#34
Sepeda
Untuk Duma
"Abang kok hebat banget sih, Bang? Bisa naik motor sambil lepas
tangan gitu?" bisik Duma dari boncengan, tangannya terulur ke depan
meremas lembut telapak tangan kiri Sotul yang berada di atas pahanya.
Sementara
tangan kanan Sotul yang asik menepuk-nepuk pahanya sendiri, langsung terhenti
mendengar pujian pujaan hatinya itu. Dia menoleh. Ditatapnya Duma lekat-lekat.
Bibirnya tersenyum berusaha tetap tegar dan sabar.
"Makasih
banget, Sayang. Tapi bisa gak agak cerdasan dikit aja? Kita 'kan lagi di lampu
merah? Kita lagi berhenti! Kalau lagi diam seperti ini, jangankan melepas tangan,
melepas masa lajang juga bisa." jelas Sotul sambil jarinya menunjuk lampu
lalu lintas di perempatan Hutabaginda yang sedang menyala merah, tapi dengan
wajah tetap memandang ke Duma.
"Tapi
kegantengan Abang kok gak berhenti?" sahut Duma sedikit berteriak karena
suasana perempatan yang ramai. Beberapa saat dia balas memandang Sotul, sebelum
kemudian mendongak ke traffic light.
"Hijau
kok. Coba, deh, lihat
baik-baik."
Sotul
ikut mendongak ke lampu lalu lintas.
"Mer..."
Belum
sempat Sotul menyelesaikan protesnya, dari belakang sudah riuh terdengar suara
klakson dipencet-pencet tak sabar.
"Sumpah
tadi warnanya merah kok. Beneran. Atau aku yang salah lihat, ya?" tanya
Sotul buru-buru menjalankan motor 4 tak-nya, serentak bersama puluhan
pengendara lain mengekor di belakang mereka.
"Jangan
suka nyalahin diri sendiri. Gak baik. Belum tentu 'kan salah lihat. Siapa tahu
cuma buta warna aja." jawab Duma bijak.
Sotul
tak tertarik menanggapi. Dia sedang konsen menyalib sebuah bis Keperawatan
Pemkab yang parkir sembarangan di pinggir jalan.
Sore
itu, Sotul baru saja mengajak Duma jalan-jalan sambil manasin Revo 110cc
kebanggaannya. Seharian ini cuacanya mendung, sehingga Sotul tidak bisa
memanaskan motor dengan cara dijemur kayak biasanya. Cowok ini memang garing
banget. Masa manasin motor dijemur. Memangnya gabah? Bahkan pernah suatu ketika
dia memanaskannya dengan cara disumpah-serapahin sampai motornya panas.
Rata-rata
orang kalau memanaskan motor paling cuma dihidupkan sambil digeber-geber
alakadarnya, tidak sekaligus dibawa jalan seperti itu. Sama juga bohong kalau
begitu caranya.
Mungkin
Sotul berpikirnya mubazir kalau motor dihidupin tapi tidak dijalankan.
Pertalite-nya berkurang sia-sia.
Sayangnya,
saat panas yang Sotul harapkan belum tercapai, laju motornya mendadak
tersendat-sendat seperti kendaraan yang tidak lama lagi akan kehabisan bahan
bakar. Malah dua meter kemudian, mesin motornya benar-benar mati dengan
sendirinya.
Dengan
gesit Sotul menginjak menahan porsnelingnya supaya motornya bisa tetap jalan
walau mesin mati. Dia arahkan ke pinggir jalan supaya kematian motornya tidak
mengganggu ketertiban lalu lintas.
"Kenapa
lagi sih ini?" sungut Sotul
dengan nada gusar. Diengkolnya kick stater berkali-kali, tapi tetap tidak
berhasil membuat Revo merah itu kembali menyala.
"Turun
dulu, Sayang." seru Sotul mengetahui Duma yang masih anteng duduk manis
tanpa dosa di jok belakang.
"Turun
kemana lagi? Aku 'kan udah di bumi, Sayang?" tanya Duma sok merasa makhluk
dari khayangan.
"Turun
berok, Beb. Huft!" repet Sotul sekuat tenaga menahan diri tidak mambanting
motornya ke trotoar.
"Turun
dari motor lah. Memangnya mau sampai kapan nangkring di motor mogok terus? Aku
mau periksa nih kenapa mati."
Duma
menurut turun dari boncengan. Diikuti Sotul beberapa detik kemudian.
Selanjutnya Sotul memeriksa mesin motornya. Dan atas inisiatif sendiri, Duma
ikut-ikutan mengamati sekujur bodi motor Sotul. Siapa tahu bisa membantu
mencari tahu penyebab motor itu mati.
"Mungkin
tutup pentilnya kurang kenceng, Bang."
Ada
hening beberapa saat. Sotul menghela nafas lelah, lalu melirik ke Duma dengan
pandangan genit.
"Menutup
pentil memang sebaiknya jangan kenceng-kenceng, Sayang. Nanti kamu susah
napas." kata Sotul melirik jahil ke dada Duma.
