.
Selepas Sotul memberikan senyum penutup gombal, dia kemudian memangap-mangapkan mulutnya, memastikan tulang pipinya yang kena tinju tadi tidak cidera.

"Sakit ya, Bang?" Duma menyentuh pipi Sotul.

Sotul menggeleng tampan. "Gak, Sayang."

"Serius gak ngerasain sakit? Soalnya tadi lumayan keras, loh."

Sotul memegangi tangan Duma yang sedang menempel di pipinya, diremasnya pelan jari-jarinya, lalu mata Duma ditatapnya lembut.

"Serius, Sayang. Lagian kamu juga aneh, pipi udah kena tinju, masih ditanya apa Abang ngerasain sakit? Jelas aja gak. Karena kalau lagi bareng kamu, Abang gak bisa ngerasin hal lain selain satu hal ini, yakni sayang. Abang sayang sama kamu, Duma. Dan abang sadar sedang merasakannya."

"Arrghh!" pekik Duma. Tangannya yang masih menempel di pipi Sotul berubah bentuk menjadi bentuk akan mencubit.

"Aduduh!" Sotul meringis benar-benar merasa sakit.

"Rasain!"

"Muehehee..." meskipun sedang kesakitan, Sotul tidak bisa menahan tawa melihat wajah Duma yang kesal bercampur malu-malu anjing.

Sotul kemudian membimbing tubuh Duma agar posisinya menghadap ke dirinya. Kedua bahu Duma dipegangnya. Mata Duma ditatapnya dalam-dalam.
"Kita ulangi hubungan kita ini dari awal, ya?"

"Maksudnya Abang mau menyamar lagi jadi pengemis?"

"Ya gak perlu seawal itu juga. Huh!" repet Sotul.

Tangannya yang tadi memegang bahu Duma, ditariknya dan beralih memegang bahu semen yang bertuliskan 'AEK GODANG'.

"Ya dijelasin baik-baik dong, Bang. Jangan marah-marah. Nanti cepet tua, cepet mati."

Benar juga, pikir Sotul. Punya pacar yang lolanya sama kayak dirinya, apa-apa memang sebaiknya dijelaskan sejelas-jelasnya.

"Maksudnya, anggap aja sebelumnya kita gak saling kenal. Sore ini adalah pertemuan pertama kita, dan aku langsung jatuh cinta di pandangan pertama."

"Ah, Abang bisa aja." kata Duma sambil refleks mau mukul lengan Sotul lagi, tapi tak jadi, takut salah sasaran lagi. Akhirnya kepalan tangannya yang sudah menggantung di udara itu diturunkan kembali.

"Hahaa... Bukan, bukan!" Sotul tertawa lagi melihat itu, sambil melambai-lambaikan telapak tangannya di depan Duma.

"Bukan apaan?" tanya Duma tak mengerti.

"Aku bukan bisa aja. Kenalin, namaku Sotul. Sotul Pardamean Nainggolan." Sotul mengulurkan tangan.

Duma langsung tertawa. Begitu pun Sotul. Beberapa saat keduanya tertawa begitu lepas. Terkenang saat pertama kali berkenalan di depan toko Ade Kartika saat hujan deras.

Setelah itu hening. Duma memandangi uluran tangan Sotul, lalu pandangannya perlahan naik ke wajah Sotul dan tanpa sengaja matanya menangkap mata Sotul sedang menatap matanya. Untuk sepersekian detik mata mereka saling pandang, saling menahan senyum, dan tiba-tiba tawa mereka meledak sekali lagi. Lebih keras. Lebih lepas.

"Hahahahaaa..."

Setelah itu tanpa ragu-ragu Duma menyambut uluran tangan Sotul. Digenggamnya lembut.

"Namaku..."

"Udah tau, kok. Kamu Duma. Dumaria Uli Hutapea lengkapnya." potong Sotul.

Duma menunduk. Dia menyembunyikan senyumnya dengan pura-pura memperhatikan baju yang dikenakannya.
"Padahal ini bukan seragam sekolah, gak ada namaku tertulis di sini. Kok Abang tai? Eh, tau?" tanya Duma melambat sambil menatap wajah Sotul yang 10 senti lebih tinggi di atasnya. Tangan kanan mereka masih bersalaman.

"Karena nama kamu sudah tertulis di sini." tangan kiri Sotul menyentuh dadanya sendiri.

"Di hatiku."

Eaaa...


                                  --~o0o~--

Next: Episode #34

Comments