"Pentil
motor, Bang!" seru Duma membekap mata Sotul dengan telapak tangan kirinya
yang biasa dipakai untuk cebok. Walaupun Duma bukan kidal, tapi kalau cebok
memang selalu menggunakan tangan kiri.
"Lagian
kamu aneh. Gak mungkin banget motor mogok gara-gara tutup pentilnya kurang
kenceng. Gak ada sangkut pautnya!" tegas Sotul.
"Terus
ini kenapa, ya?"
Sotul
mengangkat bahu pertanda bahwa dia juga tidak tahu. Tapi kemudian raut wajahnya
berubah, seperti teringat sesuatu.
"Jangan-jangan
gara-gara STNK-nya nih, udah mati.
Bentar aku cek!" Sotul
buru-buru mengambil dompetnya yang terselip di antara perut dan bagian depan
celananya.
"STNK
itu apa, Bang?" Duma ingin tahu.
"STNK
itu Selalu Teringat Nama Kamu."
"Hehee...
masa? Serius dong."
"Surat
Tanda Nomor Kendaraan, Sayang." jelas Sotul sambil membuka dompetnya yang
tebal. Begitu STNK-nya dikeluarkan, dompet itu langsung tepos.
Diamatinya
lembaran STNK itu secara seksama.
"Iya
nih udah mati sebulan."
"Turut
berduka cita, Bang." Duma melongo geleng-geleng.
"Kenapa
gak diperpanjang, sih?"
"STNK-nya
diperpanjang?" Sotul menatap Duma dengan raut muka tak mengerti. Duma
mengangguk lembut.
"Segini
aja udah menuh-menuhin dompet. Gimana kalau diperpanjang lagi? Nanti gak muat
di dompetku."
Duma
nyengir gak penting, mempertontonkan sudut bibirnya yang sedikit bertaring.
"Ya
udah, gak usah diperpanjang. Cukup diisi bensin, aku yakin, motor ini bakalan
nyala lagi." kata Duma sembari mengetuk-ngetuk tangki motor Sotul yang
jelas banget terdengar kopong tak berisi.
"Masa
iya?" Sotul membuka tutup tangki, lalu mengintip ke dalamnya yang
kelihatannya memang hanya berisi udara. Digoncang-digoncangnya sebentar.
Kering. Tidak terdengar bunyi cairan bergejolak sedikit pun.
"Tuh
'kan bensinnya habis." seru Duma bangga kecurigaannya terbukti benar.
"Aku tuh herannya kenapa bensin yang habis.
Padahal kemarin aku isi pertalite. Bukan bensin? Kok an..."
"Udahlah,
Bang. Intinya motor ini kehabisan bahan bakar! Ngalah kenapa, sih!" seru Duma memenggal
penjelasan tak penting Sotul.
Keduanya
membisu. Padahal dalam hati masing-masing sibuk menggurutu dengan suasana tak
menyenangkan itu. Untung ini novel. Andai ini sinetron pasti banyak yang bisa
mendengar suara hati mereka.
"Terus,
gimana ini?" tanya Duma memecah keheningan.
"Gimana
lagi. Mau gak mau kita harus nuntun motor tua ini sampai ketemu penjual
bensin." jawab Sotul lesu.
"Tapi
kayaknya susah nyari bensil eceran di jalan utama begini." lanjut Sotul
semakin lesu.
"Kalau
gak salah di deket terminal ada SPBU. Kita ke sana aja. Gak jauh kok."
"Masa, sih?" Sotul coba
mengingat-ngingat.
"Iya,
Bang. Beneran. Ada kok." Duma meyakinkan.
Sotul
tersenyum lega. Terminal tidak begitu jauh dari posisi mereka saat ini. Itu
artinya dia tidak perlu membeli bensin eceran. Masalahnya Sotul walaupun
ganteng, tapi punya prinsip tak ingin mendekati hal-hal yang berbau narkoba dan
miras. Makanya dia tidak ingin membeli bensin eceran kemasan botol topi miring.
"Nanti
di SPBU, kita bisa tanya ke petugas, penjual bensin terdekat di mana."
sambung Duma.
Senyum
lega di wajah Sotul sirna. Berubah melongo.
Saat
itu, ada sepasang lelaki dan perempuan naik sepeda melintasi mereka. Entah
mereka masih pacaran atau sudah pasutri, Sotul dan Duma tidak tahu dan memang
tidak mau tahu. Yang pasti keduanya terlihat mesra.
Sang
lelaki mendayung santai, menjaga sang perempuan yang duduk menyamping di palang
tengah sepeda. Perempuan yang tampak tenang duduk diapit kedua lengan lelakinya
itu, tersenyum kepada Duma. Duma membalas kecut.
"Harusnya
tadi manasin motornya naik sepeda kayak gitu, biar gak kehabisan bensin kayak
gini." gerutu Duma setelah pengendara sepeda dayung itu menjauh.
Sotul
belum berhenti melongo.
Comments